web analytics
  

Hidup Sehat dan Bahagia hingga 100 Tahun, Kok Bisa?

Jumat, 24 April 2020 10:49 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Hidup Sehat dan Bahagia hingga 100 Tahun, Kok Bisa?, hidup sehat,olahraga

Ilustrasi berolahraga untuk mempertahankan tubuh yang sehat.(Ayobandung.com/Kavin Faza)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM – Menjadi tua adalah hukum alam. Ia merupakan siklus hidup yang -- mau tidak mau, suka tidak suka -- harus kita lalui. Artinya, siapa pun pun kita, dari mana pun asal-usul kita, apa pun status dan jabatan yang kita sandang, menjadi tua adalah keniscayaan. Kita tidak mungkin menghidarinya.

Begitulah. Bermula dari lahir, tumbuh dan berkembang, beranjak dewasa dan kemudian menua. Itu adalah fase-fase kehidupan sempurna yang hampir semua orang bakal mengalaminya.

Berlangsungnya proses penuaan mengakibatkan penurunan secara berangsur berbagai fungsi tubuh kita, baik fisik, intelektual maupun psikologis. Dampak yang paling umum dan paling kentara antara lain yaitu:

Pertama, perubahan dalam penampilan. Misalnya, rambut mulai memutih. Khusus bagi sebagian pria, selain memutih, rambut menjadi tipis dan bahkan rontok sehingga tidak menyisakan selembar rambut pun.

Di samping itu, kulit menjadi keriput, kering dan kurang elastis. Tinggi badan menyusut akibat berkurang beberapa centimerter (terutama saat memasuki usia 80-an) lantaran tulang belakang melengkung dan massa otot berkurang serta jaringan lemak bertambah.

Kedua, gerak tubuh melambat. Ketika kita bertambah tua, refleks kita menurun. Pun koordinasi otot kita dan reaksi kita juga menurun. Gerak kita yang semula gesit bak pelari olimpiade, misalnya, menjadi lambat perlahan.

Ketiga, perubahan pada aktivitas syaraf. Menurunnya jumlah syaraf di dalam otak dan sirkulasi otak mengakibatkan penurunan dalam daya ingat dan konsentrasi. Pada tahap yang lebih serius, perubahan ini bisa memicu penyakit macam Alzheimer dan Parkinson.

Keempat, perubahan pada kelenjar hormon. Produksi hormon menurun seiring beranjaknya usia, termasuk hormon tiroid, adrenalin dan hormon seks. Akibatnya, terjadilah gangguan berat badan, gangguan tidur dan suasana hati, adaptasi yang menurun dan berkurangnya kepuasaan dalam aktivitas seksual.

Kelima, perubahan aktivitas jantung. Jantung kita merupakan organ yang mendistribusikan darah berikut oksigen ke setiap bagian sel tubuh kita. Tatkala kita makin tua, aktivitas jantung mengalami penurunan yang pada gilirannya memicu terjadinya ketidaklancaran aliran darah dan menyempitnya arteri, berkurangya pasokan darah dan oksigen pada organ dan otot tubuh kita. Hasilnya, kemampuan fisik dan intelektual kita ikut menurun.

 

Keenam, penurunan dalam kemampuan bernafas. Ini mengakibatkan lemahnya oksigenisasi jaringan tubuh, nafas menjadi lebih pendek, cepat lelah saat melakukan aktivitas olahraga sehingga menurunkan performa fisik secara keseluruhan.

Ketujuh, penurunan kinerja ginjal. Ginjal merupakan organ tubuh kita yang bertanggunjawab membersihkan racun dan bahan-bahan tidak berguna dalam tubuh. Kinerja ginjal yang menurun menyebabkan akumulasi racun dalam tubuh yang sangat membahayakan kesehatan kita.

Kedelapan, penurunan kemampuan dalam mencerna. Melemahnya kemampuan mengunyah makanan dan menurunnya kemampuan mencerna mengakibatkan makin rendahnya asupan zat-zat penting bagi tubuh. Ujung-unjungnya, terjadilah kekurangan gizi.

Kesembilan, penurunan kepadatan tulang. Risiko yang bisa muncul yaitu ancaman serangan osteoporosis dan kerawanan tulang yang menjadikan lebih sering terjadinya insiden patah tulang.

Pengaruh lingkungan

Proses penuaan yang kita lakoni akan sangat bergantung pada faktor genetik, pengaruh lingkungan dan gaya hidup yang kita anut. Sekali lagi, kita tidak bisa menghindar dari proses penuaan. Begitu kita lahir ke dunia, sesungguhnya kita sudah mulai bergerak menuju proses penuaan.

Meskipun demikian, sejumlah dampak dari proses penuaan yang kita jalani sesungguhnya bisa kita perlambat, bahkan bisa kita hindari dengan cara-cara preventif yaitu dengan berbagai aktivitas yang diarahkan untuk mengurangi risiko sejumlah penyakit dan risiko penurunan fungsi serta kemampuan tubuh.

Menurut Elizabeth Joyner Gothelf, dari Office of Geriatric Medicine, Amerika Serikat, gaya hidup yang kita jalankan bakal sangat menentukan seberapa mulus kita menapaki setiap proses penuaan. Mengutip satu hasil kajian, Joyner Gothelf menegaskan bahwa dengan menerapkan tujuh langkah berikut ini, kualitas hidup kita bakal meningkat, mencegah penurunan fungsi tubuh sekaligus memperpanjang usia.

Ketujuh langkah itu adalah (1) tidur selama 7-8 jam setiap malam, (2) mengendalikan berat badan, (3) olahraga secara teratur, (4) menghindari konsumsi alkohol, (5) tidak merokok, (6) sarapan teratur dan (7) memperjarang ngemil.

Joyner Gothelf juga mengingatkan, menjalin hubungan yang positif sepanjang hidup kita memiliki kontribusi berarti bagi kebugaran kita -- fisik maupun psikis. “Riset membuktikan kualitas dari dukungan sosial yang kita miliki memunyai dampak positif bagi kesehtan kita yang pada gilirannya dapat menjadi tameng sekaligus mengurangi dampak-dampak proses penuaan yang terkait dengan aspek kesehatan kita,” papar Joyner Gothelf.

Perlu diketahui, sejumlah kajian menunjukkan bahwa sesungguhnya secara biologis tubuh manusia dirancang untuk dapat berfungsi baik hingga usia sekitar 120-an tahun. Dengan demikian, sebetulnya bukan hal yang aneh jika ada sebagian orang yang bisa hidup dengan sehat dan juga berbahagia hingga usia di atas 100 tahun.

***

Djoko Subinarto, Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers