web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Dituding Jadi Penyebab Bencana di Ngamprah, Jasa Marga Buka Suara

Kamis, 13 Februari 2020 15:10 WIB Tri Junari

General Manager PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi Pratomo Bimawan Putra. (Ayobandung.com/Tri Junari

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- PT Jasa Marga membantah tuduhan warga terkait sumbatan gorong-gorong miliknya di KM 118 tol Purbaleunyi sebagai pemicu bencana pergerakan tanah longsor yang terjadi di Kampung Hegarmanah, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) Selasa (11/2/2020) malam.

Sumbatan di saluran air itu disinyalir yang menyebabkan adanya genangan menyerupai danau di KM 118 sebelah kiri arah Bandung. Genangan itu disebut-sebut sebagai penyebab tanah di seberang jalan tol itu menjadi jenuh dan longsor.

General Manager PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi Pratomo Bimawan Putra berdalih, pergerakan tanah terjadi di arah utara jalan sementara genangan air di sebelah utara KM 118 tol Purbaleunyi.

"Tidak (penyebab longsor). Kami melihat ini sebagai dua hal yang terpisah. Tapi kami masih menunggu hasil kajian dari konsultan," ungkap Pratomo saat ditemui di KM 118 tol Purbaleunyi, Rabu (12/2/2020).

Menurutnya, genangan air yang menyerupai danau itu terhalang oleh badan jalan tol. Longsor yang terjadi di selatan tol, kata Pratomo, karena alih fungsi lahan pertanian basah.

Sementara sumbatan di gorong-gorong milik PT Jasa Marga di KM 118 bermula karena ada peristiwa longsor yang terjadi jauh-jauh hari hingga material longsor terbawa arus. Sampai akhirnya material longsor itu menyumbat.

"Longsornya sebenarnya jauh dari area Jasa Marga. Nah material longsor itu menutupi saluran drainase yang ada di KM 118 ini. Karena drainase tertutup maka airnya naik," sebutnya.

AYO BACA : Warga Ngamprah Diminta Tak Beraktivitas di Dekat Lokasi Longsor

Pratomo memastikan, PT Jasa Marga bakal turun tangan menanggulangi bencana yang terjadi. Empat buah pompa air diterjunkan untuk menyedot air yang menggenang di utara tol.

"Dibutuhkan waktu sekitar dua hari untuk bisa kering. Setelah itu baru bisa memperbaiki drainase," ujarnya.

Sementara di tebing curam yang terbentuk setelah longsor di sebelah barat bahu jalan tol bakal dipasang bronjong atau penahan tanah. Jarak tebing itu dengan jalan saat ini hanya sekitar 7 meter.

"Kita sudah turunkan alat berat untuk membersihkan puing-puing. Kemudian untuk penanganan berikutnya kami akan siapkan counter weight bisa berupa beronjong untuk perkuat lerengnya. Itu akan dikerjakan dalam waktu dekat ini," ungkap Pratomo.

ayobdg-kondisi-tanah-longsor-ncos-2

Kondisi tanah longsor di Kampung Hegarmanah, RT 03 RW 04, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (12/2/2020). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Sementara itu, Ketua RW setempat Wahyudin mengatakan, bencana longsor ini sudah terprediksi sebelumnya. Pergerakan tanah diduga terjadi karena tertutupnya saluran air dibawah jalan tol Cipularang KM 118.

AYO BACA : PVMBG Sebut Longsor Susulan Berpotensi Terjadi di Ngamprah

"Pertama itu ada longsor di tebing jalan tol arah Bandung menutup saluran air sekitar pertengahan Desember 2019, saya sudah laporkan kejadian itu ke Jasa Marga karena jika tertutup menjadi genangan dan air bisa masuk ke dalam tanah," tutur Wahyudin di lokasi kejadian, Rabu (12/2/2020).

Sejak saat itu Jasa Marga telah berupaya melakukan penanganan dengan memompa air namun tak sampai menjebol saluran air yang tertutup. 

Seiring intensitas hujan tinggi, warga menemukan retakan tanah di sekitar genangan air. Genangan air ini berada di atas permukiman warga berjarak 1 kilometer.

"Saya selalu melaporkan setiap terjadi retakan, karena khawatir jika saluran air belum jebol akan terjadi banjir bandang ke warga saya," kata dia.

Laporan warga rupanya kurang ditanggapi serius pemerintah daerah maupun Jasa Marga. Hingga pada akhirnya bencana pergerakan tanah terjadi malam tadi merusak rumah warga.

"Sekarang warga saya kena dampaknya, 1 rumah tenggelam, 9 jebol dan kurang lebih 85 rumah terancam pergerakan tanah," ujarnya.

Sejak kejadian ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman karena khawatir pergerakan tanah terus terjadi mengancam jiwa. Warga juga berupaya mengeluarkan barang berharga sebelum kejadian bencana lebih besar terjadi.

"Yang terancam saat ini ada di RT 2,3 dan 4, kurang lebih 85 kepala keluarga atau 240 jiwa," sebutnya.

AYO BACA : PVMBG Terjunkan Tim Khusus Identifikasi Longsor Ngamprah

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers