web analytics
  

AUMR, Robot Penyemprot Disinfektan Buatan LIPI dan Telkom University

Jumat, 3 April 2020 20:43 WIB Mildan Abdalloh

Ilustrasi -- robot. (pixabay)

DAYEUHKOLOT, AYOBANDUNG.COM -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Telkom University membuat sebuah robot pengganti penyemprot disinfektan untuk membasmi mikroba dan virus.

Rektor Telkom University Adiwijaya mengatakan, robot hasil riset Telkom University dan LIPI tersebut diberi nama AUMR Autonomous UVC Mobile Robot.

AUMR menggunakan sinar ultraviolet tipe C yang mampu membunuh mikroba berbahaya termasuk virus. "Sinar UV yang dipakai aman bagi manusia. Sudah kami riset," tutur Adiwijaya, Jumat (3/4/2020).

Riset yang dilakukan oleh pihaknya sebagai upaya membantu pemerintah dalam menangani Covid-19.  Dia menjelaskan tim medis merupakan garda terdepan dalam menangani pasien Covid-19, sehingga memiliko risiko terkena paparan virus.

Di pusat perawatan Covid-19 disinfeksi dan sterilisasi sangat diperlukan untuk mengurangi kontaminasi. Namun dengan alat penyemprot disinfektan masih menggunakan tenaga manusia sehingga memiliki risiko bagi petugas.

"Dengan menggunakan robot, maka risiko penularan menjadi lebih rendah, karena mengurangi interaksi," ujarnya.

Disamping itu, penggunaan sinar UV juga lebih efektif dalam membasmi mikroorganisme dan virus, baik yang menempel di lantai, dinding maupun udara.

Cara kerja dari AUMR sendiri sangat sederhana, robot digerakan menggunakan remot atau berjalan otomatis di ruangan dengan menggunakan line tracker atau laser range navigation. Secara otomatis, robot akan berjalan dan menyinari ruangan untuk membunuh mikroorganisme dan virus.

Ketika organisme biologi terpapar sinar UV dalam kisaran 200 nm dan 280 nm, maka sinar tersebut akan diserap oleh DNA, RNA dan protein. Penyerapan tersebut akan menyebakan pecahnya dinding sel protein dan tentunya kematian organisme tersebut.

Penyerapan sinar UVC oleh DNA dan RNA (khususnya basa timin) diketahui menyebabkan inaktivasi untai ganda DNA atau RNA melalui pembentukan dimer timin. Jika cukup dimer ini diproduksi dalam DNA maka akibatnya proses replikasi DNA akan terganggu dan tentunya sel tidak dapat mereplikasi.

"Metode ini pertama digunakan di Indonesia. Alat serupa pernah digunakan di beberapa negara salah satunya Denmark," ungkapnya.

Biaya riset dan produksi satu unit robot kata Adiwijaya adalah Rp250 juta. Jauh lebih murah dibanding dengan robot sejenis di luar negeri yang bisa seharga USD80.000-USD90.000.

Rencananya AUMR akan digunakan dalam penanhanan Covid-19 di RS Pindad dan Wisma Atlet Jakarta.

Produksi massal pun memungkinkan dilakukan untuk penanganan Covid-19. Selain AUMR terdapat juga Autonomus yang merupakan jenis statis dari AUMR.

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers