web analytics
  

[Bandung Pisan] Ngopi Pakai Biodegester Sampah ala Kelurahan Maleer

Senin, 16 Maret 2020 05:26 WIB Fira Nursyabani

Wali Kota Bandung Oded M. Danial saat meninjau pengolahan sampah di Kelurahan Maleer. (Dok. Humas Setda Kota Bandung)

BATUNUNGGAL, AYOBANDUNG.COM -- Kesadaran masyarakat Kota Bandung di bidang kebersihan semakin tinggi. Setidaknya itu yang ditunjukan warga RW 12 kelurahan maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. 

Warga di wilayah tersebut telah mampu mengatasi sampah dari sumbernya. Warga melakukan itu melalui program Kurang, Pisahkan, dan Manfaatkan (Kang Pisman). Wilayah ini juga memiliki tempat pengolahan sampah sendiri. 

Di RW 12 ada bangunan seluas 150 meter persegi yang digunakan untuk mengelola sampah melalui berbagai metode, mulai dari biodegerster, Lodong Sesa Dapur (Loseda). Ada juga metode yang cukup unik juga yakni metode bakteri.

Metode tersebut menggunakan sampah anorganik yakni botol air minum dijajarkan yang berfungsi untuk menyaring air limbah atau air kotor menjadi jernih. 

“Metode bakteri ini dibuat dari sampah anorganik yakni botol minuman, disimpan. Kita bentuk seperti papan penyaringan nantinya keluar air limbah menjadi bersih,” terang Ketua RW 12 kelurahan maleer Jaya, di Kantor kelurahan maleer.

Di wilayah ini, warga juga menggunakan metode biodegester yang mampu menghasilkan gas. Hasil tersebut dimanfaatkan oleh warga khususnya pasukan Linmas ketika rehat dalam tugas malamnya. Mereka bisa memasak air untuk menyeduh kopi dengan gas hasil biodegester.

“Ada juga metode biodegester menghasilkan gas yang sampai saat ini dimanfaatkan oleh linmas untuk buat kopi dan sebagainya,” beber Jaya. 

Untuk sampah organik, wilayah ini telah mengelolanya selama 3 bulan dan telah menghasilkan kompos. Warga kemudian menggunakannya untuk memupuki tanaman.

“Berjalan 3 bulan hasilnya, kompos sebanyak 8 kwintal sudah tersedia. Hasil ini tidak kita jual, tetapi dibagikan kepada warga untuk dimanfaatkan, sehingga tanaman di rumahnya masing-masing menjadi subur dan asri,” katanya. 

Atas inovasi itu, ia akui dukungan dan antusias warga mendukung dengan berbagai metode maupun gerakan kebersihan ini. 

“Warga di sini mendukung sepenuhnya. Menyambut baik untuk lingkungan,” tuturnya. 

Melihat hal itu, Wali Kota Bandung Oded M. Danial sangat mengapresiasinya. Ia bangga kepada masyarakat karena sudah mandiri untuk mengelola sampah demi lingkungan yang bersih dan nyaman. 

“Mang Oded senang. Semakin ke sini, warga semakin mandiri bisa mengelola sampah mulai dari sumbernya yaitu rumah mereka masing- masing,” ujar Oded. 

“Hari ini meninjau bahwa pengelolaan sampah disini cukup bangus dengan konsep pakai bakteri, Loseda dan metode lainnya. Mereka sudah melakukan pengelolaan sampah yang baik, sampahnya sudah dselesaikan mudai dari sumber juga bisa mengelola sampah dengan berbagi metode,” imbuhnya.

Ia pun menyarankan kepada kewilayahan yang akan melakukan studi banding, bisa mengunjungi ke wilayah Maleer. 

“Mudah-mudahan RW lain di Kota Bandnug bisa mengadakan studi banding di sini,” sarannya. 

Oded pun berpesan agar setiap kewilayahan bisa menerapkan metode yang bisa mengelola sampah secara mandiri. 

“Kewilayah bisa merapkan berbagai metode. Dorongan Pemkot Bandung yakni melakukan sosialisasi dan edukasi kepada lurah dan camat. Kalau mau selesai (persampahan) di Kota Bandung itu biasanya sejalan dengan formal leader dan informal leader seperti RT, RW dan tokoh masyarakat, itu harus solid maka hasilnya akan bagus,” ujar Oded. 

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers