web analytics
  

Ramadan di Tengah Pandemi, Industri Mode Akan Rugi?

Senin, 6 April 2020 08:43 WIB
Bisnis - Finansial, Ramadan di Tengah Pandemi, Industri Mode Akan Rugi?, Fashion, mode, lebaran, ramadan,

[Ilustrasi] Bisnis fashion lesu di tengah pandemi corona. (Pixabay)

Berbagai faktor, termasuk pandemi corona Covid-19, bisa membuat industri mode atau fashion ‘gigit jari’.

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Menjelang Ramadan, pertumbuhan industri mode di negara-negara mayoritas Muslim biasanya sangat bergairah karena menerima lonjakan permintaan. Namun, tahun ini semuanya berbeda. Dunia masih dibayang-bayangi virus Covid-19.

Di negara seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Dubai, pemerintah setempat telah menginstruksikan agar pusat perbelanjaan ditutup hingga 25 Maret. Meski belanja daring bisa jadi alternatif, namun dengan penutupan pusat perbelanjaan omzet penjualan fashion jelas menurun.

Sebelumnya State of the Global Islamic Economy 2016 yang diterbitkan oleh Thomson Reuters memperkirakan, angka belanja fashion di Timur Tengah akan mencapai 368 miliar dolar Amerika pada tahun 2021. Dengan keadaan seperti sekarang, rasanya prediksi tersebut akan sedikit meleset.

Dipesh Depala, pendiri Public Relations The Qode di Dubai yang menangani jenama top seperti Cartier, Berluti, Mango, dan Cos, mengatakan, Ramadan dan Idulfitri memiliki makna komersial yang mirip dengan Natal di Barat. Di hari kemenangan itu, semua umat ingin memakai busana yang spesial.

"Timur Tengah adalah daerah dengan apresiasi mode tinggi. Jadi selama bertahun-tahun, jenama seperti Mango, Cos, dan Oscar de la Renta telah menciptakan koleksi Ramadan untuk memenuhi permintaan barang baru selama periode liburan," kata Depala seperti dilansir Vogue, Sabtu (4/4/2020).

Ramadan juga biasanya menjadi momentum untuk membangun koneksi antara industri mode dan konsumen, misalnya dengan menggelar beragam kegiatan seperti talkshow, fashion show atau lainnya. Namun tahun ini, semua itu juga akan mengalami gangguan.

Direktur Eksekutif E4 Retail, penyedia layanan manajemen bisnis di Timur Tengah, Andrew Ege, mencatat banyak acara dari para desainer dan merek top dunia seperti Jimmy Choo, Dolce & Gabbana dan Tory Burch, telah dibatalkan.

Desainer dari Suriah, Rami Al Ali, yang memiliki toko di Dubai juga mengaku menerima pembatalan pesanan. Sebagai solusi, Ege menilai bahwa media sosial dan e-commerce menjadi platform penjualan menjanjikan dalam kondisi seperti sekarang.

"Pelaku usaha mode harus membuat kebijakan baru untuk menarik konsumen agar mau belanja melalui online. Misalnya baju bisa dicoba dulu di rumah atau lainnya, yang tentu tetap menaati instruksi untuk menjaga jarak," kata Ege.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers