web analytics
  

Kisah Sukses Petani Milenial asal Pasirlangu, Sebulan Raup Puluhan Juta

Kamis, 5 Maret 2020 21:54 WIB
Gaya Hidup - Komunitas, Kisah Sukses Petani Milenial asal Pasirlangu, Sebulan Raup Puluhan Juta, Petani Milenial,

Wisnu Saepudin (26) petani milenial asal Kampung Barunyatu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sukses menjadi petani Paprika. (Ayobandung.com/Tri Junari)

CISARUA, AYOBANDUNG.COM -- Wisnu Saepudin (26) petani milenial asal Kampung Barunyatu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sukses menjadi petani Paprika di usia muda.

Selama 4 tahun bertani sayuran Paprika dengan mengusung konsep kolaborasi dan edukasi, ia berhasil menjadi sosok pembaharu bagi milenial di kampungnya dan kini memiliki 22 petani binaan.

Tak tanggung, dari keuletan dan konsistensinya memilih jalan hidup sebagai petani, kini ia bisa memperoleh laba bersih hingga puluhan juta sebulan dan mengangkat kesejahteraan petani binaannya.

Saat ayobandung.com menemuinya, Kamis (5/3/2020) Wisnu baru saja selesai mengirim sayuran paprika kualitas terbaik ke pasar Kramatjati Jakarta. Sehari, ia bisa memasok 1 sampai 1,5 ton Paprika berbagai jenia untuk memenuhi permintaan pasar yang kian melonjak.

Disela aktifitasnya ini, Wisnu sedikit berbagi kisah sukses menjadi petani milenial yang kini kurang diminati sebagian besar generasi muda.

"Tidak gengsi, mau belajar dan konsisten untuk berjuang menjadi petani,"ucap dia membuka perbincangan.

Wisnu menuturkan, awal mula ia memilih menjadi petani Paprika sebetulnya dengan alasan sederhana. Lahir dan dibersarkan pada daerah pertanian, dia berinovasi melihat peluang besar menjadi kaya dengan menanam Paprika.

AYO BACA : Pemerintah Jawa Barat Dorong Terciptanya Petani Milenial

"Simpel saja sebenarnya, disini banyak petani sayuran seperti brokoli dan seladah, tapi yang jadi petani kaya itu menanam Paprika. Atas dasar itu saya belajar menanam Paprika,"cetus dia.

Diwarisi orang tua lahan seluas 1.200 meter persegi, Wisnu memberanikan diri membangun green house diatas lahan tersebut. Memang butuh modal yang tidak sedikit untuk bertani Paprika, setidaknya green house dibangun dengan biaya Rp105 juta namun tahan hingga 8 tahun.

Namun ia tak begitu khawatir, nilai jual Paprika di pasaran tak pernah anjlok, jika lesu pun Paprika terbilang memiliki harga yang lebih baik ketimbang sayuran lainnya.

Disamping itu, panen Paprika warna merah, hijau dan kuning akan berlangsung sepanjang tahun asalkan pandai merawat dan menjaganya dari hama.

"Secara mandiri itu mulai tahun 2016, orang tua sudah memulainya tahun 2012. Tapi pengolahan dan perawatan Paprika jauh berbeda dengan saya," kata dia.

Jika petani lain lebih senang secara mandiri, Wisnu justru tak segan berbagi ilmu dan membangun kolaborasi mengajak pemuda seusianya untuk ikut bertani juga.

Ditengah keterbatasan lahan, ia mengajak 22 milenial lain mengelurkan modal membangun green house di lahan mereka. Kebutuhan bibit, pupuk dan obat dipasoknya untuk kemudian terbangun pola bagi hasil.

AYO BACA : Ciptakan Petani Milenial, Bupati Aa Umbara Ajak Tanam Sayuran Ekspor

"Memang saya keluarkan modal untuk bibit dan pemeliharaan, tetapi saya cuma ambil keuntungan Rp1.000 dari hasil panen mereka. Jika nilai jual sedang bagus saya tetap ambil segitu, selebihnya untuk mereka. Saya enggak mau untung sendiri sementara teman-teman yang lain gak kebagian,"ucap pria pehobi motor trail ini.

Dengan semakin banyaknya petani binaan, sebut dia, kini ia tak kekurangan pasokan Paprika untuk memenuhi kebutuhan pasar. Setiap hari silih berganti mereka saling mengisi pengiriman ke beberapa pasar di Jawa Barat, Jakarta dan Bali.

"Kalau dari kebun sedang bagus kita bisa pasok 1-1,5 ton sehari.Jadi sistem tanggung renteng, siapa yang panen ya kita jual, karena tiap hari tidak semua bisa dipetik," jelasnya.

Manfaat teknologi informasi yang kian mendekatkan suplier ke buyer, juga memberi kemudahan tersendiri bagi Wisnu. Melalui internet ia mencari suplier bibit paprika yang masih mengandalkan Belanda dan Thailand. 

"Saya hubungi pemasok bibit dari Thailand melalui internet, kini mereka menjadikan saya penjual bibit juga. Saya pasok ke petani 10 gram itu Rp900 ribu berisi 1.200 biji," ujar dia.

Meski kini sudah meraup laba bersih kisaran Rp20 juta/bulan, Wisnu berharap bisa lebih banyak milenial di kampungnya menjadi petani Paprika. Namun keterbatasan modal dan minimnya bantuan pemerintah menjadikan langkah itu tersendat.

"Sebetulnya masih banyak potensi generasi muda disini  yang ingin bertani, tapi modal juga terbatas. Untuk kirim saja kita masih nitip ke truk orang lain, bahkan kita belum punya mobil kecil untuk distribusi Paprika skala kecil,"keluhnya.

Dia berharap Kementerian Pertanian jangan hanya menjadikan petani milenial sebagai jargon program namun bantuan tidak tepat sasaran. Petani milenial butuh intervensi anggaran yang cukup agar profesi petani menjadi pilihan utama tak lagi dipandang sebelah mata.

"Kami yang muda ini mau bertani, tapi untuk mencetak lebih banyak lagi milenial untuk bertani juga sulit juga modal terbatas sementara pasar terbuka lebar," katanya.

AYO BACA : Milenial KBB Tak Gengsi Jadi Peternak dan Petani

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Tri Junari.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers