web analytics
  

Larangan Ibadah di Luar Rumah hingga Adanya Bukber Virtual

Jumat, 1 Mei 2020 13:51 WIB Netizen Cicin Yulianti
Netizen, Larangan Ibadah di Luar Rumah hingga Adanya Bukber Virtual, corona, buka bersama, bukber virtual,

[Ilustrasi] Momen buka bersama. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Marhaban Ya Ramadan atau Ramadan Kareem, dua ucapan yang sering menghampiri telinga kala menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Di momen Ramadan tahun ini, sapaan hangat dan jabatan tangan yang sering dijumpai di masjid tidak bisa terealisasi. Riuh suara lantunan ayat suci Al-qur’an tidak banyak terdengar lagi di beberapa masjid. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lah sebagai alasannya. Masyarakat diminta pemerintah agar melakukan semua kegiatan ibadah di rumah saja termasuk sholat tarawih atau itikaf di masjid.

Larangan beribadah di luar rumah selama Ramadan ini dipertegas dengan dikeluarkannya surat edaran Kemenag Nomor 6 Tahun 2020. Dilansir dari situs resmi Kementrian Agama Republik Indonesia, Menteri Agama Fachrul Razi mengimbau agar masyarakat tidak melakukan ibadah di luar rumah selama Ramadan ini.

"Surat edaran ini sebagai panduan beribadah yang sejalan dengan Syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19," ujar Fachrul dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Surat edaran tersebut mempertegas peniadaan beberapa kegiatan di luar rumah selama Ramadan, salah satunya bukber (buka bersama). Dengan ditiadakannya bukber ini, banyak dilema yang dirasakan beberapa kalangan masyarakat.

Imbas Larangan Bukber

Dilema soal tidak bisa melakukan bukber dirasakan juga oleh salah seorang Mahasiswa Manajemen Produksi Media Universitas Padjadjaran, Salma (21). Sebagai seorang aktivis relawan yang biasa menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-teman, Salma merasakan kesedihan selama bulan Ramadan tahun ini. Momen yang baginya bisa dijadikan sebagai ajang pertemuan dengan teman lama, kini terpaksa tiada. Buka bersama di bulan Ramadan tak lagi masuk ke list agendanya selama bulan penuh berkah ini.

“Sedih enggak bisa kumpul sama teman-teman kampus. Soalnya teman-teman kampus bisa dari mana saja. Ada kenalan organisasi, kenalan jurusan, kenalan kelas TPB, kenalan komunitas atau teman kos,” ujarnya saat diwawancarai lewat sambungan ponsel pada Senin (27/4/2020).

Masih sama dengan yang dirasakan Salma, Arkani Dieni (22) seorang lulusan S1 Jurnalistik Universitas Padjadjaran tahun ini, turut sedih dengan tidak adanya bukber. Arkaeni yang pada masa kuliah banyak mengikuti organisasi kampus mengaku tidak bisa berbuat kebaikan lewat adanya bukber seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia pun biasa mengikuti bukber sekitar 12 kali dalam sebulan Ramadan.

Enggak bisa berbagi secara langsung, karena biasanya lewat bukber kita berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Seperti bukber di panti asuhan, panti jompo atau panti-panti sosial lainnya,” kata dia saat diwawancarai lewat sambungan ponsel pada Selasa (28/4/2020).  

Imbas dari larangan bukber di tempat umum juga dirasakan oleh beberapa kafe maupun restoran. Salah seorang pemilik Kyuu3 Coffee yang berlokasi di Cimahi, Muhammad Fikri Azkia (22) pun mengaku sedih karena tidak bisa menerima pelanggan bukber di kafenya. Kafe yang baru berjalan pada September tahun 2019 tersebut harus lekas tutup.

Berbagai target dan ekspektasinya terhadap penjualan selama Ramadan tahun ini hanya bisa menjadi bayang-bayang semata. Mulai dari memasang target penjualan, produk baru hingga pengembangan tempat tidak bisa terlaksana.

“Pertama saya sedih pasti. Tapi masih sedikit bersyukur kalau konteksnya Kyuu3, jika dibandingkan dengan kafe-kafe yang lain,” ujarnya saat diwawancarai lewat sambungan handphone.

Hikmah di Balik Tidak Adanya Bukber

Salma merasa jika dengan ditiadakannya bukber bersama teman-teman, hal tersebut bukanlah jalan buntu dalam menyambung tali silaturahmi. Banyak hikmah yang dia temukan walaupun hanya berdiam diri di rumah.

Menurutnya menghabiskan waktu sepanjang hari di rumah, bisa mengurangi pekerjaan orang tua. Dalam mengisi hari-harinya selama masa PSBB ini, Salma membantu melayani pelanggan toko milik orang tuanya, di samping harus menyelesaikan hal lain yakni tugas kuliah.

“Manfaatin banyak waktu sama keluarga. Jangan sampai yang jauh dirindukan yang dekat disia-siakan,” tuturnya.

Masih sama dengan Salma, Arkaeni mengaku jika hikmah dari tidak banyak melakukan bukber adalah lebih banyak waktu dengan keluarga.

“Selain bisa lebih fokus beribadah, jadi enggak diganggu-ganggu tuntutan di luar walaupun ketika enggak di rumah aja masih bisa beribadah. Jadi semakin mendekatkan diri kepada Allah dan fokus beribadah bersama keluarga, mulai dari sholat berjamaah atau jadi sama-sama tahu kemampuan adik kita membaca al-quran,” jelasnya.

Bukber Virtual

Walau bukber secara langsung atau tatap muka ditiadakan, namun masih ada solusi lain yaitu dengan melakukan bukber virtual. Tren bukber di tengah pandemi ini sudah banyak dilakukan oleh beberapa selebritis tanah air misalnya Luna Maya dan Revalina S Temat. Sama seperti aktivitas kuliah online atau rapat online, bukber secara virtual ini bisa dilakukan melalui aplikasi Whatsapp, Line, Google Meet atau Zoom.

Begitu juga yang dilakukan Arkani untuk melepas rindu dan bertanya kabar teman-teman. Ia melakukan bukber secara virtual ini lewat video call. “Aku udah pernah sebelumnya, dua hari yang lalu aku update tentang kue lumpur, terus aku kasih caption “untuk bukber online bersama,” ujar Arkani.

***

Cicin Yulianti, Mahasiswa S1 Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers