web analytics
  

Di Zimbabwe, Penyebar Hoaks Corona Dipenjara hingga 20 Tahun

Kamis, 16 April 2020 09:58 WIB

Tangkapan layar video Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa. (Twitter/@edmnangagwa)

HARARE, AYOBANDUNG.COM -- Pembuat berita palsu atau hoaks tentang perpanjangan masa karantina wilayah atau lockdown akibat virus corona di Zimbabwe dipastikan akan dijebloskan ke penjara. Tak tanggung-tanggung, pembuat hoaks itu terancam 20 tahun penjara.

Dalam pernyataan di media penyiaran publik ZBC pada Selasa (14/4/2020), Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa menanggapi pernyataan yang beredar di media sosial pekan lalu mengenai perpanjangan lockdown. Dengan tegas ia membantah berita hoaks tersebut dan mengancam akan memenjarakan pembuatnya.

"Ini sangat tidak masuk akal, saya tidak pernah membuat pernyataan seperti itu," kata Mnangagwa, Rabu (15/4/2020).

AYO BACA : Ribuan Orang Positif Covid-19, India Perpanjang Lockdown

Mnangagwa mengerahkan pihak berwajib untuk mencari pembuat berita hoaks tersebut. Pembuat hoaks akan dijerat dengan hukum 14 tingkat selama 20 tahun penjara.

"Jika kami menangkap orang di baliknya akan menjadi contoh bagus dan dia bisa dijerat hukum tingkat 14, yakni 20 tahun penjara. Saya rasa kami perlu menunjukkan bahwa kami tidak menginginkan ada kabar palsu yang beredar," tegas Mnangagwa.

Pada Maret, pemerintah negara di selatan Afrika itu mengumumkan adanya regulasi karantina wilayah, termasuk aturan hukuman penjara hingga 20 tahun bagi orang yang menyebarkan berita palsu terkait virus corona baru Covid-19.

AYO BACA : Covid-19 Tembus 2 Juta Kasus di Dunia

Juru bicara kepolisian nasional Paul Nyathi mengatakan, ada lebih dari 5.000 orang telah diamankan karena bepergian ke luar rumah tanpa izin. Tak hanya kepolisian, tentara juga diterjunkan untuk membantu menegakkan peraturan selama pemberlakuan lockdown.

Kelompok pemerhati HAM Zimbabwe, ZLHR mengatakan regulasi lockdown mengakibatkan adanya penigkatan kasus warga yang dipukuli oleh pihak keamanan. Warga tersebut dinilai telah menentang aturan lockdown.

Meski demikian, pihak kepolisian mengaku tidak menerima laporan apapun.

Pemerintahan kabinet Mnanggagwa baru akan bertemu pada akhir pekan ini untuk memutuskan nasib lockdown selama 21 hari itu, apakah akan diakhiri, disesuaikan atau diperpanjang. Dari laporan, tercatat ada 17 kasus infeksi virus corona dan 3 pasien meninggal dunia.

Hingga Senin (13/4/2020) malam, baru sekitar 600 orang dari total 15 juta penduduk Zimbabwe mendapatkan pengujian medis guna memeriksa keberadaan virus corona.

AYO BACA : Pasien Covid-19 Terakhir Sembuh, RS Darurat Wuhan Resmi Ditutup

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers