web analytics
  

Selamat Datang Kemerdekaan Belajar

Senin, 24 Februari 2020 14:38 WIB Netizen Netizen
Netizen, Selamat Datang Kemerdekaan Belajar, Kemerdekaan Belajar, nadiem makarim, kampus merdeka, manfaat kampus merdeka

Mahasiswa belajar. (science.missouristate.edu) (ayobandung.com)

AYOBANDUNG.COM -- Lagi-lagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan kebijakan yang tidak biasa. Di tengah situasi akademik khususnya Perguruan Tinggi yang dianggap sudah mapan, kebijakan ini mungkin dianggap cukup mengagetkan, sekaligus memberi kabar gembira.

Siaran pers yang dikeluarkan Jumat (24/1/2020) mengokohkan posisi Mendikbud yang penuh kejutan. “Kampus merdeka”, sebagai slogan yang dilemparkan ke publik memberikan pesan penting akan situasi yang sedang tenang. Di tengah kesibukan kampus yang sedang dan selalu mempersiapkan borang akreditasi, fasilitas yang diada-adakan, dan segala rekayasa lainnya yang mengahabiskan energi, Nadiem Makarim memberikan kabar baik.

Walaupun judulnya “Kampus merdeka”, sebenarnya yang dimerdekakan dengan kebijakan ini bukan hanya kampus, tetapi juga mahasiswa. Sebagai subjek belajar, mahasiswa paling diuntungkan dengan kebijakan ini. Dan jika membaca nuansa kebatinan dari kebijakan ini, kita akan masuk pada cita-cita menteri milenial ini pada persoalan mahasiswa yang selama ini dianggap belum terbebaskan.

Kenapa tidak, mahasiswa pada waktu yang sama bisa menjadi korban, di saat dosen sibuk dengan urusan administratif, maka mahasiswa terabaikan. Seperti halnya kebijakan sebelumnya, saat guru diharapkan menjadi pusat inovasi bagi anak didik, maka hal yang utama dan pertama harus dilepaskan guru adalah beban administratif yang dianggap tidak produktif. Dengan melepaskan beban administratif yang menumpuk, guru beralih pada kegiatan berpikir dan kreativitas yang menghasilkan inovasi-inovasi baru.

Ketika kampus dimerdekakan dengan kesibukan administratif, maka idealnya, dosen pun beralih pada aktivitas yang tidak kalah hebatnya seperti halnya guru tadi. Hari-hari dosen menjadi lebih banyak bersama mahasiswa, membaca, menghasilkan karya yang genuis, memotivasi, menjadi pusat inovasi bagi mahasiswa.

AYO BACA : Merdeka Belajar Ala Mahasiswa

Sebagai kawah candradimuka, kampus mengarahkan para dosennya untuk memberi keleluasaan dalam berpikir dan inovasi. Intensitas kehadiran dosen tidak dimaksudkan untuk mengkooptasi dan mengkrangkeng cara berpikir mahasiswa. Justru dosen harus memberikan ruang kemerdekaan kepada mahasiswa untuk membuktikan peminatan dan menentukan masa depannya.

Generasi milenial bahkan post milenial yang memiliki tingkat kemandirian cukup tinggi, sebenarnya merupakan aset penting yang tinggal dikanalisasi sehingga menjadi kekuatan besar ke depannya. Yang menjadi persoalan ketika mahasiswa harus memiliki kesamaan berpikir dengan dosennya, termasuk harus membaca teks yang sama dan melahirkan tafsir yang sama. Padahal dunia kini berbeda dengan dulu, sehingga teks yang sama berpotensi melahirkan tafsir yang berbeda.

Karenanya Arich Fromm, mengingatkan tentang arti pentingnya kemerdekaan dan kemandirian seorang pembelajar. Baginya, jika pendidikan itu bermaksud untuk meneguhkan individualitas hakiki dan kemandirian anak didiknya, juga agar memiliki integritas yang tinggi, maka proses pembelajaran yang menekan akan menghilangkan kespontanitasannya.

Jika pun ada pertumbuhan pada anak didik dan mahasiswa, itu hanya bersifat sementara saja. Tekanan-tekanan belajar yang tidak wajar akan menghilangkan potensi menangkap cakrawala anak didik. Sedangkan proses pembelajaran yang terjadi dalam pandangan Fromm, seringkali justru membinasakan potensi mereka dan menggantikannya dengan aspek-aspek baru yang datang dari luar.

Kebijakan Kemendikbud tidak serta merta mengubah kultur Perguruan Tinggi. Namun setidaknya memberikan sinyal perubahan lebih prospektif. Beliau memiliki keinginan untuk membangun masa depan kampus kita yang lebih menjawab tantangan zaman.

AYO BACA : Mendikbud Nadiem Luncurkan 4 Hal dalam ‘Kampus Merdeka’

Kehawatiran tentu saja ada. Tidak ada kebijakan baru yang mendapat kritikan, karena akan mengubah kemapanan sebuah situasi yang sedang berjalan. Setidaknya, sinyal itu harus diterjemahkan secara ilmiah dan kreatif oleh setiap kampus, agar keinginan baik bertemu dengan kreasi positif yang lebih memberdayakan mahasiswa.

Sebaliknya, kemerdekaan belajar juga baiknya tumbuh di kalangan mahasiswa. Kehendak untuk menjadi mahasiswa tentu menjadi pilihan sejak awal, dan tradisi mahasiswa tentu saja adalah belajar. Belajar mahasiswa berbeda dengan seolah pelajar di sekolah. Tingkat kemerdekaan (klik kebebasan) belajar bagi seorang mahasiswa jauh lebih besar prosentasenya. Keberadaan dosen hanya menjadi guide untuk mengarahkan saja, bukan mencekoki apalagi mendikte.

Semangat belajar mandiri, kreativitas, dan kebiasaan mengasah argumen pribadi harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Buku-buku yang dilahapnya menjadi perantara bagi dirinya dengan pengetahuan yang sedang digelutinya. kebiasaan download harus diganti dengan budaya upload, agar setiap isi fikiran dan karya mahasiswa dapat dimengerti dan dikonsumsi publik.

Tetapi, dosen sebagai inspirasi bagi mahasiswa harus terlebih dahulu melakukan kegiatan akademik yang genuine dan substansial, di luar proses pengajaran yang disiplin dan penuh dedikasi. Kebersamaan mahasiswa dengan dosen menjadi sebuah interaksi produktif yang saling melengkapi, karena dosen pada hakikatnya bukan raja serba tahu yang harus dipuja-puja mahasisiwa. 

Dengan kampus yang merdeka, pelaksanaan tri dharma Perguruan Tinggi tidak hanya sebagai syarat akreditasi, tetapi benar-benar menjawab persoalan sosial dan mengisi ruang peradaban masa depan. Karenanya, merdeka dalam konteks akademik merupakan pengakuan atas perbedaan pendapat, pemikiran, dan karya, bukan penyeragaman.

Roni Tabroni

Dosen Komunikasi UIN Bandung dan USB Bandung

AYO BACA : Nadiem Makarim Ingin Mahasiswa Punya Kemerdekaan Belajar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com
dewanpers