web analytics
  

Distributor Hoaks Wabah Corona

Senin, 10 Februari 2020 16:08 WIB Netizen Djoko Subinarto

Ilustrasi virus corona.(Pixabay)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM -- Di tengah merebaknya virus corona yng melanda Wuhan, Tiongkok, akhir-akhir ini, masih ada saja pihak-pihak di negeri ini yang getol menjadi produsen dan distributor berita-berita hoaks yang terkait dengan wabah corona. Kenapa?

Saban hari, ratusan kabar bohong beredar di media sosial kita. Kabar-kabar bohong itu bukan cuma menyangkut isu politik, tetapi juga ada yang menyangkut  bencana, agama serta kesehatan.

Salah satu hoaks yang beredar dan banyak di-share terkait wabah corona belakangan ini adalah foto orang-orang yang sedang bergelimpangan di jalanan. Narasi yang menyertai foto itu antara lain yaitu: “Foto mayat-mayat orang China bergelimpangan di jalan-jalan kota Wuhan . Foto diambil dari satelit. Azab untuk China komunis...."

Benar bahwa foto tersebut memang menunjukkan orang-orang yang tengah bergelimpangan di jalanan. Tapi, itu bukan di Wuhan, China. Melainkan di Frankurt, Jerman. Peristiwanya terjadi di bulan Maret, tahun 2014.

Saat itu, ratusan orang melakukan apa yang disebut sebagai street art performance di jalur khusus pejalan kaki, Kota Frankurt, dalam rangka mengenang 528 korban kamp konsentrasi Nazi "Katzbach". Foto itu hasil jepretan Kai Oliver Pfaffenbach, juru foto kantor berita Reuters.

Sains dan kebencian

Berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, hingga awal Februari 2020, terdapat sedikitnya 54 hoaks yang beredar terkait virus corona. Selain foto, klaim palsu dan teori-teori sains yang menyesatkan, hoaks wabah corona yang beredar juga ada yang dibumbui dengan ujaran-ujaran kebencian dan SARA.

Sedihnya, tidak sedikit penyebar hoaks itu adalah kalangan terdidik. Beberapa di antaranya bahkan menyandang predikat sebagai tokoh pemuka agama.

Sudah barang tentu, ini sangat memprihatinkan. Bisa kita bayangkan, mereka yang notabene terdidik saja masih percaya pada hoaks. Apalagi kalangan yang sama sekali tidak terdidik.

Maka, membangun budaya berpikir kritis, skeptis dan analitis di kalangan warga negeri ini agaknya menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi bangsa ini di tengah gelontoran informasi yang sulit sekali kita bendung dewasa ini.

Kita ingin masyarakat negeri ini dapat lebih cerdas dan lebih bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kita sama sekali tidak ingin semakin banyak warga negeri ini yang berperilaku kontraproduktif dengan menjadi produsen dan juga distributor kabar-kabar bohong lewat jejaring media sosial.

Di era digital sekarang ini, kita mengalami banjir bah informasi yang demikian hebat nyaris setiap saat. Kita semua saat ini mendapatkan limpahan aneka ragam jenis informasi, mulai dari teks, suara, gambar maupun film dengan melibatkan beragam platform.

Kemampuan untuk menyaring, memahami, menganalisis, mengelola, memproduksi dan membagi informasi merupakan sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu, kemampuan literasi dasar berupa membaca dan menulis saja tampaknya masih belum cukup menjadi bekal ampuh untuk melakoni kehidupan di masa kini.

Selama ini, kebanyakan dari kita mendefinisikan literasi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Akan tetapi, akibat perubahan-perubahan besar sebagai buntut dari kemajuan di sektor teknologi informasi dan komunikasi, kemampuan literasi pun sekarang ini kerap dikaitkan pula dengan kemahiran dalam soal penggunaan dan pemanfaatan produk-produk teknologi informasi dan komunikasi termutakhir.

Maka, kemudian, muncullah istilah literasi data, literasi digital, literasi informasi, literasi media sosial, literasi multimedia, literasi virtual maupun literasi web.

Warga negeri ini harus memiliki kemampuan literasi-literasi tersebut, yang memang sangat dibutuhkan untuk mengarungi era digital saat ini. Pelatihan, loka karya maupun kursus-kursus singkat terkait dengan literasi data, literasi digital, literasi informasi, literasi media sosial, literasi multimedia, literasi virtual maupun literasi web yang menyasar berbagai elemen masyarakat seharusnya semakin digiatkan untuk saat ini.

Dengan memiliki kemampuan literasi-literasi tersebut secara memadai, diharapkan  masyarakat negeri ini tidak tergagap-gagap menghadapi banjir informasi dan berbagai perubahan dahsyat sebagai dampak dari terus berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi.

Sebaliknya, mereka justru mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dan melimpahnya informasi untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dan lebih produktif.

Djoko Subinarto, Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers