web analytics
  

RUU Omnibus Law Perpajakan, Penerimaan Negara Turun Rp80 Triliun

Selasa, 11 Februari 2020 21:50 WIB

Ilustrasi penerimaan negara. (Setkab.go)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Ketentuan dan Fasilitas Perpajakan untuk Penguatan Perekonomian yang masuk omnibus law, ternyata tak serta-merta menaikkan penerimaan negara.

Pasalnya, dalam RUU ini, ada salah satu poin rencana pemerintah menurunkan tarif PPh (pajak penghasilan) Badan maksimal hingga 20 persen dari sebelumnya 25 persen. Hal itu berpotensi mengurangi penerimaan negara hingga Rp80 triliun.

AYO BACA : Buruh KBB Tolak Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja

Hal tersebut dikatakan Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo kepada awak media di kantornya, Selasa (11/2/2020).

"Estimasi Rp80 triliun (penurunan penerimaan) karena tarif turun," kata Suryo.

AYO BACA : Pemberlakuan Omnibus Law Cilaka Bakal Hilangkan Sertifikat Produk Halal?

Meski mengalami penurunan penerimaan, Suryo mengatakan pemerintah akan mengantisipasi insentif tersebut secara gradual dengan memanfaatkan penurunan penerimaan tersebut untuk sektor ekonomi.

"Kalau potong tarif pasti dengan sendirinya. Antisipasi dibuat gradual. Jadi esensinya tarif turun tapi harus dimanfaatkan ke pertumbuhan ekonomi, penting bagi kita tarif turun, diputar lagi ke ekonomi," katanya.

Menurut Suryo, skema penurunan tarif PPh Badan pun dinilai akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak (WP) berupa pelaporan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang lebih tinggi dan berkurangnya penghindaran pajak.

Skema penurunan tarif pajak sebesar 20 persen ini diestimasikan hanya menghasilkan penurunan penerimaan pajak sebesar 17 persen.

AYO BACA : Lewat Omnibus Law, Pemerintah Beri Jaminan Kehilangan Pekerjaan

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers