web analytics
  

Indonesia Emas, Generasi Emas

Minggu, 22 Maret 2020 04:19 WIB Netizen Sarah Nurlaily, SST

Ilustrasi. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah perjuangan panjang dan penuh pengorbanan melawan penindasan penjajah bangsa lain. Pada tahun 2020, umur Indonesia sudah mencapai 75 tahun. Perjuangan tidak lagi melawan penjajah tetapi perjuangan di dalam negara Indonesia sendiri. Melawan radikalisme, terorisme, inteloransi, perbuatan yang dapat merusak generasi penerus bangsa seperti narkoba, penyebaran hoaks, dan lain-lain.

Para generasi penerus bangsa yang mempunyai semangat yang membara, tidak harus lagi perjuang dengan mengangkat senjata seperti dahulu, tetapi mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, dapat memilah informasi, selalu belajar dan berinovasi untuk kemajuan bangsa.

Pada tahun 2045 mendatang, Indonesia akan mencapai usia 1 abad. Tersisa 25 tahun lagi dari sekarang. Pada tahun tersebut, Indonesia akan memasuki generasi emas. Akan terjadi bonus demografi dengan struktur populasi 70 persen berada pada kelompok usia produktif (15-64 tahun), sedangkan 30 persen lainnya berada pada kelompok usia nonproduktif (usia lebih dari 64 dan di bawah usia 15 tahun). Berbagai rencana dan kebijakan yang matang perlu disiapkan agar bonus demografi tersebut dapat menjadi peluang Indonesia untuk lebih maju, bukan sebagai beban negara.

Fokus utama menyongsong Indonesia emas adalah pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Bagaimana menjadikan SDM yang lebih berkualitas tetapi mempunyai moral dan etika yang baik. Dengan nilai-nilai keagamaan, tidak ada lagi peribahasa pinter tapi keblinger. Indonesia bukan negara yang sekuler, tetapi semua lini kehidupan diseimbangkan dengan nilai-nilai keagamaan.

Pendidikan merupakan salah satu kunci utama penentu generasi emas. Pendidikan dapat membuat seseorang untuk berpikir luas, membedakan baik atau buruk berikut risiko yang ditanggung, rasa ingin berkembang dan memperbaiki kualitas hidup.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, penduduk yang berusia 7 tahun, memiliki harapan untuk mengikuti Pendidikan selama 12,95 tahun atau setara Pendidikan SMA sederajat. Ketersedian sarana Pendidikan sampai ke tingkat Perguruan Tinggi (PT) beserta tenaga pengajar perlu ditambah dan ditingkatkan kualitasnya. Kemudahan atau akses menuju sarana pendidikan juga perlu diperhatikan. Sedangkan pemerataan pendidikan menjadi hal yang masih sulit diwujudkan. Sarana pendidikan biasanya terkonsentrasi pada daerah perkotaan. Seharusnya Pendidikan harus dapat dinikmati oleh semua daerah di Indonesia. Diharapkan ke depannya tidak ada daerah yang tertinggal, dengan pendidikan seseorang dapat memajukan daerahnya sendiri. Hal yang tak kalah pentingnya adalah penguasaan teknologi dan penciptaan teknologi baru. Dengan hadirnya teknologi, semua menjadi efektif dan efisien dalam segala bidang kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan berbasis dan berorientasi teknologi.

Penentu generasi emas selanjutnya adalah Kesehatan. Seperti pepatah yang mengatakan Mensana In Corpore Sano yang artinya didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, begitu pula sebaliknya, di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Jiwa dan raga merupakan hal yang saling berkaitan.

Salah satu indikator tingkat kesehatan adalah angka harapan hidup. Berdasarkan data bps, bayi yang lahir pada tahun 2019, memiliki harapan untuk dapat bertahan hidup hingga 71,34 tahun. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahunnya. Selain itu, untuk meningkatkan kesehatan, diperlukan sarana prasarana dan tenaga kesehatan yang memadai. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia, kebutuhan akan kesehatan juga meningkat.

Dunia kesehatan sedang diuji, pada awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan kehadiran virus corona. Virus ini menyebar dengan mudah dan cepat di banyak negara. Pembatasan ruang gerak manusia dan social distance menyebabkan kemunduran pada berbagai sektor ekonomi. Indonesia dituntut siap menghadapi situasi ini. Ketersediaan sarana kesehatan dan tenaga medis yang menjadi lini terdepannya. Di masa yang akan datang, bukan tidak mungkin Indonesia dihadapkan pada situasi yang sesulit ini. Oleh karena itu Indonesia jangan sampai tertinggal pada pengetahuan dan teknologi yang lebih maju guna meningkatkan taraf hidup sehat.

Generasi emas berikutnya harus mampu menjadi generasi entrepreneur. Tidak hanya menjadi generasi konsumen tetapi menjadi produsen yang berdaya saing global.  Perdagangan yang semakin bebas, memudahkan masuknya barang-barang dari luar negri dengan kualitas yang lebih baik tetapi dengan harga yang lebih murah. Ke depan, generasi emas harus mampu bersaing menjadi produsen yang berteknologi sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik dengan biaya produksi yang lebih murah. Oleh karena itu dapat mengurangi ketergantungan dengan negara lain.

Semua kebijakan yang diambil didasarkan pada tujuan meningkatkan kemamuran dan taraf hidup masyarakat guna menuju Indonesia maju dan berkeadaban.

Sarah Nurlaily, SST, Fungsional Statistisi Muda bps Kabupaten Bogor.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers