web analytics
  

Ngabuburit, Covid-19, dan Ramadan di Rumah Saja

Senin, 27 April 2020 09:59 WIB Netizen Ibn Ghifarie

Warga ngabuburit sambil bersepeda saat penutupan Jalan Ir Juanda, Kota Bandung, Minggu (26/4/2020). Penutupan ruas jalan tersebut dimanfaatkan warga untuk ngajuburit ditengah pandemi Covid-19. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYOBANDUNG.COM ramadan di tengah upaya memutus rantai penyebaran pandemi wabah Covid-19 dan kebijakan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi luar biasa dan istimewa.

Dalam melaksanakan puasa selama satu bulan penuh tahun 1441 H ini lebih banyak dilakukan di rumah, mulai dari belajar, bekerja sampai beribadah.

Segala ikhtiar yang dilakukan oleh pemerintah, Majelis Ulama Indonesia, Kementerian Agama, organisasi kemasyarakatan  perlu kita dukung secara bersama-sama dan ikuti aturannya untuk tetap melaksanakan ibadah dan tinggal di rumah agar sehat dan terhindar dari petaka Corona.

Ngabuburit, salah satu aktivitas khas ramadan di Indonesia harus rela dialihkan serangkaian kegiatannya dari dunia nyata ke digital sebagai usaha mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19.

Aktivitas Ngabuburit

Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yakni burit (sore hari) menjelang magrib. Istilah ini merupakan penanda waktu dalam kurun 24 jam. Di antaranya ada isuk-isuk, pagi-pagi; beurang, siang hari; burit, sore hari; dan peuting,  malam. Juga terdapat istilah lain ngabeubeurang yang maknanya 'menunggu siang hari'.

Secara morfologis, ada beberapa istilah dalam bahasa Sunda yang memiliki kesamaan dengan kata ngabuburit. Di antaranya betah = ngabebetah (nyaman), nyeri = nganyenyeri (sakit), deuket = ngadeudeket (dekat).

Kata-kata itu memiliki struktur sebagai berikut (awalan nga + pengulangan suku kata depan pada kata dasar + kata dasar). Contoh: Nga-bu-burit, nga-beu-beurang, nga-nyeu-nyeuri, dan lain-lain.  Ngabuburit biasanya dilakukan dengan kegiatan berjalan-jalan, mencari takjil, mengaji, melakukan kegiatan-kegiatan sosial, mendengarkan tausiah, dan lain sebagainya.

Dalam buku Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) diuraikan ngabuburit merupakan bahasa Sunda, artinya melena-lena, melewatkan waktu di bulan puasa, hingga senja tiba, yakni menjelang azan Magrib, waktu orang berbuka puasa.

Masalahnya sekarang, bagaimana cara ngabuburit, melena-lena, melewatkan sang waktu, dengan tetap mengendalikan perilaku yang baik dan utama, sehingga ibadah puasa kita tetap terjaga, tidak sampai batal.

Mandi-mandi di Cikapundung

Dulu, ketika Bandung belum memiliki instalasi Penjernihan air ledeng, sebagai warga kota masih suka mandi dan mencuci pakaian di Cikapundung. Maklum, Cikapundung zaman baheula airnya masih sejuk, jernih bersih, sejak hulu di kaki gunung Tangkubanparahu, sampai muara di sungai Citarum.

Sebagai kawasan dataran tinggi pegunungan, pada masa lalu warga kota Bandung enggan menggali sumur. Soalnya, orang harus menggali dalam, sebelum air tanah keluar. Jadi selain air Cikapundung, penduduk senang memanfaatkan mata air yang banyak ditemukan di kota Bandung, seperti di Sumur Bandung (pojok Alun-alun sekitar PLN), mata air Ciguriang (Kebonkawung), Pancuran Tujuh (Cikendi Hegarmanah), Pamoyanan, Cipedes, Cigereleng, Tegalega, Pasirkoja, Pasirmalang, Buahbatu, serta lainnya.

Tepian Sungai Cikapundung tempat orang mandi dan mencuci pakaian terletak di Gadog, Tamansari, Bangbayang, Gang Plesiran, Nangkasuni, Babakan Ciamis, Braga, Pangarang, Lengkong, dan sebagainya. Di tepian sungai dekat Babakan Ciamis, kita mengenal Kampung Pangumbahan, tempat orang dan wasserij (tukang cuci) seantero kota membersihkan pakaian.

Tak jauh dari Kampung Pangumbahan itu, sewaktu jembatan Jalan Gereja (kini Jalan Perintis Kemerdekaan) belum ada, maka di bawahnya terdapat sebuah lubuk yang dikenal sebagai Leuwi Pajati.

Ceritanya, setiap bulan puasa, setelah Ashar ramai orang mandi, ngabuburit ka Leuwi Pajati. Selain mandi, lubuk di bawah Viaduck itu, airnya jernih dan banyak iklannya. Mereka yang pandai menyelam, terkadang berhasil menangkap udang kecil, berbagi macam ikan, seperti deleg, beunteur, bogo dan tawes. Lumayan dibawa ke rumah untuk lawuh berbuka puasa.

Segerombolan anak muda, ada yang berjalan menyusuri sungai (ngabaraga) Cikapundung sambil ngurek, mencari belut. Walaupun hasilnya tak begitu banyak seperti menangkap belut di sawah.

Main-main di Lapang dan Taman

Selain Alun-alun, Kota Bandung jaman baheula memiliki sejumlah lahan hijau terbaru, seperti lapang olahraga UNI, Sidolig, Tegalega dan lapang NIAU (Ned. Ind. Athletiek Unie) Gelora Saparua sekarang. Ada empat lapangan hijau yang kini telah tiada: lapangan Habom di Jalan Industri, lapang ATPC tepi kali Citepus dekat Pasar Andir, lapang JCMS dekat Sekolah Rakyat Andir, lapang bola yang terletak di utara rel kereta, yang dibatasi oleh Jalan Rakata, Jalan Sumatera, Jalan Jawa, dan Jalan Sunda.

Pada lahan luas di Utara rel kereta api itu paling sedikit memuat tiga lapang sepak bola, tempat beberapa voetbalclub melakukan latihan dan pertandingan. Tanpa mengenal bulan puasa, beberapa perkumpulan sepak bola yang beranggotakan orang Eropa, seperti Luno, Sparta, Ini, Sidolig, dan Velocitas tetap ramai bertanding di lapang Javastraat (Jalan Jawa).

Menurut catatan, sebelum Kota Bandung memiliki lapang sepak bola yang representatif, lapangan Javastraat pada tahun 1910 sempat digunakan untuk pertandingan kesebelasan Bandoeng Combinat lawan Club Hercules dari Batavia. Di tahun 1911, voetbalclub dari Surabaya main di lapangan itu.

Dari balik pagar bambu yang arang kranjang ratusan warga kota yang lagi ngabuburit bisa ngintip menikmati pertarungan bola dengan gratis. Selain nonton bola, di lapang Javastraat, anak-anak banyak yang ngabuburit dengan main layang-layang, sembari nonton lokomotif Si Gombar menghela rangkaian sneltrein (kereta api cepat) Yogya-Bandung yang tiba senja hari, sesaat sebelum adzan Maghrib, yang berarti mereka yang lagi ngabuburit harus cepat bubar, memburu tajil Candil, kolek dan kurma menanti di rumah.

Ngabuburit, sekadar melewatkan waktu puasa, jaman baheula bisa dilakukan beramai-ramai dengan kawan sekampung di beberapa Park (Taman) seperti Jubileum Park (Taman Sari), Insulinde Park (Taman Lalu Lintas), dan Molukken Park (Taman Maluku). Anak-anak yang lagi puasa, ngabuburit ke Insulinde dan Molukken Park, diantaranya ada yang bawa jaring, ayakan bambu. Karena di kedua taman itu terdapat saluran air dan kolam teratai yang banyak ikannya. Dengan alat yang sederhana itu mereka berhasil menangkap dan mengumpulkan ikan-ikan kecil dari jenis impun.

Mereka yang ngabuburit ke Jubileum Park yang terletak di utara Kebun Bintang, menjelang sore berjalan menyusuri kali Cikapundung yang mengalir dari pintu air di utara Pasar Balubur sampai ke Pieters Park (kini Taman Merdeka). Mereka yang dewasa menyusuri Cikapayang sambil ngurek mencari belut.

Ngabuburit di alam terbuka Kota Bandung baheula tak kurang objek tujuan. Selain Park (Taman) puluhan lahan hijau terbuka yang digolongkan Plantsoen (Kebun Terbuka Umum) dan Plein (lapangan) banyak terdapat di kota ini. Namun anak-anak dulu segan bermain di lapang Gemeente (Balai Kota) dan lapang G.B (Gedung Sate).

Melaju Bahtera Laju

Mereka yang tidak mengenal sejarah Kota Bandung pasti tidak percaya. Bahwa 3.000-4.000 tahun yang lalu, sebagai wilayah Kota Bandung masih terendam air Danau Bandung yang legendaris itu.

Kini sisa-sisa danau tadi hampir tak ditemui lagi. Padahal, sampai akhir tahun 1950-an, warga Kota Bandung masih bisa berlaju-laju naik perahu di Situ Aksan yang sisa Danau Bandung. Di Bandung Utara, masih kita dapati Situ Bunjali (Empang Cipagati) milik Haji Sobandi. Dalam Situ (Empang) tadi orang bisa menyewa perahu Salimar, ngabuburit sampai sore.

Sebagai objek wisata, Situ Aksan dan Situ Bunjali bisa dijangkau oleh para tamu hotel Homann dan Preanger, dengan menggunakan kereta kuda, delman, taksi Peugeot, sedan merk Peugeot dengan ongkos transport yang tidak kelewat mahal. Menggunakan angkutan umum ini juga, para pelancong di pusat kota dapat mengunjungi pemandian Cihampelas di Bandung Utara.

Objek ngabuburit yang selalu menjadi perhatian anak-anak di Bandung dari masa ke masa adalah stasion kereta api Bandung. Bentuk dan gemuruh suara lokomotif yang mendengus, menghembuskan uap, api dan asap betul-betul merupakan pesona yang fantastis bagi anak-anak.

Namun reportnya kehadiran ratusan anak-anak yang lagi ngabuburit di emplasemen dan jalur langsiran, sungguh merepotkan petugas, khususnya para juru langsir.

Seringkali, anak-anak yang sedang ngabuburit jatuh terlena ketiduran dalam gerbong. Sialnya, terkadang mereka terbawa langsir sampai ke luar kota, seperti yang terjadi di tahun 1935. Ayah penulis (Haryoto) kala itu menjadi kepala stadion di Cimahi. Beberapa anak kecil asal Ciroyom terbawa langsir sampai Cimahi. Terpaksa malam itu, ibu penulis (Haryoto) memberi makan dan pemondokan kepada bocah-bocah cilik ini yang selalu menangis penuh ketakutan.

Kelangenan Tempo Doeloe

Pusat utama ngabuburit jaman baheula berkisar sekitar Alun-alun Bandung. Selama masa liburan sekolah di bulan puasa itu, beberapa bioskop di Alun-alun seperti Varia, Radio City, Oriental, dan Elita khusus memutar film anak-anak.

Acara film matinee (pertunjukan siang) buat kindeervoorstelling di bioskop Varia, setiap hari selalu berjubel dipadati penonton. Bukan cuma anak-anak kecil yang ikut menonton sambil mengantar adik atawa ponakannya.

Buat sementara orang, khususnya para pengantar, kindeervoorstelling dapat membawa berkah. Antara para pengantar bisa terjadi perkenalan, yang dilanjutkan dengan kencan.

Orang bilang Bandung tempo doeloe banyak kamonesan yang menarik hati. Udaranya yang masih sejuk, nyaman dan segar dengan suasana kota yang selalu aman tentram, membuat warga kota yang puasa lupa akan haus dan dahaga.

Zaman sekarang, menunggu waktu berbuka puasa tidak kekurangan acara. Duduk di depan layar TV tinggal pilih saluran yang disukai. Begitu asyik terlena, tiba-tiba muncul gambar masjid dan muazin yang lagi melantunkan azan Magrib di layar kaca. Lalu, ucapan selamat berbuka puasa terdengar menggema.

Ngabuburit Online

Bila sebelum datangnya pandemi Covid-19, aktivitas menunggu waktu berbuka puasa ini sering dimanfaatkan untuk seru-seruan bareng teman-teman dengan nongkrong di kafe baru, sekadar main di rumah teman.

Bagi generasi milenial yang memiliki keyakinan kehadiran internet beserta media sosial (medsos) sebagai kebutuhan dasar (gaya) hidup manusia kini dan menjadi bagian penting dalam membentuk pemikiran, perilaku, perbuatan sehari-hari.

Meskipun di rumah dalam menjalankan puasa pasti tidak  merasa bosan pada saat  menunggu waktu berbuka karena aktivitas ngabuburit bisa dilakukan secara online, mulai dari streaming video bertemakan agama yang disampaikan oleh ustaz dan pakar agama dikemas dengan gaya menarik dan tidak membosankan.

Lalu, main games yang melibatkan teman untuk bermain online, mencari-cari resep masakan untuk menu buka puasa dan sahur agar stok resep makanan lezat tersaji di keluarga tercinta, video call dengan teman lama (pasangan yang sedang LDR) pasti seru. Biasanya, mereka punya cerita dan kebiasaan berbeda yang unik.

***

Ibn Ghifarie, Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers