web analytics
  

Belajar Tanggulangi Virus Corona dari Taiwan

Rabu, 11 Maret 2020 14:19 WIB Fira Nursyabani

Ilustrasi pemeriksaan virus corona. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

TAIPEI, AYOBANDUNG.COM -- Saat negara-negara di dunia sedang berusaha untuk menahan wabah virus corona. Taiwan dapat menjadi contoh bagaimana sebuah negara dapat mencegah terjadinya penyebaran virus itu lebih lanjut.

Taiwan berjarak sekitar 130 Kilometer dari Cina, tempat pusat penyebaran virus itu berasal. Banyak warga Taiwan yang kembali dari Cina untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekitar 2.000 Turis dari Cina datang ke Taiwan sehingga potensi penyabaran di Taiwan sangat besar.

Akan tetapi, Taiwan hanya mengalami 47 kasus virus corona dan satu kasus fatal sejak Selasa (10/3/2020). Jumlah tersebut sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kasus di Cina yang mencapai 80.000 lebih kasus.

Perbedaan tersebut sangat signifikan walaupun populasi dari kedua negara terhitung sangat padat. Taiwan yang memiliki penduduk 23 juta jiwa dan Cina memiliki penduduk 1.4 miliar jiwa. 

Jumlah penderita Covid-19 di Taiwan juga terhitung lebih sedikit dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang terpapar virus corona lainnya seperti Korea Selatan dengan 7.500 kasus dan Jepang dengan 530 kasus.

Dari 100 negara yang terpapar virus corona, Taiwan memiliki rasio penyebaran terendah di dunia sebesar 1 dari 500.000 orang, padahal negara ini memiliki lokasi yang sangat berdekatan dengan Cina dan warganya yang sering keluar dan masuk negara tersebut.

Apa saja yang dilakukan Taiwan yang bisa dipelajari negara lain untuk mengatasi penyebaran virus Corona?

Waspada dan Proaktif

Karena berdekatan dengan Cina dan memiliki bahasa yang sama, Taiwan mengetahui lebih awal soal penyebaran virus yang terjadi di Wuhan. Akan tetapi, tindakan proaktif yang dilakukan membantu dalam pencegahan virus lebih lanjut.

Pada 31 Desember 2019, hari yang sama pada saat Cina memberitahukan WHO telah terjadi penyebaran penyakit pneumonia misterius, pusat pengendalian dan penyebaran penyakit (CDC) Taiwan langsung memerintahkan adanya pemeriksaan untuk penumpang pesawat yang datang dari Wuhan.

Walaupun tidak memiliki hubungan yang baik dengan Beijing, Taiwan berhasil mendapatkan izin untuk mengirim tim ahli untuk memeriksa lapangan pada 12 Januari 2020.

"Mereka tidak mengizinkan kami untuk melihat apa yang mereka tidak ingin kita lihat, tapi para ahli tidak optimis ketika melihat situasi." Ujar perwakilan pemerintahan, Kolas Yotaka, kepada NBC News.

Sesudah tim tersebut kembali, Taiwan langsung mengarahkan rumah sakit untuk menguji dan melaporkan kasus yang terjadi. Hal ini membantu pemerintahan dalam mengidentifikasi siapa yang terinfeksi, mengikuti jejak mereka dan mengisolasi semua yang melakukan kontak, sehingga mencegah virus menyebar ke masyarakat.

Semua ini dilakukan sebelum Taiwan mengkonfirmasi terjadinya kasus Corona pada 21 Januari 2020.

Mempersiapkan Komando Pusat

Sama Pentingnya, CDC Taiwan mempersiapkan Komando Pusat pada tangal 20 Januari 2020 yang berhasil mengeluarkan tindakan pencegahan dengan cepat.

AYO BACA : Wanita di Inggris Isolasi Diri 5 Hari karena Covid-19, pada URL https://www.ayobandung.com/read/2020/03/11/82223/wanita-di-inggris-isolasi-diri-5-hari-karena-covid-19

Jason Wang, professor pediatrik sekaligus analis kebijakan, mengatakan, Taiwan sudah membuat dan mengimplementasikan daftar tindakan yang setidaknya berisi 124 tindakan selama lima minggu terakhir untuk melindungi kesehatan publik.

"Kebijakan dan aksi yang ditempuh lebih dari sekedar pengaturan perbatasan karena mereka menyadari itu saja tidak cukup," ujar dia.

Dikepalai Menteri kesehatan Chen Shih-chung, komando pusat ini tidak hanya menginvestigasi kasus positif dan terduga Corona, tapi juga bekerja sama dengan pemerintahan lokal untuk menkoordinasi tindakan di dalam Taiwan, termasuk mengalokasikan dana, menggerakan personel, dan menganjurkan mengdisinfeksi sekolah.

Mengambil tindakan yang cepat dan tegas

Taiwan juga mengambil tindakan keras sejak dini. Pada 26 Januari 2020, lima hari setelah mengkonfirmasi pasien pertama virus corona, Taiwan melarang kedatangan wisatawan dari Wuhan lebih awal jika dibandingkan dengan negara lain.

Tidak lama kemudian, mereka juga melarang kedatangan warga dari Cina, kecuali kota-kota tertentu, dan hanya warga negara Taiwan yang diperbolehkan masuk.

Menggunakan Teknologi untuk Mendeteksi dan Menyelidiki Kasus.

Setelah mengamankan perbatasan, Taiwan menggunakan teknologi untuk melawan virus. Monitor suhu di bandara setelah terjadinya wabah SARS pada 2003 untuk mendeteksi orang-orang yang memiliki demam, salah satu gejala virus corona.

Penumpang juga dapat memindai kode QR untuk melaporkan riwayat perjalanan dan gejala kesehatan secara online. Data-data ini kemudian diteruskan kepada CDC Taiwan.

Orang-orang yang datang dari daerah yang terinfeksi berat virus corona akan dikarantina selama 14 hari di rumah mereka sendiri walaupun tidak sakit. Lokasi mereka dilacak melalui ponsel yang membagikan lokasi mereka. Mereka yang melanggar akan dikenakan denda yang cukup besar.

Hal ini juga berlaku terhadap orang yang tidak melaporkan gejala mereka. Seorang pria terkena denda 10.000 dolar AS karena tidak melaporkan gejala setelah kembali dari Wuhan dan langsung mengunjungi klub dansa keesokan harinya.

Pihak berwenang juga sigap dalam menentukan siapa yang sudah melakukan kontak dengan yang terinfeksi, melakukan tes, dan menaruh mereka ke dalam karantina rumah. “Mereka menemukan kasus baru dengan mengecek kembali orang-orang yang teruji negatif,” Jelas Wang.

Memastikan Ketersediaan Barang

Untuk memastikan ketersediaan masker, pemerintah langsung melarang pabrik untuk mengekspor masker, mengatur distribusi, dan menetapkan harga sebesar 16 sen dolar AS per masker.

Pemerintah juga langsung meningkatkan produksi dengan membuka garis produksi baru dan mempekerjakan tentara di pabrik-pabrik.

Masker-masker tersebut merupakan alat untuk melindungi kesehatan mereka yang berada di kota-kota Taiwan yang padat penduduk. Hal ini membuat mereka merasa aman dan tidak panik menghadapai situasi.

AYO BACA : Menkes Inggris Dilaporkan Positif Covid-19

Mengedukasi Publik

Pemerintah juga meminta stasiun televisi dan radio untuk menyiarkan pesan layanan masyarakat yang mengajarkan bagaimana virus tersebar, pentingnya mencuci tangan, dan kapan seseorang harus menggunakan masker secara berkala.

“Kami pikir saat dengan informasi yang transparan dan masyarakat memiliki pengetahuan medis yang cukup, ketakutan mereka akan cukup berkurang.” Jelas Kolas, seorang Jubir pemerintahan.

Masyarakat mengetahui bahwa kebanyakan pasien memiliki gejala ringan dan bahkan tidak memiliki gejala sama sekali sehingga angka kematian mungkin lebih rendah daripada yang dilaporkan.

Mereka juga menyadari bahwa riwayat perjalanan dan kontak mereka dengan pembawa virus lah yang meningkatkan tingkat risiko mereka terinfeksi, bukan ras atau kewarganegaraan mereka. Hal ini membantu menurunkan diskriminasi.

Buat Publik Terlibat

Tu Chen-yang, seorang kepala sekolah di Taiwan, menjelaskan, kerja sama antara publik, termasuk para murid, dengan tindakan yang diambil pemerintah sangat penting dalam pencegahan penyebaran virus corona.

“Lebih dari 95% orang tua murid kami mengukur suhu anak mereka dan melaporkannya ke pihak sekolah sebelum mereka sampai ke sekolah. Terlepas dari tindakan pemerintah, masyarakat harus bertanggungjawab terhadap kesehatan mereka sendiri," jelasnya.

Seorang manager bank, Nature Lin, juga memiliki pandangan yang sama. Ia mengecek suhu para karyawannya saat mereka tiba dengan kamera pendeteksi suhu di lobi kantornya.

“Kami sudah mempersiapkan pembasmi kuman dan alat pengukur suhu selama liburan,” kata dia.

Kebanyakan kantor, sekolah, dan sarana olahraga masyarakat mengecek suhu pengunjung dan melarang orang demam untuk memasuki gedung. Gedung apartemen juga menyediakan hand sanitizer di dalam dan di luar lift.

Belajar dari Pengalaman

Taiwan berhasil mengaplikasikan pelajaran yang mereka dapat setelah wabah SARS pada 2003 mengakibatkan 73 korban jiwa dan merugikan perekonomian

Kali ini, warga dan pemerintah Taiwan sudah siap, dan kesiapan itulah yang meningkatkan tingkat kepuasan terhadap Presiden Tsai Ing-wen.

Terakhir, Kolas mengatakan sistem asuransi kesehatan negaranya yang mencangkup 99% dari populasi, berperan sangat penting dalam memerangi penyebaran virus corona.

“Asuransi kesehatan Taiwan membuat masyarakt tidak takut untuk pergi ke rumah sakit. Jika Anda waswas apakah Anda terjangkit virus corona, Anda tidak harus khawatir anda tidak mampu membayar tes rumah sakit,” Jelasnya.

Kolas mengatakan, seseorang bisa mendapatkan tes gratis dan jika anda harus diisolasi selama 14 hari, pihaknya akan menanggung makanan, tempat tinggal, dan biaya kesehatan. “Jadi tidak ada orang yang menghindari rumah sakit karena tidak mampu membayar," ungkap dia.

AYO BACA : Cina Siap Keluarkan Vaksin Corona Bulan Depan

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers