web analytics
  

Ventilator Salman ITB Lolos Uji, Siap Diproduksi Massal

Kamis, 23 April 2020 08:41 WIB Nur Khansa Ranawati

Tenaga kesehatan membawa produk Vent-I di RS Advent Bandung. (dok. ITB)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Ada kabar baik bagi upaya penanggulangan Covid-19 di Indonesia. Produk ventilator portabel yang dikembangkan Yayasan Salman ITB bekerja sama dengan kampus ITB dan Unpad saat ini telah dinyatakan lolos tahap uji produk.

Ventilator 'mini' yang dinamai Vent-I tersebut lolos uji produk secara menyeluruh oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan RI pada 21 April lalu.

Sebagaimana dilansir laman itb.ac.id, Senin (23/2/2020), Vent-I telah dinyatakan sesuai dengan standard SNI IEC 60601-1:204: Persyaratan Umum Keselamatan Dasar dan Kinerja Esensial dan Rapidly Manufactured CPAP Systems, Document CPAP 001, Specification, MHRA, 2020.

Ventilator tersebut difungsikan untuk menjalani fungsi CPAP (Continuous Positive Airway Pressure).

Oleh karenanya, Vent-I merupakan alat bantu pernapasan bagi pasien yang masih dapat bernapas sendiri (jika pasien Covid-19 pada gejala klinis tahap 2), bukan diperuntukkan bagi pasien ICU. Vent-I tersebut diklaim dapat digunakan dengan mudah oleh tenaga medis karena sistem pengoperasiannya yang sederhana.

Dengan lolosnya uji produk ini, Vent-I dinyatakan aman digunakan sebagai ventilator non-invasive untuk membantu pasien Covid-19. Nantinya, ventilator ini akan dibagikan secara gratis pada rumah sakit yang membutuhkan.

“Untuk kebutuhan sosial ini, Vent-I akan diproduksi sekitar 300-500 sesuai dengan jumlah donasi yang masuk ke Rumah Amal Salman. Produksi  tahap pertama dimulai begitu lolos uji pada tanggal 21 April kemarin," ungkap Tim Komunikasi Publik dari pengembang Vent-I, Hari Tjahjono.

Dia mengatakan, Vent-I akan diproduksi lewat skema kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia. Bila telah tersedia, ventilator ini akan digunakan pada pasien sesuai indikasi medis, dan pemakaiannya akan dikawal oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi serta Terapi Intensif Indonesia (Perdatin) di rumah sakit yang telah ditunjuk.

“Sedangkan untuk keperluan komersial yang melibatkan transaksi jual beli, surat izin edar saat ini masih dalam proses pengurusan yang diharapkan akan segera siap dalam beberapa hari ke depan. Kegiatan ini akan dikelola oleh PT. Rekacipta Inovasi ITB,” ungkap Hari.

Pengembangan Vent-I diinisiasi oleh Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) dari Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan ITB, Syarif Hidayat, yang didukung oleh beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) dan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.

Sementara Fakultas Kedokteran Unpad terlibat dalam pemberian masukan pengembangan Vent-I agar sesuai dengan standar kebutuhan medis.

Selama ini, biaya pengembangan dan produksi Vent-I disokong oleh para donatur  maupun sumbangan masyarakat lewat Rumah Amal Salman. Pihaknya menghaturkan rasa terima kasih bagi para donatur sehingga produk ventilator pertama karya anak bangsa tersebut dapat terwujud.

“Semoga ikhtiar kami untuk mengembangkan ventilator pertama karya anak bangsa ini dapat membantu penanganan pasien Covid-19 dengan lebih baik," ungkapnya.

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers