web analytics
  

Jaarbeurs-Jubileum dan Sampar di Bandung

Sabtu, 25 April 2020 15:20 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Jaarbeurs-Jubileum dan Sampar di Bandung, Jaarbeurs-Jubileum dan Sampar di Bandung, bandung baheula, bandung pisan

Iklan Jaarbeurs ke-10. (De Locomotief edisi 29 Juni 1929)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Setiap tahun, sejak diwacanakan 1918 dan dibangun 1919, di Bandung ada perhelatan akbar. Itulah pekan raya tahunan, yang lebih dikenal sebagai Jaarbeurs. Di dalam bursa ini dipamerkan berbagai hasil produksi industri yang tidak hanya berskala nasional Hindia Belanda, tetapi mencakup negara-negara lainnya. Konsepnya sangat berbeda dengan Jaarmarkt di Surabaya dan Koloniale Tentoonstelling di Semarang yang bersifat lokal. 

Pada tahun 1929, penyelenggaraan Jaarbeurs bisa dikatakan istimewa, karena merupakan peringatan satu dasawarsa. Dalam berbagai iklan disebutkan “1919 Jaarbeurs-Jubileum 1929. Jubileum-Inzendingen. Bezoekt de 10e Jaarbeurs en markt Tentoonstellingen te Bandoeng. 22 Juni-7 Juli. Jubileum-Feesten”. Ini, misalnya, tertulis dalam iklan koran De Locomotief edisi 29 Juni 1929. Dengan kata lain, iklan tersebut ditayangkan saat Jaarbeurs 1929 sudah berlangsung selama seminggu.

Menurut informasi dari koran-koran Belanda, saat itu Departemen Industri (Afdeeling Nijverheid) memamerkan barang-barang dari Keramisch Laboratorium, ada juga De Artillerie Constructie Winkel, Pyrotechnische werkplaats, Geweermakersschool, kerajinan topi pandan dari Jawa Barat, dan lain-lain.

Untuk menunjang acara tesebut, agen perjalanan Reisbureau Lissonne-Lindeman mengadakan layanan kereta api tambahan dari Weltevreden ke Bandung pada 6-7 Juli, agar penduduk Batavia dapat menyaksikan pesta kembang api pada penutupan Jaarbeurs, perusahaan pesawat udara KNILM menyediakan penerbangan khusus Batavia-Bandung dan Semarang-Bandung serta penerbangan di atas Kota Bandung. Selain itu, ada pula kontes kecantikan (Miss Jaarbeurs) yang kemudian dimenangkan oleh Nyonya A. W. vau Coeverden-Meyering. Demikian pula dengan lomba bermain tenis.

Pada hari pertama, saat pembukaan Jaarbeurs pada 22 Juni 1922, Jhr. Van Suchtelen, mewakili ketua Jaarbeurs yang berhalangan hadir, menyampaikan ucapan selamat datang. Pembukaannya sendiri secara resmi dilakukan Dr. Ch. Bernard, direktur van Landbouw. Disambung sambutan wali kota Bandung, walikota Batavia yang mewakili panitia Pasar Gambir. Pengunjung hari pertama mencapai 18.318 orang dan pada hari kedua 9.697, dengan pemasukan dari karcis masuk sebesar 14.162 Gulden. Secara keseluruhan selama 16 hari penyelenggaraanya, Jaarbeurs ke-10 ini dikunjungi 226.227 orang dengan penghasilan sebesar 65.413 Gulden.

Lebih istimewa lagi, sebelum berlangsungnya acara, sebagaimana diberitakan Het Nieuws van den Dag (1 Juni 1929), panitia Jaarbeurs menawarkan kepada Bupati Bandung, Kepala Dinas Propaganda Kesehatan Masyarakat dan Kepala Kesehatan di Bandung suatu tempat terbuka. Maksudnya, untuk pemutaran film selama Jaarbeurs berlangsung, dalam rangka mempropagandakan pencegahan dan penanganan wabah sampar, yang mulai ditemukan di Bandung sejak Mei 1929 atau kurang dari sebulan sebelum penyelenggraan Jaarbeurs.

Foto-02

Liputan khusus Jaarbeurs ke-10 oleh koran yang terbit di Bandung: De Koerier edisi 6 Juli 1929.

Pada akhir Mei 1929, kasus pertama sampar di Kota Bandung ditemukan. Hal ini dilaporkan pemerintah Kota Bandung pada 29 Mei 1929 dan disebarkan lagi oleh kantor berita Aneta. Saat itu, ditemukan tiga kasus kematian pada sebuah rumah di sekitar Jalan Raya Pos (Grootepostweg) dekat Pasar Baru. Rumah tersebut dihuni keluarga Tionghoa, bersama 20 orang.

Mula-mula seorang perempuan ke rumah sakit misi (zendingziekenhuis) untuk berobat, tetapi kemudian meninggal dunia beberapa jam kemudian. Kemudian ada laki-laki meninggal dengan gejala yang sama. Instituut Pasteur mengonfirmasi bahwa keduanya meninggal akibat sampar. Kemudian ada anak yang meninggal, dengan penyebab tidak diketahui. Dua orang lainnya ada yang dirawat di rumah sakit misi. Satu orang di antaranya didiagnosis terjangkit sampar dan satu orang lainnya diduga juga terjangkit. Ternyata, di rumah orang Tionghoa tersebut tikus-tikus tertular dan beberapa ada yang mati (De Indische Courant dan De Sumatra Post, 29 Mei 1929).

Oleh karena itu, pihak-pihak terkait mengadakan rapat membahas hal tersebut pada 31 Mei 1929. Peserta rapatnya terdiri dari Residen Priangan Tengah, Kepala Kesehatan Umum Dr. J. J. van Lonkhuijzen, wali kota Bandung, bupati Bandung, inspektur dari Dinas Kesehatan Dr. Ch. WF Winckel, ketua pengendali sampar wilayah Jawa Barat Dr. Versteeg, kepala dinas kesehatan daerah Dr. H.F. van Driessche, direktur bangunan dan pengawasan perumahan, A. van Rosendaal, Asisten Residen AH de Jong dan Asisten Residen E.L.J. Tydeman.

Kesimpulannya adalah harus segera mendirikan satu atau lebih barak isolasi; mengisolasi semua orang penderita di ruang isolasi atau di rumah sakit kota; orang yang pernah kontak dengan yang positif sampar diawasi (orang dalam pengawasan, ODP) di rumahnya; mengisolasi orang yang pernah kontak tetapi tidak mau diawasi; memeriksa semua rumah, gang, dan kampung serta menjaga bangunan-bangunannya agar tidak terkena bahaya wabah sampar; menyebarkan informasi sampar melalui film dan kata-kata, demonstrasi dan pamflet; dan menetapkan Kota Bandung sebagai wilayah yang terjangkit wabah sampar. Biaya yang harus disediakan sebesar 10.000 Gulden oleh Kota Bandung, demikian pula yang harus ditanggung Residen Priangan Tengah. Semua biaya tersebut ditujukan untuk persiapan penanganan wabah sampar, termasuk membersihkan tikus dari rumah dan memperbaiki rumah-rumah tua, gudang-gudang, dan lain-lain (De Koerier, 1 Juni 1929).

Selama bulan Juni hingga Juli 1929, kasus sampar di sekitar Bandung Raya masih belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Pada 31 Mei dilaporkan ada yang terduga terjangkit sampar dibawa ke Rumah Sakit Kota Bandung dan pada 1 Juni, penderita sampar meninggal di Rumah Sakit Kota (Het Nieuws van den Dag, 1 Juni 1929). Kabar selanjutnya, sembilan orang dari rumah di dekat Pasar Baru, yang pernah kontak dengan empat penghuni rumah yang meninggal karena sampar, dinyatakan negatif sampar (Het Nieuws van den Dag, 6 Juni 1929).

Pada 11 Juni 1929, situasi wabah sampar di Bandung tidak berubah. Belum ada kasus baru. Tikus-tikus yang ditemukan mati dinyatakan negatif sampar. Orang-orang yang pernah kontak dikeluarkan dari rumah sakit (Soerabaijasch Handelsblad, 12 Juni 1929). Pada 22 Juni, tikus-tikus mati ditemukan di Jalan ABC, dekat Pecinan. Penyelidikan pun dilakukan oleh pihak terkait. Menurut mereka, kejadian ini berkaitan dengan kasus yang terjadi di rumah dekat Pasar Baru. Para petugas menemukan tikus mati dan hidup di gudang Jalan ABC, yang lalu dibawa ke Instituut Pasteur, untuk diperiksa. Hasilnya, ternyata tikus-tikus tersebut positif terjangkit sampar.

Foto-03

Jalan ABC dan sekitar Pasar Baru menjadi tempat awal ditemukannya kasus sampar di Kota Bandung. (Tropenmuseum)

Memasuki Juli, kasus-kasus yang ditemukan antara lain: pada 5 Juli 1929 sore, di Kebon Manggu, yang berada di barat daya Bandung, ada orang meninggal dunia karena sampar. Dokter menemukan ada dua bangkai tikus di sana (De Locomotief, 6 Juli 1929). Pada 8 Juli, seorang perempuan dari barat daya Bandung meninggal dunia. Ia adalah istri seorang komis Perusahaan Kereta Api Negara (SS) dan tempat tinggalnya dekat orang yang meninggal karena sampar (De Sumatra Post, 8 Juli 1929). Pada 18 Juli, seorang pribumi di barat daya Bandung, yang sakit selama 11 hari, meninggal karena sampar (De Indisch Courant, 18 Juli 1929). Pada 23 Juli, ada anak perempuan sepuluh tahun meninggal karena sakit di sekitar bekas pembakaran yang terkena sampar (De Indisch Courant, 23 Juli 1929).

Oleh karena itu, upaya penanganan dan penyebaran informasi terkait sampar terus dilakukan. Ini, misalnya, terlihat dari pemutaran film penanganan sampar yang diselenggarakan dua kali pada hari Minggu, 15 Juli 1929, di dekat gedung internationalen radio-telefoondienst, Bandung. Penduduk pribumi yang berasal dari dinas terkait termasuk dari Radio Malabar berdatangan menggunakan truk, turut menyaksikan film tersebut. Musik gamelan kian menggema dengan pengeras suara, sehingga kerumunan orang yang berjumlah sekitar 2000 orang dapat jelas mendengarnya, demikian pula bagi orang yang lewat (Bataviaasch Nieuwsblad, 17 Juli 1929). 

Pemutaran film yang berlangsung seminggu lebih setelah penutupan Jaarbeurs ke-10 itu menandakan upaya serius pemerintah kala itu, termasuk lembaga-lembaga lainnya, seperti yang sudah dinyatakan pada rapat mengenai sampar pada 31 Mei 1929 dan ditawarkan oleh panitia Jaarbeurs untuk memfasilitasi pemutaran film.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers