web analytics
  

Merawat Tradisi Dlugdag di Keraton Kasepuhan Cirebon

Jumat, 24 April 2020 09:20 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Merawat Tradisi Dlugdag di Keraton Kasepuhan Cirebon, Berita Cirebon, Cirebon hari ini, ayocirebon, Sultan Cirebon, Tradisi Dlugdag, Ramadan

Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menabuh bedug di Langgar Agung di komplek Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (23/4/2020). (Ayocirebon.com/Erika Lia)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Sambil mengenakan masker yang menutupi sebagian wajah, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat dari Keraton Kasepuhan Cirebon, memukul bedug yang berada di Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (23/4/2020) sore.

Pukulan bedug bernada sedemikian rupa itu, sesuai tradisi, yang dimaksudkan sebagai sambutan atas datangnya bulan suci Ramadan.

Tradisi Dlugdag, begitu tradisi ini dikenal, telah rutin digelar setiap H-1 Ramadan. Dlugdag menjadi salah satu tradisi yang tetap digelar di tengah pandemi Covid-19.

Bedanya, dalam situasi ini, semua orang yang hadir, termasuk Sultan Arief mengenakan masker. Imbauan jaga jarak pun disampaikan Arief demi mencegah penyebaran virus.

"Tradisi Dlugdag tetap kami laksanakan karena tidak mengumpulkan massa," jelas Arief seusai memukul bedug.

AYO BACA : Wali Kota Cirebon Pastikan Hanya 1 Tenaga Medis yang Positif Covid-19

Satu yang berbeda, tradisi kali ini tak diawali salat Asar berjemaah yang lazimnya dilaksanakan sebelum pemukulan bedug.

Pemukulan bedug, jelasnya, dilakukan sebagai bentuk pemberitahuan kepada khalayak luas bahwa Ramadan akan tiba keesokan hari.

"Dlugdag menandai akhir bulan Sya'ban. Maknanya memberitahu besok mulai puasa," terangnya.

Tradisi memukul bedug, ungkapnya, hanya dilakukan di Jawa. Dalam sejarah, bedug di masa lampau dimanfaatkan Walisongo untuk melaksanakan kegiatan ritual Islam.

Arief mengungkapkan, dahulu para Walisongo mengakomodir semua bentuk seni dan adat di tengah masyarakat Indonesia.

AYO BACA : Mudik Dilarang, Seluruh Perjalanan KA Jarak Jauh Cirebon Dibatalkan

"Tujuannya sebagai pendekatan kepada masyarakat melalui kearifan lokal, sebelum kemudian dimasukkan sebagai bagian ritual Islam. Penggunaan bedug salah satu contohnya," paparnya.

Pada momen tertentu, bedug selalu ditabuh. Salah satunya sebagai penanda waktu masuk salat 5 waktu, sebelum dikumandangkan azan.

Bedug juga ditabuh pada Idulfitri dan Iduladha guna mengiringi takbiran. Alat tabuh ini sudah ada sejak sebelum Islam bernafas di Indonesia.

Selain salat Asar berjemaah, pihaknya pun meniadakan salat tarawih berjemaah yang biasanya dilaksanakan pada malam pertama Ramadan.

Dalam kesempatan itu, Sultan Arief berharap wabah Covid-19 segera berlalu. Dia pun mengajak semua umat muslim berdoa untuk perlindungan bersama.

"Bagaimanapun, semoga Ramadan kali ini terus membawa berkah bagi smua umat muslim sedunia," kata dia.

AYO BACA : Diminta Isolasi, 21 Tenaga Medis RST Ciremai Cirebon Negatif Covid-19

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers