web analytics
  

Virus Corona Rusak Bisnis Kongkow Bandung

Kamis, 30 April 2020 09:01 WIB Andres Fatubun
Bandung Raya - Bandung, Virus Corona Rusak Bisnis Kongkow Bandung, Virus Corona, Bisnis kuliner di bandung, nongkrong di bandung, kafe di bandung, tempat ngopi di bandung, manglao coffee, #manglaocoffee

Tenni Supardi sedang membuatkan kopi untuk pengunjung kafenya di Manglao Coffee. (@Francisca )

Suatu kali, kafenya pernah dikunjungi anak-anak pramuka dari Korea Selatan, India, dan Myanmar.

CILENGKRANG, AYOBANDUNG.COM -- Sejak pandemi Covid-19, bisnis kuliner yang "menjual" suasana dan tempat untuk diam berlama-lama alias nongkrong terdampak sangat serius. 

Dalam pantauan ayobandung dua minggu terakhir di sekitar Jalan RE Martadinata dan kawasan Dago, kafe-kafe pinggir jalan nyaris tanpa pengunjung. 

Terlihat dari luar, meja dan kursi kosong. Hanya beberapa pramusaji yang sibuk melayani pesanan dari ojek online, sementara lainnya asyik ngobrol dan hilir mudik.

Setelah pemberlakukan PSBB, kondisi semakin memburuk. Sebagain besar kafe menutup operasionalnya dan meliburkan pegawainya. 

Hal tersebut tidak hanya terjadi di jantung kota. 

Tempat kongkow di lereng gunung yang jauh dari pusat keramaian pun terkena imbasnya. Salah satunya Manglao Coffee di daerah Pasir Kunci, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Kafe kecil dengan suasana sangat tenang ini berjarak sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Bandung. Pemilik dan pengelola kafe, Tenni Supardi, mengatakan jumlah kunjungan tamu setianya merosot lebih dari separuhnya. 

"Sejak virus Corona merebak, omzet dari pengunjung turun lebih dari 50 persen. Mungkin mereka khawatir untuk pergi keluar," katanya, Rabu (29/4/2020) 

Dia juga menjelaskan pembatasan jumlah kerumunan sebagai konsekuensi pemberlakukan PSBB semakin membuat kafenya sepi.

Dalam kondisi normal, Manglao Coffe bisa dikunjungi hingga 30-an tamu yang datang dan pergi bergantian. Namun sekarang nyaris tidak ada.

Sebelum virus corona merebak, kafenya pun kerap dikunjungi oleh pelajar untuk melihat proses pembuatan kopi dari dekat. Pernah suatu kali, Manglao Coffe dikunjungi sekelompok anak pramuka dari Korea Selatan, India, dan Myanmar dengan tujuan yang sama. 

"Mereka bilang 'kopi mangalo benar-benar good,'" jelas Tenni

Capture

Penurunan omzet tidak hanya dari jumlah pengunjung, jumlah pesanan kopi kemasan pun ikut menyusut. Meski hanya turun sekitar 20-30 persen, bagi Tenni yang mengandalkan kafe sebagai sumber pendapatannya, penurunan itu terbilang besar.

Untuk mengatasi penurunan omzet itu, ia kini menjual kopi siap saji dalam kemasan botol 250 ml dengan berbagai macam rasa lewat sistem pemesanan.

"Alhamdulillah momennya tepat dengan bulan puasa," katanya.

Tenni menceritakan, salah satu temanya dekatnya sudah memesan 100 botol sebelum puasa dimulai. Ia mengaku bisa mengerjakan pesanan lebih dari 100 botol dalam sehari.

Sumber pendapatan lainnya melalui wisata edukasi kopi. 

Pria lulusan Bahasa Inggris Unpad ini mengatakan memiliki kebun kopi seluas 2 hektare tak jauh dari kafenya. Ia menjelaskan dari pengalaman melayani tamunya di kafe, terlontar banyak pertanyaan dari mana ia mendapatkan kopi dan bagaimana cara mengolahnya. Dari situ terbersit ide, mengapa tidak menceritakan perjalanan segelas kopi dari awal mulnya - dari pohonnya. 

"Sambil jalan-jalan ke kebun, saya juga bisa menyediakan makan siang, kalau berminat bisa kontak ke 085220129967," katanya seraya berpromosi. 

Melalui wisata edukasi kopi, Tenni berkeinginan menularkan pengalaman dan pengetahuannya mengelola kopi dari biji hingga terhidang dalam secangkir gelas kepada pelanggannya. 

Dia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir, agar kafenya bisa ramai lagi. 

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers