web analytics
  

[Bandung Pisan] Trotoar Hak Pejalan Kaki, Kelurahan Lebak Gede Segera Tertibkan PKL Simpang Dago

Rabu, 18 Maret 2020 20:44 WIB Vina Elvira

Lurah Lebak Gede Cecep. (Ayobandung.com/Vina Elvira)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh wilayah Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung adalah bandelnya PKL di zona merah PKL Simpang Dago. Selama ini, sejumlah upaya penertiban telah dilakukan, tapi para PKL tetap saja kembali berjualan di kawasan tersebut.

"Itu kan masalah klasik, dulu sudah ditertibkan dialihkan atau direlokasi ke arah Terminal Dago ke atas. Tapi tetep aja setelah direlokasi mereka sembunyi-sembunyi jualan lagi ke Pasar Simpang," ujar Lurah Lebak Gede Cecep kepada Ayobandung.com, di Kantor Kelurahan Lebak Gede, Kota Bandung, Jumat (13/3/2020)

Cecep mengatakan, saat ini pihak kelurahan bersama lembaga terkait seperti LPM, RW, Babinsa, dan Bimaspol tengah berupaya menertibkan kembali PKL di zona merah itu. Untuk dokumen resminya sendiri, akan segera Cecep kirim ke Pemerintahan Kota Bandung.

"Nah itu sedang saya upayakan, berkoordinasi tetap dengan semua stake holder LPM, RW dan juga Babinsa, Bimaspol kita senantiasa melakukan pembinaan ke sana. Dan dokumen resminya Senin (16/3/2020) akan saya laporkan ke pusat, ke pak wakil walikota sebagai ketua satgas PKL Kota Bandung," ungkap Cecep.

Menurut Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima, zona PKL terbagi menjadi tiga, yaitu zona merah, lokasi yang tidak boleh terdapat PKL; zona kuning, lokasi yang bisa tutup buka berdasarkan waktu dan tempat; dan zona hijau, lokasi yang perbolehkan PKL berdagang. 

Kawasan Simpang Dago termasuk ke dalam salah satu zona merah PKL. Artinya, tidak boleh ada PKL yang berdagang di kawasan tersebut.

Namun, pada kenyataannya masih saja ada PKL yang berdagang di sana. Cecep mengaku sudah pernah mengunjungi mereka dan memberikan  pembinaan. Hanya saja, hal itu tidak juga membuat para PKL jera.

AYO BACA : [Bandung Pisan] Begini Upaya Kelurahan Lebak Gede Lestarikan Kesenian Sunda di Wilayahnya

Akhirnya, Kelurahan Lebak Gede menggunakan jalur lain guna menertibkan mereka, yaitu dengan melayangkan reprimand (teguran) satu. Apabila setelah pemberian teguran pertama tidak diindahkan, kelurahan akan memberikan teguran kedua.

"Kemarin saya pun melakukan pembinaan langsung ke lapangan, mendata mereka minta dokumen kependudukan mereka, KTP, dan KK-nya. Sekaligus kita tegur reprimand satu. Setelah reprimand satu, saya akan panggil, kalau masih berjualan seterusnya reprimand dua," terangnya.

Menurut Cecep, para PKL dinilai telah merenggut hak pejalan kaki untuk mendapatkan akses fasilitas publik. Selain itu, PKL di Simpang Dago juga merupakan salah satu pemberi kontribusi terhadap kemacetan di wilayah tersebut, karena para PKL menggelar lapaknya hingga ke badan jalan.

"Ini kan hak publik. Jadi pejalan kaki turun ke jalan, diperparah lagi dipinggir jalan mereka ada yang jualan. Kadang-kadang yang beli gak mau tahu, berhenti aja di situ, yang dikhawatirkan kan keserempet kendaraan, karena terlalu tengah jalannya," terang Cecep. 

Cecep berharap, para PKL bisa mengerti tanpa perlu ada eksekusi penertiban dari pihak yang berwenang. Dia meminta, PKL untuk berpindah ke kawasan Tubagus Ismail. 

"Bergeserlah ke area Tubagus Ismail, kan itu bukan jalur merah. Kalau Dago kan itu etalase Kota Bandung,bketika masuk ke sini, ngelihat Dago yang begitu sedih juga," ujarnya.

Selama ini, Cecep juga sudah meminta para PKL untuk berdagang hanya sampai pukul enam pagi. Tapi pada kenyataannya, hingga pukul sembilan pun lapak mereka masih memenuhi badan. "Perjanjainnya dulu katanya sampai jam enam selesai, tapi buktinya saya datang sampai setengah sembilan masih saja ada aktivitas, " jelasnya.

AYO BACA : [Bandung Pisan] Punya Banyak Potensi, RW 07 Kelurahan Lebak Gede Siap Jadi Kampung Percontohan

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers