web analytics
  

Imbas Corona, Omzet Usaha Sepatu di Cibaduyut Terjun Bebas

Sabtu, 18 April 2020 16:40 WIB Vina Elvira
Bisnis - Finansial, Imbas Corona, Omzet Usaha Sepatu di Cibaduyut Terjun Bebas, cibaduyut, omzet pebisnis, bisnis sepatu, dampak corona terhadap ekonomi,

Bengkel sepatu milik Nisa yang sepi dari aktivitas produksi. (Dok pribadi Nisa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Sudah beberapa minggu ke belakang, salah satu bengkel sepatu di Cibaduyut, Kota Bandung, sepi dari aktivitas produksi. Hal ini terjadi karena menurunnya pesanan sepatu dan sandal yang biasa diproduksi setiap minggunya di bengkel sepatu tersebut.

Pemilik usaha sepatu tersebut, Nisa, menuturkan, tahun ini menjadi tahun yang cukup berat bagi dia dan keluarganya. Omzet usaha sepatu yang dirintis sejak puluhan tahun lalu turun 100%. Nisa mengakui, tidak mendapatkan pesanan sepatu dan sandal sama sekali.

AYO BACA: Cara Salam Alternatif untuk Cegah Corona Sesuai Anjuran WHO

AYO BACA: Padanan Kata Lockdown, Corona, dan Social Distancing dalam Bahasa Indonesia

AYO BACA: Pemuka Agama di Bandung Diduga Tularkan Corona ke 226 Jemaat

“Untuk penurunan omzet jalas ada penurunan. Apalagi kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata Nisa kepada Ayobandung.com, Sabtu (18/4/2020).

Biasanya, kata Nisa, 2 bulan menjelang Ramadan, bengkel sepatu miliknya kebanjiran pesanan dari berbagai wilayah di Indonesia. Setiap minggunya, perajin di bengkel sepatu Nisa bisa memproduksi sepatu dan sandal hingga puluhan kodi.

“Tahun sebelumnya tuh, 2 bulan sebelum puasa udah rame banget yang dateng ke rumah buat nyari barang untuk dijual lagi tuh udah banyak. Belum lagi pelanggan tetap yang ada dari Sumatra, dari Jateng, Kalimantan juga itu biasanya order by phone nanti dikirim pake kargo,” kata dia.

AYO BACA: 7 Situs Resmi untuk Pantau Perkembangan Virus Corona di Indonesia

AYO BACA: 5 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 Jika Terpaksa Keluar Rumah

AYO BACA: Bagaimana Corona Covid-19 Menyebar, Benarkah Melalui Jaringan 5G?

Kini, sudah sepekan menjelang Ramadan, belum ada satu pun pelanggan yang memesan sepatu atau sandal ke toko sepatu miliknya. Hal ini disinyalir karena para pelanggan tetapnya tidak ingin mengambil risiko jualannya tidak laku karena virus corona.

“Nah sekarang itu gak ada sama sekali, yang di rumah pun yang biasanya dateng ke bengkel pun gak ada yang beli,” terangnya.

Upaya agar tak rugi lebih parah

Sepinya pesanan memaksa Nisa mengurangi produksi. Dampaknya, upah dari 7 perajin sepatunya dipotong. Nisa merasa hal ini merupakan jalan terbaik untuk meminimalisasi kerugian yang lebih parah lagi.

“Kalau di sini kan sistemnya bukan per bulan dapat gaji, tapi pegawai itu dalam satu minggu bisa ngeberesin berapa kodi sandal. Kalau misalnya dapet 20 kodi nanti ada harga per satu kodinya dikasih upah berapa. Jadi untuk memiminalisir kerugian memang load-nya yang dikurangi, karena mau gimana lagi memang barangnya gak jalan, kita juga gak dapet income sama sekali,” kata Nisa.

AYO BACA: Lebih Baik Mana, Cuci Tangan dengan Air atau Hand Sanitizer?

AYO BACA: Berkumur dengan Air Garam dan Cuka Bisa Bunuh Corona Covid-19?

AYO BACA: Ini Saran Dokter Jika Ada Tamu Saat Pandemi Corona Covid-19

Bahan baku produksi semakin sulit

Selain pesanan yang sepi, Nisa sudah mulai kesulitan mendapatkan bahan baku sepatu dan sandalnya sejak beberapa bulan lalu. Banyak toko bahan baku langganannya tutup terdampak wabah corona.

“Dari bahan juga jadi susah, toko-toko bahan juga pada tutup, belum lagi yang bahannya impor dari luar negeri kan emang agak susah juga. Toko bahan di Cibaduyut tuh udah pada tutup. Jadi kita mau produksi juga bahannya gak ada, sedangkan stok sandal juga jadi numpuk karena gak terdistribusikan,” ujarnya.

Nisa mengaku dia dan keluarganya tidak siap dengan kondisi saat ini. Dia pun tidak memiliki antisipasi apapun untuk menghadapi masalah ini, kecuali dengan mengurangi bahkan menghentikan aktivitas produksi sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

“Sebetulnya dari kami sendiri gak ada antisipasi yang gimana-gimana, nothing to do lah istilahnya karena emang gak ada antisipasi dari pemerintahnya juga. Pemerintah kan kita tahu dari media penangananya tidak antisipatif dari awal, atau bisa dibilang juga telat,” kata dia.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers