web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Salman ITB Kembangkan Vent-I, Ventilator Alternatif untuk Pasien Covid-19

Jumat, 3 April 2020 16:22 WIB Nur Khansa Ranawati

Prototipe Vent-I. Saat ini bentuk ventilator alternatif tersebut masih terus disempurnakan. (Dok. Salman ITB)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Selain alat pelindung diri (APD), alat yang juga keberadaannya sangat terbatas di berbagai rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 adalah ventilator. Alat bantu pernapasan ini sangat krusial mengingat penyakit Covid-19 menyerang saluran pernapasan dan paru-paru penderitanya.

Namun, berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018, saat ini rasio tempat tidur ICU (ruangan perawatan intensif yang dilengkapi ventilator) per penduduk di Indonesia adalah 2:100.000. Artinya, hanya ada 2 tempat tidur ICU/ventilator untuk tiap 100.000 penduduk Indonesia.

Untuk mengantisipasi hal ini, tim Salman ITB bekerja sama dengan para peneliti ITB juga Fakultas Kedokteran Unpad mengembangkan ventilator alternatif yang dinamai Vent-I atau Ventilator Portable Indonesia. Ventilator ini adalah bentuk sederhana dari ventilator pada umumnya, dan diciptakan dengan menggunakan bahan baku nonmedis.

External relations tim Vent-I Hari Tjahjono menyebutkan, eksperimen ini telah dimulai sejak sekitar 2 minggu lalu. Bermula dari perbincangan pihaknya dengan para dokter yang menyebutkan bahwa ventilator sangat dibutuhkan.

"Sudah banyak yang menyumbang APD dan masker, tapi kami lihat ada kebutuhan lain yang sangat penting yaitu ventilator. Covid-19 ini kan menyerang pernapasan," ujarnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Jumat (3/4/2020).

Karena itu, pihaknya memutuskan membuat ventilator berdesain sederhana dengan bahan baku yang relatif mudah ditemui. Ongkos produksinya pun jauh lebih murah dibanding harga sebuah ventilator di pasaran yang mencapai ratusan juta rupiah.

"Karena supply chain barang kesehatan sekarang sudah susah, sehingga kami pakai desain yang menggunakan bahan-bahan industrial seperti pompa, selang-selang, flow meter, dan beberapa sensor," ungkapnya.

Dia mengatakan, setelah melewati beberapa kali tahap presentasi dan perbaikan, pihaknya mendapat persetujuan dari para dokter senior Fakultas Kedokteran Unpad untuk mengoperasikan hanya fungsi CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) dari sebuah ventilator. Fungsi ini diterapkan untuk para pasien yang mengalami sesak namun masih bernapas sendiri, agar mencegah mereka masuk ICU.

"Secara fungsional Vent-I type 01 CPAP telah memenuhi standar minimal yang dapat digunakan dalam situasi krisis seperti sekarang," ujarnya.

Dia menyebutkan, Vent-I adalah ventilator yang bersifat non-invasive. Artinya, ventilator ini merupakan jenis yang paling sederhana. Hal ini dipakai agar pasien yang berada dalam fase awal infeksi dan sudah mengalami penurunan kadar oksigen yang tidak disadari bisa ditolong lebih dini.

"Penderita masih sadar dan bisa bernapas, tetapi sesungguhnya sudah mulai tidak kuat dan bisa tiba-tiba terjadi perburukan berupa gagal napas," ungkapnya.

"Ketika gangguan pernapasan pada tahap awal ini, pasien bisa segera ditolong dengan non-invasive ventilator ini, sehingga gagal napas bisa dicegah," katanya.

Alat ini juga diklaim mudah dioperasikan oleh tenaga medis manapun. Tidak perlu dokter atau perawat yang sudah terlatih ICU yang bisa menggunakannya.

"Ini sederhana dan tidak perlu dokter spesialis untuk menggunakannya. Justru hal seperti ini yang sekarang paling dibutuhkan," ujarnya.

Saat ini, dia mengatakan, pihaknya tengah menunggu persetujuan dari Kementerian Kesehatan sebelum dapat memproduksi Vent-I. Rencananya, di tahap pertama, pihaknya akan membuat 100 ventilator.

"Rencananya untuk rumah sakit di Bandung Raya dan Jawa Barat dulu, juga untuk di Wisma Atlet," kata dia.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers