web analytics
  

Membandingkan Pengungsi Korea Utara dengan Pengungsi Jerman Timur

Selasa, 28 April 2020 11:40 WIB
Netizen, Membandingkan Pengungsi Korea Utara dengan Pengungsi Jerman Timur, Pengungsi, Korea Utara, Pengungsi, Jerman Timur, perang dingin,

Kaos oblong warna biru dengan tulisan dalam 4 bahasa, Inggris, Rusia, Prancis dan Jerman. (Sjarifuddin Hamid)

AYOBANDUNG.COM -- Checkpoint Charlie dan Tembok Berlin adalah dua nama yang sangat dikenal pada periode Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur (1947-1991 ). Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa Barat membentuk NATO. Uni Soviet serta negara-negara Eropa Timur membangun Pakta Warsawa. Sekalipun mengembangkan kekuatan militer, tetapi perang dingin bernuansa ideologi (demokrasi dan komunis), proganda dan ekonomi (sistem ekonomi liberal/kapitalis dan komunis/sosialis).

Checkpoint Charlie ialah nama untuk pos pemeriksaan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat bagi orang asing yang ingin menyeberang dari Berlin Barat ke Berlin Timur atau balik lagi ke Berlin Barat. Selain pos ini, terdapat pula Checkpoint Alfa, Bravo.

Adapun Tembok Berlin dibangun pada 1961 oleh pemerintah Jerman Timur yang sosialis-komunis. Tembok ini memisahkan Berlin Barat yang dikuasai AS dan sekutunya dengan Jerman Timur hingga Berlin Barat terkepung. Tujuan pembangunannya adalah mencegah pelarian penduduk Jerman Timur ke Berlin Barat.

Ketika saya berkunjung ke Berlin pada 1997, jejak bangunan Charlie masih ada. Yang berminat boleh berfoto dengan latar belakang tumpukan karung dan pos pemeriksaan.

Yang berfoto diapit dua Stars and Stripes. Masing-masing bendera itu dipegang replika tentara Amerika Serikat.

Di dekatnya ada toko suvenir. Saya membeli kaos oblong warna biru gelap yang kualitasnya biasa saja. Kaos ini jadi bermakna karena di bagian belakang ada kalimat yang ditulis dalam bahasa Inggris, Rusia, Prancis dan Jerman.

YOU ARE LEAVING THE AMERICAN SECTOR

VOUS SORTEZ DU SECTEUR AMERICAIN

AYO BACA : Wabah Virus Corona, Bisa Menginspirasi Perang Biologi?

SIE VERLASSEN DEN AMERIKANISCHEN SEKTOR

Kalimat dalam bahasa Rusia tidak bisa ditulis karena menggunakan huruf Sirilik.

Tembok Berlin yang tersisa hanya beberapa belas meter saja, padahal sebelumnya sekitar 115 km. Sepanjang 111,9 km di antaranya membatasi Jerman Timur dengan Berlin Barat. Bagi yang penasaran bisa membeli kartu posnya.

Selain gambar, di kartu pos juga ada serpihan Tembok. Serpihan kecil itu ditutup plastik dan ditempelkan di kartu pos.

Menurut data lima ribu orang berhasil menyeberangi tembok tinggi itu dengan berbagai cara, seperti menggali terowongan. Sejumlah lima ratus orang lainnya gagal melarikan diri dan ditembak.

Seorang pemandu menyatakan, tentara Jerman Timur secara teritorial berhak menembak sebab lokasi Tembok Berlin dibangun kurang setengah meter dari yang seharusnya. Jadi kalaupun seseorang berhasil menyeberang masih boleh ditembak karena masih ada wilayah Jerman Timur di Berlin Barat.

Dibandingkan dengan DMZ Korea

Tembok Berlin kembali dibicarakan ketika muncul analisis, bila pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninggal dunia maka banyak rakyatnya menyeberang ke Korea Selatan. Persis seperti ketika penduduk Jerman Timur mengalir ke Jerman Barat dengan memanjat atau membobol tembok pada 9 November 1989.

AYO BACA : Lewat Twitter, Donald Trump Perintahkan Penghancuran Kapal Perang Iran

Dalam berbagai analisa tentang Korea Utara, perkiraan bakal ada pengungsian selalu ada. Terutama menyangkut kalangan bawah yang menurut analisis itu, umumnya diproduksi di negara-negara Barat, tidak sejahtera.

Mengungsi ke Korea Selatan tidaklah mudah. Terdapat daerah penyangga yang dikenal sebagai Zona Demiliterisasi Korea (DMZ Korea) sepanjang 250 km yang dibangun sejak 27 Juni 1953. Ia membentang dari pantai yang bersisian dengan laut Kuning dengan yang berbatasan dengan laut Jepang. Jaraknya 60 km dari Seoul dan 210 dari Pyongyang. Kedua negara diduga sudah menanam hampir dua juta ranjau berbagai jenis. Ada yang meledak setelah terinjak atau sesudah mendeteksi getaran. Selain itu terdapat puluhan menara pengawas.

Kedua sisi DMZ dipagari berlapis-lapis kawat berduri, di antaranya dialiri listrik bertegangan tinggi. Tambahan lagi daerah yang di antara kedua sisi itu, lebarnya 4 km, menjadi kawasan hutan tak terjamah yang bisa jadi dihuni binatang-binatang liar dan tumbuhan yang rapat.

Dengan demikian bisa dibayangkan DMZ Korea jauh lebih ketat dibandingkan dengan penjagaan yang dilakukan Jerman Timur. Celah yang paling mudah adalah masuk ke desa Panmujom yang menjadi lahan pertemuan serdadu kedua pihak.

Belajar dari Jerman Timur

Jerman Timur mulanya mengizinkan rakyatnya masuk ke Jerman Barat lewat Hongaria dan Cekoslowakia, tetapi pada 9 November 1989 resmi membolehkan Barat melalui Tembok Berlin.

Penduduk Jerman Barat menyambut ribuan pengungsi dengan suka cita tetapi lama-lama kerepotan karena menjadi beban. Tingkat kejahatan juga bertambah.

Setelah reunifikasi, produk-produk industri bekas Jerman Timur tidak sebaik Jerman Barat hingga secara keseluruhan mempengaruhi Produk Domestik Bruto Jerman bersatu.

Korea Selatan kurang lebih akan menghadapi persoalan yang sama bila pengungsi mengalir dari Utara. Meskipun kemungkinan tak sederas seperti saat Tembok Berlin dibobol.

***

Sjarifuddin Hamid, Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYO BACA : Pemuda Purwakarta Ini Rela Jual Tanah Demi Perangi Corona

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers