web analytics
  

Ceng Beng Ditiadakan, Warga Tionghoa Cirebon Doakan Leluhur di Rumah

Rabu, 15 April 2020 14:30 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Ceng Beng Ditiadakan, Warga Tionghoa Cirebon Doakan Leluhur di Rumah, tionghoa, tradisi tionghoa, tionghoa cirebon, berita cirebon, ceng beng

Warga Tionghoa di Kota Cirebon berdoa di depan altar leluhur. (Ayocirebon.com/Erika)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Ziarah tahunan bagi warga Tionghoa atau akrab dikenal Ceng Beng ditiadakan selama wabah Covid-19. Akhirnya tradisi tersebut digantikan dengan berdoa di rumah masing-masing.

Sekretaris Yayasan Boen San Tong Winaon, Kota Cirebon, Samsul Liem mengungkapkan, akibat pandemi Covid-19, tradisi Ceng Beng tahun ini tidak digelar. Sedianya, Ceng Beng mereka laksanakan setiap 5 April setiap tahunnya.

"Tahun ini kami tidak mengadakan Ceng Beng. Seharusnya sih tanggal 5 April, tapi kami mengikuti instruksi pemerintah untuk tak berkumpul di tengah pandemi Covid-19," tuturnya kepada Ayocirebon.com.

Dalam Ceng Beng, warga Tionghoa biasanya mendatangi pemakaman (bong Cina) untuk berdoa. Tradisi ini mirip ziarah nyekar bagi umat muslim.

Selain mendoakan orang tua dan leluhur yang telah meninggal, mereka pula membersihkan kuburan. Buah-buahan, kue, hingga karangan bunga biasanya turut dibawa untuk diletakkan di atas makam.

Sebagai ganti ketiadaan Ceng Beng, warga Tionghoa pun mengganti tradisi itu dengan bersembahyang atau berdoa di rumah.

AYO BACA : Meretas Mitos Jalan Karanggetas di Cirebon

"Setelah ada instruksi pemerintah, doa untuk orang tua dan leluhur dilakukaj di rumah masing-masing," ujarnya.

Menurut cerita rakyat Tiongkok, Ceng Beng konon berawal dari zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M).

Zhu Yuan Zhang berasal dari sebuah keluarga miskin. Kemiskinan membuat orang tuanya terpaksa meminta bantuan sebuah kuil untuk mendidiknya.

Saat dewasa, dia bergabung dengan kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol). Kecakapannya membuat Zhu Yuan Zhang mendapat posisi penting dan akhirnya berhasil menaklukkan Dinasti Yuan (1271-1368 M).

Dia pun suatu hari diangkat menjadi kaisar. Zhu Yuan Zhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya ketika menjadi kaisar.

Sayangnya, orang tua Zhu Yuan Zhang sudah meninggal dunia. Pekuburan ya pun tak diketahui keberadaannya.

AYO BACA : 5.374 Warga Kota Cirebon Terima Bantuan Rp200.000 Selama 3 Bulan

Demi mengetahui makam orang tuanya, dia memerintahkan seluruh rakyat berziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan.

Setiap makam yang telah dibersihkan dan menjadi milik keluarga rakyatnya, diberi tanda kertas kuning.

Setelah rakyatnya selesai berziarah, kaisar lalu memeriksa seluruh makam di desa itu. Makam-makam yang belum dibersihkan dan tanpa kertas kuning selanjutnya dia ziarahi dengan asumsi makam itu merupakan makam orang tuanya.

"Tujuan Ceng Beng sebenarnya untuk mempererat jalinan keluarga dan kerabat," tutur Samsul.

Selain meniadakan ziarah langsung ke pekuburan, Covid-19 juga membuat tempat-tempat peribadatan seperti vihara sepi.

"Untuk vihara (peribadatan) ditiadakan. Tapi, kalau klenteng masih karena tak ada waktu khusus sembahyang sehingga umat bisa datang kapan saja," paparnya.

Kecuali, sambungnya, khusus perayaan ditiadakan untuk menghindari umat berkumpul dalam keramaian.

Di bagian lain, menghadapi dampak Covid-19, pihaknya berencana menggelar bakti sosial di Vihara Pemancar Keselamatan (Boen San Tong), Minggu (19/4/2020).

"Kami hendak memberi bantuan bagi masyarakat sekitar vihara. Semoga bisa membantu mereka menghadapi situasi sulit di tengah pandemi Covid-19," harapnya.

AYO BACA : Imbas Corona, Tersisa 2 Perjalanan KA di Stasiun Cirebon

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers