web analytics
  

Konten Media Sosial Pemicu Terbesar Remaja Depresi

Senin, 9 Maret 2020 11:52 WIB

[Ilustrasi] Remaja depresi. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Psikiater Nova Riyanti Yusuf menyebutkan bahwa konten media sosial merupakan faktor terbesar pemicu depresi pada kalangan anak usia remaja.

"Yang menjadi faktor pemicu depresi pada anak usia SMP dan SMA paling tinggi adalah media sosial, kedua prestasi, dan ketiga bullying verbal," katanya.

Pernyataan itu disampaikan oleh perempuan yang memperoleh gelar doktoral dari bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam "Summarecon Expo 2020" di Summarecon Mal Bekasi, Minggu (8/3/2020).

AYO BACA : Ibu yang Punya Anak di Usia Terlalu Muda Miliki Risiko Kesehatan Mental

Faktor pemicu depresi remaja itu, menurut Nova, berdasarkan hasil penelitian terhadap 1.387 remaja usia SMP dan SMA pada 2016. "Hasilnya 30% punya potensi depresi. Sedangkan 19,8% berisiko punya ide untuk bunuh diri," katanya.

Psikiater yang juga seorang penulis dan mantan Anggota DPR 2014-2019 itu kembali melakukan penelitian serupa pada 2018 terhadap 980 responden. Hasilnya angka depresi tetap tinggi, namun dengan tingkat keinginan bunuh diri yang relatif menurun dari angka 2016.

"Hasilnya 68% berisiko depresi dan 13,8% punya ide bunuh diri," katanya.

AYO BACA : 8 Bulan Jadi TKW di Arab Saudi, Warga Padalarang Depresi

Inisiator Undang-Undang Kesehatan Jiwa itu berpesan agar orang tua bisa cepat tanggap melihat gejala depresi pada anak guna mengantisipasi perilaku yang tidak wajar. Indikator depresi pada remaja bisa dipantau melalui perolehan nilai sekolah yang tiba-tiba jeblok.

Selain itu, remaja yang dilanda depresi kerap melupakan hobinya dan cenderung lebih menutup diri.

"Biasanya kalau dia punya makanan favorit, tiba-tiba menjadi tidak suka atau emosi dan suka marah-marah. Itu indikatornya," katanya.

Jika gejala itu terlihat, kata dia, segera berkonsultasi kepada dokter sebelum terlambat dan kasusnya semakin berat. "Saya pernah menangani kasus kondisi sudah berat, pasien mulai berhalusinasi dapat bisikan untuk menyakiti diri hingga bunuh diri," katanya.

Nova juga mengusulkan agar di sekolah ada buku penilaian tentang kesehatan psikis anak.

"Jadi semua kalangan ikut mengawasi faktor kekurangan dan kelebihan anak," katanya.

AYO BACA : 3 Hari Ditahan Polisi, Lucinta Luna Depresi Hingga Kakinya Bengkak

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers