web analytics
  

Pesantren Cipasung Tasik, Didirikan Atas Dasar Cinta Ilmu

Selasa, 28 April 2020 13:41 WIB Irpan Wahab Muslim

Pesantren Cipasung. (Ayotasik.com/Irpan)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Warga Tasikmalaya tentu sudah tidak asing mendengar nama Pondok Pesantren Cipasung. Pesantren yang berada di Desa Cipakat Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya ini, didirikan oleh KH Ruhiat pada tahun 1931.

Pada awal pembangunan, jumlah santri hanya sekitar 40 orang. Sebagian santrinya itu ada yang disebut santri kalong, yakni masyarakat sekitar pondok yang ikut mengaji pada malam hari saja dan tidak menetap di pondok.

Dalam mengajarkan ilmu di pesantren KH Ruhiat ngalogat dengan bahasa Sunda. Ia berpandangan, dengan santri yang berbahasa Sunda maka harus digunakan bahasa Sunda. Salah satu keluarga pesantren Cipasung, Heriyadi Ahmad Satari menuturkan, KH Ruhiat merupakan sosok yang cinta terhadap keilmuan. Pada tahun 1935, ia mendirikan madrasah diniyah sebagai wadah pembinaan agama terhadap anak-anak usia muda.

"Jadi sekolah itu menjadi yang pertama didirikan di pondok pesantren Cipasung. Sampai saat ini masih ada dan berjalan sekolahnya," kata Hariyadi, Selasa (28/4/2020).

Pembangunan dan pendirian sekolah terus dilakukan oleh KH Ruhiat. Pada tahun 1937, mendirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin sebagai wadah untuk berlatih pidato, dakwah serta musyawarah. Pembentukan kursus itu, karena banyak santri yang sudah meranjak dewasa dan perkaderan dakwah Islam.

AYO BACA : Bagaimana Hukum Hubungan Intim di Siang Hari Saat Ramadan?

Adapun lembaga pendidikan yang didirikan di Pesantren Cipasung setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1949 didirikan Sekolah Pendidikan Islam (SPI). Pada sekolah ini di samping pendidikan agama diberikan pula pengetahuan umum, lima tahun kemudian, yaitu tahun 1953 sekolah ini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI).

Pada akhir tahun 1953 didirikan pula Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB), dan sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sebagai kelanjutan Madrasah Ibtidaiyyah dan Sekolah Menengah Pertama Islam, pada tahun 1959 didirikan Sekolah Menegah Atas Islam (SMAI).

"Cita-cita beliau untuk mengembangkan pondok pesantren tidak berhenti sampai di situ saja. Akan tetapi beliau mampu pula mendirikan perguruan tinggi Islam pada tanggal 25 September 1965 dengan Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Islam (PTI) Cipasung," ucap Heriyadi.

Pada tahun 1969 didirikan pula Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian pada tahun 1978 berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Pada tahun 1970 didirikan pula Fakultas Ushuludin Cipasung.

Perkembangan Pondok Pesantren Paska Wafatnya KH Ruhiat

AYO BACA : Puasa Saat Pandemi, Aa Gym: Terima Takdir dan Jaga Kekhusyukan Ibadah

Pada tanggal 28 November 1977 M / 17 Dzulhijjah 1397 H, KH Ruhiat wafat. Perjuangan dalam membina umat dan penularkan ilmu kepada masyarakat luas diteruskan putranya KH Ilyas Ruhiat. Pada kepemimpinan KH Ilyas Ruhiat tahun 1982 didirikan Biro Pengembangan dan Pengambdian Masyarakat (BP2M) dengan Akta Notaris nomor 45 tahun 1982. Pada tahun itu pula didirikan Koperasi Pondok Pesantren Cipasung.

Pada tahun 1982 didirikan Fakultas Syariah sebagai pelengkap Fakultas Tarbiyah yang sudah ada sebelumnya. Dan pada perjalanannya ditambahkan pula Fakultas Dakwah serta nama Perguruan Tinggi Islam Cipasung dirubah menjadi Institut Agama Islam Cipasung (IAIC). Pada tahun 1992 didirikan Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Cipasung. Pada tahun 1997 didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung (STTC). Pada tahun 1999 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cipasung.

"Pada tahun 2003 didirikan pula Taman Kanak-kanak Cipasung yang dirubah namanya pada tahun 2018 sebagai Taman kanak Islam Siti Aisyah Cipasung," tambah Hariyadi.

Pada tahun 2007 KH Ilyas wafat dan perjuangan dilanjutkan oleh KH Dudung Abdul Halim sebagai pimpinan Pondok Pesantren Cipasung. Pada tahun 2011 didirikan Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam Cipasung dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Pada tahun itu didirikan pula Sekolah Menengah Kejuruan Islam (SMKI) Cipasung.

Pada awal tahun 2012 KH Dudung Abdul Halim wafat dan perjuangan dilanjutkan oleh KH Abun Bunyamin Ruhiat hingga saat ini. Pada tahun 2012 dibuka Program Studi Manajemen Pendidikan Islam pada Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam Cipasung.

"Kalau total santri yang mondok dan belajar di Cipasung sekitar 2000 santri. Kami akan terus berupaya ikut mengembangkan keilmuan dan menjaga keilmuan Islam," ujar Hariyadi.

AYO BACA : Salat Tarawih Kilat di Indramayu Super Ekspres, Cuma 6 Menit!

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers