web analytics
  

[Lipkhas] Bandung Lautan Api dan Sejarah yang Ditangisi

Minggu, 22 Maret 2020 08:53 WIB Rizma Riyandi
Bandung Baheula - Baheula, [Lipkhas] Bandung Lautan Api dan Sejarah yang Ditangisi, bandung baheula, bandung lautan api, bandung, sejarah bandung

Kolonel Purnawirawan Lily Sumantri kala masih menjabat sebagai Ketua Tugas Prakasa Siliwangi Jawa Barat. (Arsip Daftar Cuplikan Sejarah Penting Dalam Periode Perjuangan Merebut dan Membela Kemerdekaan Indonesia/Ilham Sigit)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kolonel Purn. Lily Sumantri masih berusia 20 tahun saat ditunjuk sebagai Komandan Pleton Siliwangi. Meski sudah memasuki usia senja, masih jelas di ingatan Lily bagaimana isak tangis warga Bandung saat harus merelakan harta bendanya yang harus dibakar. Menurut Lily, peristiwa Bandung Lautan Api merupakan kisah tragis menyedihkan yang terus membekas di benaknya.

“Banyak orang merasa bahwa Bandung Lautan Api merupakan peristiwa heroik yang patut dibanggakan. Padahal, kami (warga Bandung) merasa bahwa peristiwa tersebut  adalah peristiwa yang menyedihkan dan meresahkan,” katanya saat ditemui di kediamannya di Jalan Progo, Bandung, Jawa Barat, Senin (16/3/2020).

“Kami harus kehilangan tempat tinggal, aset dan segala kekayaan. Saya pun termasuk salah sattu yang membakar rumah saya,” kenang  pria berusia 93 tahun terseut.

Menurut Lily, rumah warga di Bandung kala itu belum seperti sekarang. Saat itu, rumah di Bandung masih banyak yang terbuat dari kayu dan bambu sehingga mudah dibakar.

Dengan perbekalan yang sangat minim, para pejuang yang dipimpin Letnan Kolonel Omen Abdurahman berangkat menuju wilayah pinggiran kota Bandung. Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, Lily dan kolega kembali ke Bandung. Mereka mendapati kampung halamannya yang sudah habis tak bersisa. Saat mereka kembali, Bandung sudah dihuni oleh orang-orang Tiongkok yang lebih dulu pulang dari pengungsian.

Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada 24 Maret 1946. Berdasarkan arsip Daftar Cuplikan Sejarah Penting Dalam Periode Perjuangan Merebut dan Membela Kemerdekaan Indonesia yang ditulis langsung oleh Lily, peristiwa Bandung Lautan Api dilatarbelakangi oleh pihak Sekutu yan dibutakan amarah dan rasa dendam karena berulang kali menderita kekalahan telak pada pertempuran di Bandung dan Sukabumi.

Pertempuran pertama terjadi pada 9 Desember 1945. Saat itu, konvoy truk tentara Sekutu yang membawa peralatan logistik dari Jakarta menuju Sukabumi diserang secara membabi buta oleh pihak Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Resimen TKR Sukabumi yang dipimpin Kolonel Eddie Sukardi mengerahkan empat batalyon di bawah pimpinan Mayor Yahya Baheam, Mayor Harry Sukardi, Mayor Yunus dan Mayor Abdurahman. Mereka ditugaskan untuk berjaga di jalan raya sepanjang 81 kilometer kota Sukabumi.

Kemudian, mereka menyiapkan berbagai perangkap dan ranjau darat di daerah Bojongkokosan sebagai wilayah killing ground. Sesampainya di sana, rencana pun berhasil. Tank Shermon milik Inggris terjerembab jatuh ke dalam perangkap. Konvoy sekutu pun dihujani ribuan bom Molotov dan granat. Sekutu pun mundur ke Cimahi dengan babak belur. Tercatat tiga tentara Inggris dan 24 pasukan Gurkha tewas dan lebih dari 80 tentara sekutu menderita luka berat.

Kekalahan sekutu yang kedua terjadi pada 10 Maret 1946. Tak jera dengan kekalahan pertama, Konvoy besar-besaran lagi-lagi dilakukan pihak Sekutu. Mereka berencana membawa peralatan logistik dari Jakarta menuju Bandung, melalui Bogor dan Sukabumi. Sekutu kembali menerima hujan granat dan molotov ketika sampai di Sukabumi. Tercatat delapan orang tewas dan 25 orang luka berat pada pertempuran yang berlangsung dari malam hingga fajar tersebut.

Pada tanggal 11 Maret 1946, pihak Sekutu berencana memindahkan basis militernya dari Jakarta ke Bandung. Konvoy terpanjang dari gabungan terbesar tentara Sekutu pun dihadang di perjalanan. Pertempuran pun bergolak selama lima hari. Pada 15 Maret 1946, Sekutu datang ke Bandung dengan babak belur. Tercatat sekitar 115 tentara sekutu luka parah, 20 diantaranya tewas.

Didasari pada kerugian perang tersebut lah, Inggris memberikan ultimatum melalui pesawat perang untuk mengosongkan kota Bandung selambat-lambatnya tengah malam 24 Maret 1946. Hal tersebut juga didasari oleh rencana Sekutu yang ingin menjadikan Bandung sebagai basis militer yang baru.

Menanggapi ultimatum tersebut, Perdana Menteri Sutan Syahrir mewakili pemerintah pusat memerintahkan TKR untuk menuruti perintah Sekutu, dengan alasan militer Sekutu lebih kuat dibanding TKR.

Akan tetapi, pejuang Bandung yang sudah mengadakan rapat di kediaman Wali Kota Bandung kala itu, Syamsurizal menolak perintah tersebut. Kepala Polisi TKR Mayor Rukana mengusulkan agar Bandung dibakar habis saja.

Letnan Kolonel Sutoko berpendapat bahwa semua tentara bersama rakyat harus meninggalkan Bandung. Langkah tersebut diperkuat dengan perintah Yogyakarta untuk mempertahankan setiap jengkal bumi parahiyangan.

Lily yang merupakan saksi hidup karena melihat langsung pertemuan bersejarah tersebut setuju dengan langkah tersebut. Dia mengaku bahwa amarahnya bergelora ketika ultimatum Inggris datang. Akan tetapi, Lily tak menyesali keputusannya.

"Banyak sekali kerugian-kerugian yang diakibatkan dari perisiwa tersebut. Tapi saya yakin tentara Inggris lah yang paling merugi atas dibumihanguskannya  kota Bandung,” ujarnya.

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers