web analytics
  

Covid-19, Ramadan, dan Optimisme

Kamis, 23 April 2020 01:40 WIB Netizen Gilang Eksa Gantara

Penyandang disabilitas bertadarus menggunakan Alquran braille di Masjid Ibnu Umi Maktum, Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Kamis (16/5/2019). (Irfan Al-Faritsi/ayobandung.com)

AYOBANDUNG.COM -- Empat bulan sudah berlalu sejak awal kemunculan Covid-19 di dataran Timur Jauh, Wuhan. Sudah selama itu pula hampir di seluruh dunia peradaban manusia dirundung oleh rasa kecemasan.

Masalah kesehatan membawa pada penjarakan sosial (social distancing). Kemudian jarak sosial membawa dampak pada ekonomi. Saat kebutuhan ekonomi manusia sulit untuk terpenuhi, di situlah lingkungan yang cocok untuk bertumbuhnya kejahatan. Dua kebutuhan manusia paling mendasar menurut Maslow, yaitu kebutuhan fisiologis dan keamanan benar-benar terancam.

Semuanya tampak kacau. Tapi benarkah begitu? Apakah Covid-19 benar-benar membawa dunia distopia yang ada di novel-novel menjadi kenyataan yang harus kita hadapi?

Lalu pada penghujung bulan keempat, tamu yang lain datang menghampiri kita semua; yaitu bulan Ramadhan. Dengan segala huru hara dan kesibukan menghadapi pandemi ini, kita lupa untuk menyambut datangnya bulan suci ini. Padahal ada makna yang dibawa oleh bulan ini; yaitu optimisme.

Puasa atau shaum yang diwajibkan bagi umat Islam, memiliki nilai pendidikan tentang optimisme. Bagaimana kita harus bersabar menahan haus, dahaga dan nafsu birahi sepanjang matahari di atas horizon, adalah ajaran untuk percaya bahwa kita bisa bertahan melalui ujian itu.

Kepercayaan kita bahwa waktu berbuka akan tiba dengan izin Allah juga merupakan ajaran optimisme untuk selalu memandang kedepan dengan pandangan yang baik. Ketika shaum, kita tidak diminta untuk mengeluh kelaparan, ketakutan mati haus atau malah mencaci maki pemerintah kenapa waktu maghrib belum juga tiba. Kita hanya diminta untuk bertahan, atau dengan bahasa Islam; bersabar.

Mari kita resapi makna ini, bersamaan dengan munculnya bulan sabit penanda Ramadhan saat pandemi. Di tengah pandemi yang membatasi gerak gerik kita, seharusnya shaum Ramadhan kita di tahun-tahun sebelumnya sudah mengajarkan bagaimana kita harus bersabar menghadapi ujian. Good times akan selalu memiliki porsinya nanti, dan waktu berbuka dari ujian pandemi ini akan segera datang.

Bersabar bukanlah berdiam diri menunggu takdir. Dalam beberapa kasus, ya, memang bersabar itu berdiam. Tapi di kasus-kasus lainnya, berjalan menghadapi musuh adalah bentuk kesabaran para mujahid (tentara) di medan perang. Bersabar itu bertahan dan konsisten.

Lack of conviction, atau hilangnya keyakinan serta optimisme masyarakat adalah penyebab masalah pandemi ini harus merembet kepada kriminalitas dan juga politik. Orang-orang yang tak yakin akan hari esok mencari berbagai jalan untuk menjadi yakin, meski dengan cara-cara haram. Orang-orang yang tak yakin juga, akan selalu menyalahkan pemerintah di masa ketika kesatupaduan gerak dibutuhkan meski social-distanced.

Pandemi Covid-19 harus kita hadapi bersama. Meski tidak boleh diremehkan, tapi pandemi ini juga tidak harus sampai menghancurkan keyakinan kita kepada Allah SWT. Dia Yang Mahakuasa menciptakan pandemi ini untuk mengajarkan kita semua agar bisa bekerjasama dan saling menguatkan keyakinan. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita dalam pandemi ini pada al-fa`l; yaitu berkata-kata positif dan berbaik sangka terhadap takdir Allah SWT.

***

Gilang Eksa Gantara, Alumni Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers