web analytics
  

Nestapa Nasib Cilok Hot Latif

Kamis, 26 Maret 2020 09:21 WIB Netizen Muhammad Fikri Dzulfikar

Latif melayani pembeli cilok di Jalan Kapten Sangun depan SMA Bina Muda, Selasa (24/3/2020) siang. (Muhammad Fikri Dzulfikar)

AYOBANDUNG.COM -- Lengang, begitulah suasana pematang beraspal yang tergambar di suatu siang terik. Hanya sedikit kendaraan yang membelah jalanan, mungkin satu-dua saja. Jalanan beraspal tersebut terkadang menyemburkan debu-debu akibat cuaca yang cukup bergolak. Lubang-lubang kecil serta polisi tidur pun menghiasi struktur aspal yang telah digerogoti usia. Hal tersebut membuat pengendara yang lewat mesti meliuk-liuk dengan teknik tinggi agar tidak terjerembab ke dalam lubang.

Tepat ketika mentari bersimpuh di atas kepala, sebuah sepeda motor menembus jalan berlubang tersebut. Sepeda motor tersebut lantas mengerem dan menuju sebuah gerobak yang terparkir di jalan tersebut. Gerobak khas pedagang kaki lima, lengkap dengan tulisan “CILOK HOT BONJOUR” yang menjadi tujuannya. Di samping gerobak itu, ada satu gerobak sorong lain tanpa nama, tapi setelah diketahui gerobak tersebut menjajakan siomay dan baso tahu.

AYO BACA: 8 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 Saat Keluar Rumah

AYO BACA: Cara Membuat Hand Sanitizer Sesuai Standar WHO untuk Cegah Corona

AYO BACA: Bacaan Qunut Nazilah, Doa Menangkal Malapetaka

Seketika, saat kuda besi tersebut terparkir di samping gerobak, seorang pemuda muncul dari depan sebuah bangunan. Bangunan tersebut mungkin sebuah warung yang sedang tutup, terlihat dari penggunaan deretan kayu sebagai tudungnya. Lantas dia menghampiri pengendara motor yang mendekati gerobaknya. “A, bade meser cilok?” tanya sang pemuda kepada orang tersebut, jika dalam Bahasa Indonesia berarti “A, mau beli cilok?”.

Adalah Latif, pemuda yang memilih profesi sebagai pedagang cilok. Kariernya sebagai penjual cilok telah dimulai ketika dia masih pemuda tanggung. Empat tahun lalu, ketika usianya baru menginjak angka delapan belas, dia memutuskan menjadi seorang pedagang.

Tahun 2016 silam, pilihannya jatuh terhadap profesi tersebut lantaran ia tidak ingin bekerja di bawah orang lain. Latif beralasan, dengan berwirausaha, dia tak hanya mendapatkan penghasilan, namun kelak usahanya tersebut dapat diwariskan. Dia juga memiliki nurani yang mulia. Membuat lapangan pekerjaan menjadi dalih lain atas profesinya tersebut.

AYO BACA: [CEK FAKTA] Ini Bentuk Virus Corona Jika Diperbesar 2.600 Kali?

AYO BACA: Cara Salam Alternatif untuk Cegah Corona Sesuai Anjuran WHO

AYO BACAIni Peta Sebaran Virus Corona di Jabar, 1.165 ODP dan 22 Positif Covid-19

Namun, sejak seminggu yang lalu, Latif harus menerima kenyataan gerobak ciloknya tidak dikerubungi lagi oleh pembeli. Padahal lapak jualannya berada di lokasi yang cukup strategis. Dia menggelar lapak persis di depan gerbang SMA Bina Muda, sekolah swasta terbesar di Kecamatan Cicalengka. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan hari biasanya. Pada pukul dua belas, pada jam yang sama persis ketika saya mewawancarainya, gerobak tersebut ramai pembeli. Latif mengaku, bahkan bukan hanya anak SMA Bina Muda saja yang mengunjungi gerobaknya. Siswa SMP Bina Muda yang letaknya tidak jauh dari gerobak tersebut serta masyarakat umum, berbondong-bondong ikut menyambangi lapaknya.

Seminggu yang lalu, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat mengeluarkan keputusan untuk meliburkan setiap kegiatan sekolah di jenjang SMA sederajat selama empat belas hari. Kebijakan tersebut dikeluarkan setelah adanya imbauan dari pemerintah pusat untuk bekerja dan belajar dari rumah. Hal tersebut menanggapi kasus pandemi covid-19 yang kian mewabah.

Jumat lalu di Masjid Agung Cicalengka, sebelum Salat Jumat dilangsungkan, Camat Cicalengka Entang Kurnia juga mengimbau warganya untuk tetap berada di rumah. Dia meminta masyarakat Cicalengka tidak mengunjungi Alun-Alun serta area Bukit Candi. Dia juga mengajak warga untuk berperilaku hidup bersih.

AYO BACA: Corona Masuk ke Indonesia, Ini Doa Agar Terhindar dari Penyakit Berbahaya

AYO BACA: [CEK FAKTA] Tahan Napas 10 Detik Bisa Tes Gejala Corona Covid-19?

AYO BACA: 5 Langkah Mencegah Virus Corona di Rumah

Turun Drastis

Bukannya tidak ingin mendukung imbauan pemerintah dalam membatasi kehidupan sosial atau social distancing, Latif terpaksa harus tetap berada di luar rumah. Tuntutan untuk tetap menyambung hidup serta beragam setoran cukup menghantuinya. Dalam situasi sekarang, ia menerangkan, pembeli cilok tetap ada, namun jumlahnya berkurang signifikan. Mereka yang masih membeli cilok Latif biasanya karena jenuh dan lapar.

“Biasanya, kalau persenan, nih, dari seratus persen itu, sekarang paling empat puluh persen. Jadi yang gak adanya enam puluh persen. Karena pendapatan juga, yang awalnya tujuh ratus ribu, sekarang mah kalau lima puluh persen, kan 350 ribu, sekarang mah ya paling di bawah 250 sampai 300 ribu,” tukas Latif sambil menghisap sebatang rokok.

Latif menegaskan, keadaan tersebut sangat berdampak pada ekonomi dirinya. Sebelumnya, dia dengan mudah membeli apa yang diinginkan tanpa banyak merenung. Namun sekarang, pengeluaran keuangannya lebih diperhemat. Meski begitu, dalam menyambung hidup, keuangannya masih mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari. Berbeda dengan beragam keinginan yang harus dibendung terlebih dahulu. “Sekarang mah tujuan jualan itu bukan untuk keinginan, tapi kebutuhan,” ujar Latif.

Pria berusia 22 tahun tersebut beranggapan situasi sekarang sungguh berbeda dengan situasi pada musim libur semester. Meskipun keduanya sama-sama berkedok libur sekolah, namun realita pembeli ciloknya berbeda. Pada musim libur semester, masih banyak anak-anak yang menyambangi gerobak ciloknya. Namun karena situasi sekarang yang mengharuskan masyarakat berdiam diri di rumah, jumlah pembeli ciloknya cukup menurun.

AYO BACA: Padanan Kata Lockdown, Corona, dan Social Distancing dalam Bahasa Indonesia

AYO BACA: 5 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 yang Keliru

AYO BACAIni 2 Obat yang Diklaim Manjur Sembuhkan Pasien Covid-19!

Bingung

Meski keadaan cukup mendesak, pemuda tersebut belum memiliki rencana lain guna menyambung hidup. Bahkan dengan perasaan sedih, Latif mengaku ingin berhenti berdagang sementara. Manusia tetaplah manusia, ketakutan menjadi hal yang wajar. Virus corona yang tengah mewabah dapat menyerang siapa saja tanpa memandang latar pekerjaan. Ketakutannya tersebut yang membuat dia ingin berhenti sejenak. Bahkan tepat hari Selasa (24/03/2020), ketika proses wawancara berlangsung, hari tersebut menjadi hari terkahir dia berjualan.

Bingung, gundah, itulah perasaan yang terpancar dari muka Latif saat mengungkapkan hal tersebut. Dia masih belum memikirkan nasib hidup ke depannya. Terlebih jika keadaan terus berlanjut seperti sekarang. Pria tersebut mungkin saja memaksakan berjualan, namun dengan kondisi seadanya. “Karena pedagang mah, kalau gak jualan, ya gak ada penghasilan. Kalau jualan baru bisa ada penghasilan,” celotehnya.

***

Muhammad Fikri Dzulfikar, Akrab dipanggil Dzule atau Fikri. Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers