web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Pengusaha Simping Purwakarta Hentikan Produksi dan Rumahkan Karyawan

Kamis, 16 April 2020 07:15 WIB Dede Nurhasanudin

Simping sebagai oleh-oleh khas Purwakarta. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Wabah virus corona yang telah masuk ke sejumlah daerah di Indonesia menjadi pukulan berat bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Tak terkecuali di Kabupaten Purwakarta.

Seperti yang dirasakan Rina Mardiana, salah satu pemilik industri rumahan simping di Jalan Doktor Mr Kusumatmaja, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan Purwakarta.

Ia mengaku terpaksa berhentikan sementara aktivitas produksi simping sejak tiga pekan terakhir, karena jumlah daya beli masyarakat menurun.

"Sejak kemunculan wabah virus corona, penjualan simping setiap harinya menurun drastis," ungkap dia, Rabu (15/4/2020).

Ia bercerita, biasanya dalam sehari tidak kurang dari 500 bungkus simping habis terjual. Namun saat ini untuk menghabiskan 30 bungkus saja membutuhkan waktu lama.

Hal itu terjadi karena para pelanggan memberhentikan sementara permintaan oleh-oleh khas Purwakarta ini. Bahkan, jumlah konsumen datang ke toko miliknya juga menurun jika dibandingkan sebelumnya.

"Kalau hari libur banyak warga yang hendak ke luar kota membeli simping di sini, atau wisatawan datang ke Purwakarta membeli simping sebagai oleh-oleh. Tapi sekarang tidak ada, bahkan toko langganan saya di luar kota juga minta gak dikirim dulu," kata perempuan yang akrab disapa Teh Ina itu.

Atas kondisi ini, dengan berat hati teh Ina memutuskan untuk sementara waktu merumahkan seluruh karyawannya yang berjumlah 18 orang, guna menghindari kerugian.

"Yah mau gimana lagi kondisinya seperti ini, untuk menghabiskan stok yang masih ada saja saya terpaksa menurunkan harga dari sebelumnya Rp10.000 menjadi Rp9.000 per bungkus," ujar teh Ina.

Meski begitu, ia mengaku akan kembali memproduksi simping pada Ramadan atau dua pekan menjelang Lebaran. "Laku gak laku gimana nanti saja, mudah-mudahan kondisi seperti ini segera berakhir," kata teh Ina.

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers