web analytics
  

Bahaya Pembakaran Ban Bekas dalam Unjuk Rasa

Jumat, 21 Februari 2020 14:40 WIB Netizen Djoko Subinarto

Ilustrasi: Demo ribuan mahasiswa di depan Gedung DPRD Jabar, Senin (23/9/2019) sore. (Ayobandung.com)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM -- Dalam negara yang menganut paham demokrasi, melakukan unjuk rasa atau demonstrasi adalah bagian dari hak untuk berekspresi dan menyatakan pendapat di muka umum.

Unjuk rasa menyatakan pendapat atau melakukan protes atas sebuah kebijakan sepenuhnya dilindungi oleh undang-undang negara kita. Melakukan unjuk rasa adalah bagian dari hak-hak azasi manusia. Oleh karena itu, setiap individu dan elemen masyarakat boleh-boleh saja melakukannya.

Meski demikian, dalam berekspresi dan menyatakan pendapat lewat aktivitas unjuk rasa, siapa pun sama sekali tidak boleh sampai mengganggu kepentingan publik, merusak lingkungan dan mengganggu hak-hak individu lainnya.

Artinya, demonstrasi atau unjuk rasa  boleh tetap berjalan sepanjang kepentingan publik, kelestarian lingkungan dan hak-hak individu tetap terpelihara.

ban bekas

Jika kita cermati, tidak sedikit unjuk rasa yang dilakukan di negeri ini dihiasi oleh aksi pembakaran ban bekas.  Pertanyaannya kemudian adalah: apa urgensi membakar ban bekas dalam sebuah aksi unjuk rasa?

Apakah dengan membakar ban bekas kualitas unjuk rasa yang dilakukan akan semakin baik dan aspirasi yang diusung bakal langsung mendapat perhatian dari para pengambil keputusan?

Atau tindakan tersebut cuma iseng, ikut-ikutan saja, dan sekaligus caper (cari perhatian)?

Membakar ban bekas di sela-sela unjuk rasa, apalagi dilakukan di tengah jalan, bukan saja mengganggu kenyamanan publik, tetapi juga membahayakan lingkungan. Tindakan tersebut sama sekali tak ada manfaatnya.

Emisi pembakaran ban bekas mengandung sejumlah zat beracun yang membahayakan kesehatan, seperti karbon monoksida, sulfur oksida, nitrogen oksida serta partikel-partikel beracun lainnya. Sisa pembakaran ban bekas juga akan meracuni tanah dan juga air.

Dengan demikian, sangat disayangkan kalau masih saja ada pengunjuk rasa yang masih keukeuh melakukan aksi membakar ban bekas dalam unjuk rasa yang mereka gelar.

Para pengunjuk rasa yang katanya adalah orang-orang terdidik dan intelek itu semestinya bisa lebih kreatif dalam merancang aksi unjuk rasa yang mereka lakukan.

Dengan demikian, aksi ujuk rasa mereka bukan hanya terlihat atraktif, tetapi juga tidak merugikan kepentingan publik, tidak merusak lingkungan dan tidak mengganggu hak-hak individu.

Di era keterbukaan dan era digital seperti sekarang ini, untuk menyalurkan aspirasi dan untuk menyampaikan protes atas sebuah kebijakan sesungguhnya tak perlu lagi demo-demo atau unjuk rasa turun ke jalan, yang ujungnya malah bisa mengganggu kepentingan publik, merusak lingkungan dan mengganggu hak-hak individu.

Untuk menyalurkan aspirasi atau sekadar menyampaikan protes atas sebuah kebijakan, misalnya, kita bisa memanfaatkan berbagai platform jejaring media sosial, yang dapat dengan mudah kita viralkan ke se-antero jagat. Salurkan aspirasi maupun protes kita dengan menggunakan bahasa yang santun dan terstruktur dengan baik via jejaring media sosial, baik itu secara verbal maupun dengan tulisan (teks).

Jangan lupa, sokong dengan fakta, data serta argumen yang kuat. Ini akan jauh lebih elegan dan lebih intelek ketimbang berteriak-teriak di tengah jalan umum sembari membakar ban bekas.

Djoko Subinarto, Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com
dewanpers