web analytics
  

Saat Kota Kurang Feminis

Rabu, 18 Maret 2020 22:14 WIB Netizen Djoko Subinarto

Ilustrasi -- Feminis. (pixabay)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

Selain meningkatkan infrastruktur dan layanan publik yang andal, membangun keluarga dan lingkungan yang harmonis menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan kota yang benar-benar aman.

Sebagai pusat beragam jenis aktivitas komersial dengan perputaran uang sangat tinggi, kawasan perkotaan senantiasa menyedot banyak kalangan untuk datang dan bermukim. Buntutnya, kawasan-kawasan perkotaan kita pun penuh sesak dengan ameka jenis bangunan dan juga penduduk.

Repotnya, terlalu banyak orang biasanya bakal memicu timbulnya seabrek persoalan. There’re too many men, too many people, making too many problems, begitu pernah dinyatakan Phil Collins, vokalis kelompok art rock asal Inggris Genesis dalam salah satu lagunya bertajuk “Land of Cofusion”.

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh kawasan perkotaan adalah masalah kriminalitas, yang berimbas kepada keamanan lingkungan kota. Ada sejumlah indikator untuk menentukan apakah sebuah kota itu cukup aman atau tidak bagi warganya. Di antaranya adalah apakah segenap warga kota dapat menikmati ruang-ruang publik serta dapat menikmati kehidupan publik yang ada tanpa dihantui perasaan cemas dan takut.

Indikator lainnya adalah terciptanya kondisi di mana warga kota tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif sehingga hak-hak ekonomi, sosial, politik dan budaya mereka terjamin dengan sebaik-baiknya. Yang juga tidak kalah penting adalah seluruh warga kota dapat berpartisipasi dalam setiap proses pembuatan keputusan yang berdampak pada kehidupan masyarakat luas di mana mereka tinggal.

Pada tataran institusi pemerintahan, indikator kota yang aman ditunjukkan dengan kehadiran nyata negara dan pemerintah lokal yang menyediakan perhatian, aturan pencegahan serta hukuman bagi setiap bentuk kekerasan terhadap siapa pun, sekecil apa pun bentuk kekerasaan itu.

Secara umum, selain dipengaruhi oleh tingkat tindak kriminalitas, terdapat beberapa aspek lain yang dapat memengaruhi perasaan aman warga kota di ruang-ruang publik kawasan perkotaan.

Pertama, kondisi infrastruktur kota. Ketersediaan fasilitas umum yang buruk seperti jalan tanpa penerangan yang memadai, toilet umum yang kumuh, kotor dan tidak terjaga, transportasi umum yang tidak layak adalah beberapa hal yang dapat menimbulkan perasaan tidak aman bagi warga.

Kedua, dominasi jender. Tidak jarang dalam pemanfaatan ruang-ruang publik terjadi ketimpangan kekuasaan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Ruang-ruang publik akhirnya didominasi oleh kaum laki-laki sehingga kota menjadi kurang feminis. Ini sedikit banyak menciptakan perasaan kurang aman bagi kaum perempuan. 

Ketiga, prosedur dan sikap sosial. Prosedur yang berbelit serta ketiadaan sensitivitas dari para aparat penegak hukum kerap menjadikan warga kota semakin tidak terlindungi dari berbagai aksi kekerasaan yang menimpa mereka tatkala mereka harus melaporkan kasus-kasus kekerasan yang mereka alami. 

Karena kota pada hakikatnya milik semua warganya tanpa terkecuali, maka menciptakan dan mengembangkan lingkungan kota yang aman bagi segenap warga kota adalah sebuah kewajiban mutlak bagi para pengelola kota di mana pun.

Salah satu kunci menciptakan kota yang aman dapat dilakukan dengan penyediaan dan pengelolaan infrastruktur serta layanan publik yang andal. Misalnya, menyediakan penerangan jalan yang memadai, pemeliharaan berbagai ruang publik, penyediaan toilet umum yang bersih, aman dan nyaman, menyediakan angkutan umum serta jalur pejalan kaki yang baik dan aman, memasang perangkat closed-circuit television (CCTV) di tempat-tempat umum, meningkatkan jumlah petugas polisi untuk berpatroli secara teratur, baik dengan seragam resmi maupun dengan pakaian preman, serta menyediakan nomor layanan khusus (hotline) untuk pelaporan dengan pelayanan prima. 

Di samping itu, memberantas kemiskinan, mengurangi tingkat pengangguran, menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas dan benar-benar gratis, menciptakan iklim keluarga dan lingkungan yang toleran dan harmonis adalah langkah-langkah yang penting pula dilakukan dalam upaya mencegah generasi muda kita terperangkap kepada berbagai persoalan kehidupan pelik yang bisa mendorong mereka melakukan tindakan-tindakan melanggar hukum, seperti melakukan berbagai aksi kriminalitas, yang ujungnya dapat mengancam rasa keamanan warga.

Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers