web analytics
  

Corona Paksa Transformasi Bisnis Makanan dan Minuman

Kamis, 9 April 2020 05:56 WIB
Gaya Hidup - Kuliner, Corona Paksa Transformasi Bisnis Makanan dan Minuman, Corona, belanja online, bisnis minuman, bisnis makanan, covid-19

Ilustrasi (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pengamat ekonomi Andry Satrio dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pandemi Covid-19 berhasil memaksa terjadinya transformasi bisnis makanan dan minuman. Aktivitas jual belinya dari tradisional menjadi daring atau online kini berlangsung lewat prinsip digitalisasi.

"Saat ini semua pihak dipaksa untuk beraktivitas secara daring dan menerapkan prinsip digitalisasi, kalau tidak kegiatan perekonomian serta bisnis akan mati," ujar Andry Satrio dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu (8/4) malam.

Pengamat tersebut mencontohkan bagaimana pasar tradisional saat ini mau tidak mau harus bisa menjalankan prinsip pengantaran barang setelah menerima pesanan secara online atau via telepon. "Kalau tidak bisa kalah dari kompetitor lainnya," kata dia.

Saat ini, semua aktivitas jual beli dilakukan secara daring dan menjalankan prinsip pengantaran. Terutama, sektor restoran dan bisnis makanan-minuman dipaksa menjalankan bisnis di mana pesanan dapat dilakukan secara daring.

"Transformasi itu sebelumnya tidak ada yang bisa secepat sekarang setelah munculnya pandemi Covid-19. Supermarket pun sekarang bisa melayani pemesanan via aplikasi sosial media seperti Whatsapp," kata Andry Satrio.

Associate peneliti ekonomi Indef Muhammad Zulfikar Rakhmat menilai sisi positifnya pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada semua pihak untuk bagaimana beraktivitas secara daring. Menurut dia, saat ini semua orang bisa belajar dan mengetahui bagaimana sistem kerja, pendidikan, dan sejumlah aktivitas bisnis bisa dilakukan secara daring, termasuk beraktivitas dari rumah.

"Ke depannya saya melihat akan banyak orang-orang baik di Indonesia maupun dunia bekerja dan beraktivitas secara online, karena pandemi Covid-19 telah membuka wawasan bahwa beberapa aktivitas termasuk bisnis bisa dimungkinkan melalui secara digitalisasi," kata Zulfikar Rakhmat.

Sebelumnya, Senior Director Office Services Colliers International Indonesia (konsultan properti), Bagus Adikusumo, mengatakan pola kerja dari rumah (Work From Home/WFH) diperkirakan bakal menjadi lebih lumrah dalam penerapannya oleh sejumlah kantor perusahaan akibat dampak dari Covid-19. Pola kerja dari rumah diperkirakan akan berlanjut bakal setelah pandemi dapat tertangani.

Menurut dia, kemungkinan ke depannya WFH akan menjadi model bisnis yang menarik untuk diteruskan sehingga bakal ada berbagai penyesuaian dari pola kerja perusahaan. Namun, lanjutnya, bila memang pola kerja akan semakin lebih banyak yang melakukan WFH maka diperkirakan juga akan mengurangi permintaan terhadap ruang perkantoran.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers