web analytics
  

Seruan Social Distancing Tak Sampai ke Daerah

Kamis, 26 Maret 2020 09:00 WIB Netizen Noorma Amalia Siregar

[Ilustrasi] Social Distancing. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- “Di sana, orang sudah social distancing, belum?”

“Ha? Apa itu?” tanya balik seorang remaja yang sedang menduduki masa putih abu-abunya.

Jawaban dari remaja berseragam putih abu-abu itu menumbuhkan pertanyaan baru mengenai asalnya. Social distancing, istilah yang saat ini marak digunakan. Timbul pertanyaan dari mana asal remaja ini hingga dia tidak mengetahui istilah yang sedang hangat dibahas itu.

Terjawab sudah, Padang Sidempuan adalah tempat kelahirannya. Sebuah kota yang berdiri di hamparan Pulau Sumatera bagian Utara. Kota yang bahkan jika disebut namanya, tidak diketahui di mana keberadaannya.

Percakapan tersebut kemudian mengungkap fakta bahwa bukan hanya orang yang melakukan social distancing yang harus disorot, melainkan ada pula orang yang bahkan tidak mengerti apa itu social distancing.

AYO BACA: 8 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 Saat Keluar Rumah

AYO BACA: Cara Membuat Hand Sanitizer Sesuai Standar WHO untuk Cegah Corona

AYO BACA: Bacaan Qunut Nazilah, Doa Menangkal Malapetaka

Jangankan untuk melakukannya, artinya saja masih ada yang belum paham. Social distancing berarti tindakan untuk tidak melakukan kontak fisik sebagai langkah pencegahan dan pengendalaian infeksi virus.

Sudah meratakah penyebaran informasi kepada seluruh masyarakat? Bagaimana nasib orang yang tinggal di tempat yang bahkan namanya asing di telinga? Padang Sidempuan, salah satu kota di Sumatera Utara. Kota kecil namun tidak terpencil. Bahkan, Rumah Sakit Umum Padang Sidempuan merupakan salah satu RS rujukan pasien virus corona. Tidak ketinggalan, pengumuman kepada warga untuk tetap berada di rumah juga beredar di jalanan kota. Namun, kota kecil ini menjadi saksi bisu bahwa masih belum terlaksananya social distancing secara sempurna.

Sekolah-sekolah di Padang Sidempuan telah merumahkan siswanya. Sayangnya, para siswa tidak mendapatkan penjelasan rinci di balik “libur” tersebut. Mereka tahu bahwa sekolah “libur” karena adanya wabah virus corona. Mereka mengetahui tentang pandemi apa yang sedang terjadi, namun apakah penjelasan seperti itu sudah cukup?

“Kami libur karena Corona,” ujar si remaja berseragam abu-abu itu.

Namun, ketika sekolah mengumumkan agar murid belajar di rumah, dia mengaku pergi ke kampung halamanya di Pintu Batu untuk liburan selama seminggu. Diberlakukannya kebijakan belajar dari rumah agar siswa melakukan karantina di rumah dan tidak keluyuran. Tapi, apakah dia mengetahui itu?

“Sekarang aku ga boleh lagi keluar-keluar (keluar rumah). Kata mama lagi bahaya corona di luar,” ungkapnya yang ternyata tengah dilarang keluar rumah oleh ibunya karena wabah Covid-19.

AYO BACA: [CEK FAKTA] Ini Bentuk Virus Corona Jika Diperbesar 2.600 Kali?

AYO BACA: Cara Salam Alternatif untuk Cegah Corona Sesuai Anjuran WHO

AYO BACAIni Peta Sebaran Virus Corona di Jabar, 1.165 ODP dan 22 Positif Covid-19

Takut dengan Perantau

Warga Padang Sidempuan ternyata memiliki kewaspadaan terhadap pandemi ini. Beberapa mahasiswa rantau asal kota kecil itu memutuskan untuk pulang. Namun ternyata, keberadaan mereka tidak disambut baik oleh beberapa warga. Seperti Fristi, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, yang baru saja kembali ke Padang Sidempuan pada 23 Maret lalu.

“Pembantu rumah lari karena takut sama aku. Tiba-tiba dia kabur karena lihat aku. Katanya dia lari karena virus corona,” ujar Fristi sambil tertawa mengingat tingkah pembantunya.

Namun, dia memaklumi kewaspadaan orang-orang terhadap dirinya karena dia baru kembali dari Jawa Barat. Namun, dia mengaku bahwa orang-orang hanya waspada terhadap “pendatang”.

“Yang bikin kesal itu, orang-orang di sini masih kumpul-kumpul. Misal, di pasar masih ramai. Terus kalau ada kemalangan atau pesta juga masih hadir,” kata Fristi.

Tidak berbeda dengan Fristi, Rika yang merupakan mahasiswa Institut Pertanian Bogor juga kembali ke rumahnya yang berada di Medan. Dia menceritakan perjalannya yang menegangkan. Di bandara, dia diselimuti ketakukan akan penularan wabah, namun dia menuturkan bahwa bandara Jakarta dan Medan sepi penghuni.

“Di IPB udah sepi, mahasiswa diimbau untuk pulang. Aku kira orang di Medan peduli dengan virus ini (Covid-19), ternyata selama perjalanan dari bandara ke rumah, aku masih lihat banyak tempat yang ramai,” ujar Rika yang heran dengan orang-orang yang mengabaikan social distancing.

AYO BACA: Padanan Kata Lockdown, Corona, dan Social Distancing dalam Bahasa Indonesia

AYO BACA: 5 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 yang Keliru

AYO BACAIni 2 Obat yang Diklaim Manjur Sembuhkan Pasien Covid-19!

Bekerja dan Kegiatan Sosial

Beberapa orang tua di Padang Sidempuan mengaku tidak mengerti apa itu social distancing. Namun, mereka memiliki pengetahuan mengenai Covid-19. Pengetahuan tersebut sebagian besar didapatkan dari penjelasan anaknya.

Peran keluarga ternyata sangat dibutuhkan dalam memberikan edukasi kepada anggotanya. Namun, Bulan, mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, menceritakan bahwa orang tuanya yang telah diberikan penjelasan mengenai pandemi ini tetap tidak bisa melakukan social distancing. Bukan karena ketidakinginan melainkan ketidakmampuan.

“Iya, udah tahu untuk jaga jarak. Tapi, harus tetap kerja dan bersosialisasi. Apalagi ada kemalangan dan pesta, mau tidak mau harus hadir,” ujar Bulan saat menceritakan kondisi ibunya yang harus tetap bersosialisasi di lingkungannya.

Beberapa warga yang diwawancarai mengaku kesulitan untuk melakukan social distancing karena harus bekerja, belanja, dan menghadiri kegiatan sosial di daerahnya. Bahkan, Helena yang merupakan Pegawai Negeri Sipil Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Selatan bercerita belum ada kebijakan bekerja dari rumah atau Work from Home ditetapkan.

“Perjalanan dari Padang Sidempuan ke Sipirok (lokasi kantor) sekitar satu setengah jam. Biasanya saya naik angkot atau bus yang disediakan oleh kantor. Di bus tidak ada jarak tiap kursi penumpang, kontak fisik tidak bisa dihindari,” ujarnya.

Pemerintah pusat terus menggembar-gemborkan pentingnya social distancing dalam menghadapi pandemi ini, kenyatannya di daerah masih belum terlaksanakan dengan baik. Lalu, ini salah siapa?

***

Noorma Amalia Siregar, Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran.  Lahir pada tanggal 21 September 1999 dan hobi menonton.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers