web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Kopi di Benteng Tanjungpura, 1708-1813

Jumat, 6 Maret 2020 03:40 WIB Netizen ATEP KURNIA

Rancangan pembangunan kembali Benteng Tanjungpura berdasarkan Resolusi 6 Oktober 1753. (Sumber: sejarah-nusantara.anri.go.id)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM -- Tanjungpura kini hanya berupa suatu kelurahan di Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang. Luas wilayahnya mencapai 5,56 km persegi dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Bekasi, dipisahkan oleh Sungai Cibeet. Ada pula Sungai Citarum yang melintasi wilayah Tanjungpura. Dulu di sana pernah ada benteng pertahanan milik Kompeni (VOC) dan di sekitarnya ada dua perkebunan kopi awal di Pulau Jawa.

Menurut informasi yang saya himpun dari buku F. De Haan (Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811, 1910-1912) dan Jacob Wouter de Klein (Het Preangerstelsel (1677-1871) en zijn nawerking, 1931), Kompeni mulai meluaskan kekuasaannya ke luar Batavia (ommelanden) setelah ditandatanganinya perjanjian dengan Kesultanan Mataram pada 1677. Pada perjanjian tersebut, Amangkurat II (1677-1703) menyerahkan Priangan Barat dan Tengah kepada Kompeni, sebagai balas jasa memadamkan Pemberontakan Trunajaya (1676-1677).

Setelah mendapatkan Priangan Barat dan Tengah, Kompeni mulai mendirikan benteng-benteng pertahanan di luar Batavia, yaitu Benteng Tanjungpura, Benteng Tangerang, dan Benteng Bogor. Ketiganya difungsikan sebagai perwakilan Kompeni untuk berkorespondensi dengan markas pusatnya di Batavia, pengadilan orang pribumi, dan mengurus perdagangan Kompeni berupa hasil bumi dan tambang.

Benteng pertama yang didirikan oleh Kompeni adalah Benteng Tanjungpura pada 1678. Meskipun niatannya sendiri sudah termaktub dalam keputusan VOC tanggal 20 Oktober 1656. Sebelum benteng di Bandung, saat tiba ke Tanjungpura, Muller melaporkan pada 27 November 1677 bahwa yang menjadi bupati di sana adalah Wirabaya atau Wirabangsa (keterangan 4 Desember 1677). Kemudian, pada 27 November 1677, Kompeni memerintahkannya membuat benteng dari pagar di Tunggakjati, tetapi perintah tersebut tidak diindahkannya. Selain itu, Muller yang menyebut Singaperbangsa sebagai “Bupati Tanjungpura” melakukan perjanjian di Tanjungpura. Sehingga kemudian, ternyata anak Singaperbangsa dijadikan tahanan dan dibawa oleh Rangga Gempol (yang menjadi bawahan Kompeni) ke Sumedang pada 26 Oktober 1678.

Namun, pada praktiknya, pendirian Benteng Tanjungpura diputuskan pada 24 Desember 1677. Untuk keperluan ini, pada 15 Januari 1678, Struijs dan Van Eeuwijck pergi dari Batavia bersama dengan 171 orang serdadu Belanda, 94 Mardiker, 28 orang Jawa, dan 153 kuli. Dengan catatan, bila orang Banten menyerang, mereka harus segera kembali. Kemudian, pada 18 Februari 1878 disebutkan bahwa benteng itu dinyatakan selesai. Bentengnya sendiri dibangun pada pertemuan Sungai Citarum dan Cibeet.

Foto-02
Benteng Tanjungpura dan sekitarnya pada dari surat yang dikirimkan dari Residen Karawang kepada Gubernur Jenderal pada 4 Desember 1811. (Sumber: sejarah-nusantara.anri.go.id)

Yang menjadi komandan benteng rata-rata berasal dari kalangan militer. Berikut ini orang-orang yang pernah menjadi Komandan Benteng Tanjungpura: Letnan Hendrik van den Eeden (1678, 1679), Sersan Jan Bervelt (1679-1681), Letnan Willem Kuffeler (1681-1683), Joannes van Buijtenhem (1683, 1684), Willem Kuffeler (1684-1691), Letnan Anthonij Zas (1691-1697), Sersan J. Heijrmans (1697-1701), Jacob van den Bussche (1701-1705), Letnan Jacob Palm (1705-1708), Letnan J. J. Cretieau (1708-1710), Letnan Hendrik Vuijstman (1710-1716), H. Vermander (1716-1719), Hendrik Holscher (1719-1729), Harmen Stuijver (1729, 1730), Letnan Jan Wennebroek (1730), Nic Bousquet (1730-1737), Letnan Pieter Sohiers (1737-1743), Jan Coenr  (1743-1750), Kapten Willem Kleijn (1750-1759), Letnan Jan Coenr. Frans Baale (1759-1762), Kapten Jacob van Berehem (1762-1767), Kapten Philip Pieter Weijtman (1767-1769), Letnan Christiaan Valentijn Tijmich (1769-1773), Letnan Frederik Hendrik Bertholoms (1775), Johan Pieter Oller (1777, 1778), Kapten Jan Frederik Seiner (1779), Kapten Johan Zacharias Engelhard (1780-1784), Kapten Willem Diederik Pielat (1784-1794), Letnan Frederik van Chambon, van Oschat (1794-1797), Letnan Frans Maijer (1797-1807), Kapten Johan Frederik Maens (1807-1808).

Di masa Hendrik van den Eeden, serdadu Kompeni di Tanjungpura mulai menjelajahi jalanan darat ke Batavia sejak 11 Maret 1678. Pada 15 Maret 1678 disebutkan patroli tersebut memakan waktu 5 hari. Kemudian pemerintahan di Batavia memerintahkan kepada komandan Benteng Tanjungpura untuk mengirimkan satu surat tiap seminggu sekali atau dua minggu sekali, dengan diantar oleh orang Mardiker. Pada 28 Maret 1678, sepasukan dikirim ke Karawang, dan yang ada di bawah pimpinan Tieleman van Eeuwijck harus menjelajahi rute terpendek ke Batavia. Ternyata pasukan penjelajah jalur terpendek tersebut muncul lagi dua setengah hari kemudian sebagaimana dilaporkan pada 8 April 1678.

Pada 11 Agustus 1678 diketahui bahwa Cibeet termasuk daerah Cisero dan pada 20 Agustus 1678 Komandan Benteng Van den Eeden memerintahkan untuk memetakan Sungai Cibeet dan pada 1 September 1678 untuk memetakan Sungai Citarum. Kedua peta tersebut oleh Van den Eeden dikirim ke Benteng Tanjungpura pada 26 Oktober 1678. Beberapa bulan kemudian, dari benteng Van den Eeden mengabarkan kepada pemerintah di Batavia (12 Januari 1679) bahwa Wirasaba menyerang dan membakar benteng. Setelah ditumpas, pada 5 Juni 1679 Wirasaba menyerah dan datang ke Batavia. Wirasaba kemudian ditempatkan di Ciasem, tetapi pada 27 September 1679 dia ditahan lagi oleh Kompeni.

Akibat serangan-serangan Wirasaba, sudah sejak 7 Maret 1679 diusulkan agar benteng pertahanan diganti dengan batu, tetapi usul tersebut tidak digubris, bahkan pemerintah Batavia meminta untuk menghancurkannya, dan memindahkannya ke seberang Sungai Citarum. Cita-cita untuk diganti dengan batu tersebut lama sekali tidak terlaksana. Pada peta yang dibuat tahun 1692, Benteng Tanjungpura berada di mulut Sungai Cibeet, jadi kembali ke posisi semula. Bentuknya segi tiga sama sisi dengan kubu-kubu baluarti di sudut-sudutnya.

Saat perkenalan tanaman kopi, benteng-benteng pertahanan Kompeni menjadi tempat-tempat awal budidaya tanaman tersebut. Bila pada 1707, benih kopi diberikan kepada kepala-kepala pribumi yang ada di bawah pemerintahan Batavia seperti Cileungsi, Cipamingkis, Cisero dan pemerintahan di bawah Cirebon, maka pada 1708, di sekitar Benteng Meester Cornelis, Benteng Tanjungpura dan benteng-benteng di sekitar kota Batavia, seperti Angke, Jakarta, dan Molenviet. Di Tanjungpura dibuat kebun kecil untuk menanam kopi.

Secara umum, uji coba di atas kurang berhasil. Namun, di balik itu, yang membuat budidaya tersebut bertahan adalah hasil yang agak menggembirakan dari Kabupaten Cianjur, Cirebon, Pekalongan, dan sebagian kecil dari Tanjungpura dan Tangerang. Hingga 2 Maret 1709, di sekitar Benteng Tanjungpura dikatakan ada kebun kakao dan kopi. Adapun hasil panen kopi pertama dari benteng tersebut diberitakan pada 27 September 1711, sebanyak 94 pon.

Menurut laporan 30 November 1711, kopi yang dikirim ke Belanda dari Batavia sebanyak 894 pon. Dari jumlah tersebut, 354 pon dari benteng-benteng di luar Jakarta yaitu dari Overtoom dan Nieuwendam alias Mr. Cornelis dan 540 pon lagi gabungan dari Benteng Tanjungpura dan daerah di luar Jakarta, yakni  Kedungbadak, Cianjur, Cibalagung, Cikalong, Cibadak, Cipamingkis, dan Cileungsi.

Setahun kemudian, pada laporan 26 Desember 1712, dari Batavia dikirim 2.380 pon kopi ke Eropa. Dari catatan tanggal 11 Februari 1713, jumlah tersebut berasal dari perkebunan di sekitar Benteng Angke (82 pon), Rijswijk (57 pon), Jakarta (146 pon), Cileungsi (1120 pon), Cianjur (107 pon), Kedungbadak (250 pon), Tanjungpura (375 pon), dan dari seluruh kabupaten bawahan Cirebon sebanyak 375 pon. Catatan lain menyebutkan bahwa, setoran kopi dari Tanjungpura sebanyak 375 pon sudah tercatat sejak 2 Juni 1712.

Namun, karena keadaan Benteng Tanjungpura yang mengkhawatirkan, selama pemerintahan Van Riebeck (1710-1712), benteng tersebut dibangun baru. Sejak September 1712, benteng itu disebut sebagai “benteng berpagar kayu runcing yang tinggi”, yang tempatnya berbeda dari yang lama, lebih tinggi, dan kaki-kakinya sangat jauh dari Sungai Citarum, tidak seperti benteng lama yang mudah tererosi.

Sementara itu, perkebunan kopi di sekitar Benteng Tanjungpura jalan terus. Menurut Memorie van Overgave van ven Postcommandant te Tandjoengpoera 1716, di kebun yang baru ada 3.400 pohon kopi yang muda dan 2.200 pohon yang tua dan kecil. Ribuan pohon kopi tersebut ditanam di dua kebun, dengan masing-masing jumlah di atas. Pohon-pohon pisang ditanam di antara pohon-pohon kopi sebagai naungan sekaligus pupuk. Kebun-kebun kopi tersebut tidak terletak di dalam benteng, melainkan di luarnya. Yang satu bahkan sangat berdekatan dengan benteng.

Namun, sekitar 17 tahun kemudian dua kebun kopi tersebut dihentikan, dan sejak 8 September 1733 digantikan dengan pohon mulberi untuk menghasilkan sutra. Pemerintah Kompeni pada 16 April 1734 menulis kepada Komandan Benteng Tanjungpura bahwa mereka terbebani untuk pembasmian semua pohon kopi di sana dan tanahnya akan digunakan untuk menanam pepohonan mulberi. Di benteng dan bekas kedua kebun kopi tersebut, pada 9 November 1734, diberitakan ada 75 orang yang dipekerjakan sana.

Bila budidaya kopi berhenti di Tanjungpura pada 1733, tetapi benteng dan urusan yang berkaitan dengan kopi masih berlanjut. Selama pemberontakan orang Tionghoa di Batavia (1740-1741) dan seterusnya, Benteng Tanjungpura difungsikan untuk meningkatkan penggunaan lumbung padi. Pada 15 Januari 1742, disebutkan bahwa ada 50 orang Karawang siang-malam dipekerjakan untuk menggali parit di sekitar benteng. Pada 1745 di dalam benteng ada 72 orang Eropa. Pada 25 April 1749,  Jan Coenr sebagai komandan benteng diberi kewenangan untuk merenovasi dan menggunakan batu bata bagi benteng Tanjungpura. Pada 21 Mei 1756, di sana ditempatkan seorang kapten, dua sersan, tiga orang kopral, seorang asisten dokter bedah, seorang penabuh genderang, 30 orang Eropa, dan enam orang serdadu pribumi. Semuanya ada 44 orang. Pada 1794, benteng tersebut ditambah dengan para budak belian.

Selanjutnya, pada 26 Oktober 1802 pemerintah kolonial Hindia Belanda memerintahkan untuk membangun kembali Benteng Tanjungpura dari nol. Pada 29 Juli 1803, komandan Benteng Tanjungpura menentukan bahwa kopi dari Bandung akan dialihkan pengangkutannya pada kapal kayu yang besar. Selain itu, Komandan Benteng Tangerang dan Tanjungpura dibebani dengan penerimaan dan pembayaraan kopi dari Tangerang dan Karawang. Dan secara umum, antara 183-1804, ada 30 hingga 35 orang yang bekerja di dalam benteng.

Saat-saat akhir riwayat Benteng Tanjungpura datang bersama dengan kekuasaan Mas Galak alias H.W. Daendels. Dengan keputusan 21 Winterm. 1809, Daendels memerintahkan untuk mengosongkan benteng per 1 Januari 1809 dan meruntuhkannya ke tanah pada 5 Februari 1809. Beberapa waktu kemudian, pada 26 Oktober 1811, dari pemilik dan kepala Sumedangan dan Tegalwaru datang tawaran untuk menggunakan barak dan gudang benteng untuk mendirikan pasar. Landdrost Karawang melaporkan pada 12 Juni 1812, bahwa pada 1810 Gubernur Jenderal Daendels membongkar Benteng Tanjungpura dan pada Januari 1811, Landdrost diperintahkan untuk menjual benteng dan bangunannya, tetapi tidak berhasil.

Pada 22 Juni 1812, ada laporan akuntan kepada Landdrost Karawang mengenai penjualan benteng serta lahannya. Di situ disebutkan bahwa untuk bangunannya dihargai 16.000 Real Spanyol dan tanahnya 800 Real Spanyol. Namun, akhirnya, pada berita 26 Januari 1813, didapatkan keterangan bahwa Benteng Tanjungpura dihancurkan.***

Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers