web analytics
  

Covid-19, Mahasiswa, dan Skripsi

Rabu, 22 April 2020 12:10 WIB
Netizen, Covid-19, Mahasiswa, dan Skripsi, skripsi, corona, covid-19, kemendikbud,

[Ilustrasi] Sejumlah pekerja melakukan work from home di sebuah kos-kosan, Jalan Sekeloa, Kota Bandung, Kamis (19/3/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYOBANDUNG.COM -- Sebagaimana telah kita tahu, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona atau Covid-19 yang telah menelan banyak korban di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Mulai dari menggunakan masker saat terpaksa harus keluar rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun atau cairan disinfektan, dan menerapkan social distancing atau menjaga jarak dengan kerumunan orang.

Sebenarnya seperti apa dan seberapa ganas virus Corona itu? Berdasarkan catatan Duta.co (12/03/2020) World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa coronaviruses (Cov) adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini disebut Covid-19. Virus Corona menyebabkan penyakit flu biasa sampai penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS-CoV).

Virus Corona adalah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus Covid-19 di Wuhan berawal pada 30 Desember 2019. Penyebaran virus ini sangat cepat bahkan hingga lintas negara. Sampai saat ini terdapat 93 negara yang mengkonfirmasi terkena virus Corona, termasuk Indonesia.

Social Distancing

Sebagaimana telah diketahui bersama, dalam rangka menerapkan social distancing, pemerintah meminta warga agar berdiam diri di rumah dan meliburkan kegiatan belajar mengajar di berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Lantas sebagai gantinya, kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah secara online atau daring dengan dipantau oleh guru dan dosen masing-masing.

Bagi para mahasiswa tingkat akhir yang sedang (atau akan) mengerjakan tugas skripsi, tentu merasa kelimpungan di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai ini. Mereka tentu tak bisa bebas keluar rumah sebagaimana biasa untuk melakukan penelitian atau riset lapangan, pergi ke perpustakaan atau toko-toko buku untuk mencari sumber referensi yang dibutuhkan, berkumpul dan diskusi bersama teman-teman, dan seterusnya. Maka tak mengherankan bila kemudian para mahasiswa berinisiatif membuat petisi yang intinya menuntut pihak perguruan tinggi untuk menghapus atau meniadakan tugas skripsi dan membebaskan biaya uang kuliah bagi sebagian mahasiswa.     

Sebagaimana ditulis Agus Salim dalam Amanat.id bahwa di tengah pandemi Covid-19 yang melanda saat ini, muncul sebuah petisi yang menuntut adanya pembebasan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan tugas akhir bagi mahasiwa (skripsi). Petisi yang dibuat oleh mahasiswa bernama Fachrul Adam tersebut ditujukan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Makarim. Petisi yang muncul di situs change.org itu sudah ditandatangai oleh ribuan mahasiswa.

Petisi tersebut, sebagaimana diungkap Agus Salim, sebagai respon dari Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 yang mengharuskan pembelajaran dilakukan secara daring guna pencegahan Covid-19. Dalam petisi itu ada tiga permintaan mahasiswa. Pertama, agar pemerintah membebaskan biaya UKT bagi mahasiswa tingkat akhir. Kedua, menerbitkan kebijakan pengganti penyelesaian skripsi. Ketiga, agar mahasiswa diberikan perpanjangan masa studi maksimum untuk angkatan 2013.

Tidak Mempersulit Mahasiswa

Berdasarkan apa yang saya pahami dari keterangan di laman Kemendikbud, dapat disimpulkan bahwa tugas skripsi yang menjadi salah satu persyaratan kelulusan dan meraih gelar sarjana tetap harus diselesaikan. Namun pihak perguruan tinggi, terlebih para dosen pembimbing, tidak diperkenakan mempersulit mahasiswanya dalam mengerjakan skripsi tersebut. Tentu saja kualitas hasil skripsi tetap harus diutamakan oleh para mahasiswa tingkat akhir. Jangan lantaran semua dipermudah lantas membuat mereka seenaknya sendiri dalam mengerjakan tugas skripsi tersebut.

Terkait hal ini, Yohanes Enggar Harususilo dalam Kompas.com (06/04/2020) melaporkan bahwa Kemendikbud melalui Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, di Jakarta (06/04/2020) berharap kampus memudahkan atau tidak mempersulit tugas akhir dan skripsi mahasiswa selama darurat Covid-19. Dirjen Dikti menyampaikan untuk karya tulis tidak harus berupa pengumpulan data primer di lapangan/laboratorium. Metode dan waktunya bisa beragam dan fleksibel sesuai bimbingan dari dosen pembimbing. Soal jadwal dan bentuk ujian, menurut Nizam tidak harus berbentuk konvensional dan dapat disesuaikan jadwalnya. “Jadwal ujian silakan diatur sesuai perkembangan, bentuknya tidak harus konvensional, tetapi bisa dalam bentuk penugasan, esai, kajian pustaka, analisa data, proyek mandiri, dan sebagainya,” tegas Nizam.

Selanjutnya terkait biaya kuliah yang harus ditanggung oleh mahasiswa semester akhir, menurut hemat saya, memang harus ada keringanan dari pihak perguruan tinggi. Mengingat kondisi yang terjadi saat ini perekenomian masyarakat (beragam jenis profesi) mengalami penurunan yang cukup drastis akibat wabah Corona di berbagai daerah di negeri ini. Oleh karenanya, penting dilakukan pendataan mahasiswa yang kondisi ekonominya tengah mengalami kesulitan, untuk kemudian segera mendapat bantuan dari pihak kampus.

Mengakhiri tulisan saya kali ini, mari kita berdoa bersama-sama, semoga virus Corona segera lenyap dari bumi pertiwi tercinta ini dan kondisi kembali normal sebagaimana biasanya.

***

Sam Edy Yuswanto, Penulis adalah alumnus STAINU, Fakultas Tarbiyah Kebumen. Ratusan tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Seputar Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Koran Jakarta, Kompas, Jateng Pos, Radar Banyumas, Koran Pendidikan, Merapi, Minggu Pagi, Analisa, Pontianak Post, Sumut Pos, Malang Post, Surabaya Post, Radar Surabaya, Nova, Sabili, Rindang, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, dll.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers