web analytics
  

Kunang-Kunang Terancam Punah

Senin, 10 Februari 2020 11:17 WIB

Kunang-kunang (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Kunang-kunang menerangi malam dengan tubuhnya yang bercahaya. Tapi hal tersebut akan semakin sulit ditemukan di masa depan. Pasalnya para peneliti menyebut kunang-kunang dalam bahaya.

Menurut para peneliti, kunang-kunang kehilangan habitat asli mereka. Selain itu, penggunaan pestisida dan cahaya buatan menempatkan spesies yang kini berjumlah 2.000 atau lebih itu dalam kepunahan.

AYO BACA : Ilmuwan Amerika Temukan Spesies Baru Dinosaurus Seukuran Bus

Profesor biologi Tufts University, Sara Lewis, mengatakan, hilangnya habitat menjadi alasan utama berkurangnya populasi spesies satwa liar. Sejumlah kunang-kunang menderita karena mereka membutuhkan kondisi lingkungan tertentu untuk memenuhi lingkaran kehidupan mereka.

Sara memberikan contoh, salah satu spesies kunang-kunang Malaysia, yang terkenal dengan kedipan teratur, membutuhkan tanaman mangrove untuk berkembang biak.  Tapi, di seantero Malaysia ladang mangrove telah diubah menjadi tanaman kelapa sawit dan peternakan akuakultur.

AYO BACA : Corona Dikhawatirkan Masuk Indonesia Lewat Impor Ikan

Lebih mengejutkan lagi, peneliti menemukan, penggunaan cahaya buatan di malam hari, yang bertumbuh pesat beberapa tahun terakhir, merupakan ancaman tertinggi kedua bagi kunang-kunang.

Cahaya buatan termasuk pencahayaan langsung, seperti lampu jalan, papan iklan, dapat lebih terang daripada cahaya bulan sempurna. "Selain mengganggu bioritme lamai, termasuk manusia, polusi cahaya benar-benar membuat ritual perkawinan kunang-kunang berantakan," jelas kandidat PhD di Tuft University, Avalon Owens.

Beberapa kunang-kunang mengandalkan pendar cahaya, reaksi kimia yang ada di dalam tubuh mereka yang membuat mereka menyala, untuk menarik pasangan mereka. Banyaknya cahaya buatan mengintervensi proses tersebut.

AYO BACA : Dari Zaman Purba, 3 Hewan Ini Tak Ikut Punah Bersama Dinosaurus

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers