web analytics
  

Merdeka Belajar Ala Mahasiswa

Senin, 3 Februari 2020 19:52 WIB
Netizen, Merdeka Belajar Ala Mahasiswa, Merdeka Belajar, Mahasiswa,

Mahasiswa belajar. (science.missouristate.edu)

Merdeka dalam dunia belajar bukan berarti bebas. Merdeka yang digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya mengisyaratkan adanya belenggu yang mengikat cara belajar di Perguruan Tinggi.

Kehendak Mendikbud Nadiem Makarim untuk memerdekakan pola belajar salah satunya, menimbulkan kontro versi. Bahkan ada juga yang secara terang-terangan memintanya untuk menolak. Kondisi ini wajar terjadi sebab merdeka artinya mengganggu kemapanan bagi mereka yang sudah menikmati sebuah situasi tertentu.

Tapi penggunaan diksi merdeka seperti yang disampaikan Mendikbud justru menjadi menarik. Walaupun di dalamnya ada nada gugatan, tetapi merdeka juga mengandung makna perubahan. Artinya perlunya ada perubahan mendasar dari sistem pendidikan tinggi kita.

Hanya saja, release yang singkat hawatir dipersepsi menjadi salah. Sebenarnya sebuah tawaran perubahan dari Mendikbud harus dibarengi dengan konsep turunannya sehingga menjadi terang. Kehawatiran publik akan terjawab jika nanti Kemendikbud mensosialisasikan konsep turunan dari kampus merdeka tersebut.

Namun, secara kasat mata, sebenarnya kemerdekaan belajar bagi mahasiswa sangat penting. Setidaknya mahasiswa akan kembali pada jati dirinya yang asli yaitu sebagai pembelajar sejati, yang mampu menyerap berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman keahlian yang mendalam.

Proses belajar mahasiswa tidak boleh berada di bawah tekanan sehingga mereka tidak bisa mengekspresikan dirinya dan bahkan menekan potensi hebatnya. Jangan sampai seperti pada umumnya anak-anak yang sudah cerdas sejak kecil, tetapi masuk sekolah kekritisannya dan potensi filosofianya menjadi hilang.

Anak-anak dengan sekolah justru menjadi kaku, tidak kreatif dan potensinya menjadi mati. Sekolah telah membebani anak dengan segudang pelajaran dengan metode yang mekanis, sehingga anak tidak mampu menemukan jati dirinya.

Proses belajar di kalangan Perguruan Tinggi, idealnya memberika ruang berfikis yang lebih terbuka. Bahkan secara teknis, sekat jurusan tidak membuat tembok pemisah bagi mereka yang ada di jurusan lain. Maka kehendak Mas Menteri agar mahasiswa bisa belajar lintas jurusan menjadi sangat menantang.

Jika kita melihat pohon ilmu langsung pada ranting dan cabang, tentu saja satu jurusan dengan lainnya akan terpisah-pisah dan sulit menemukan arsirannya. Tetapi dengan mendalami ilmu dari aspek filosofisnya, sebenarny semua ilmu di Perguruan tinggi yang dipelajari di berbagai jurusan itu pasti ada kaitannya. 

Dengan demikian sebenarnya orang-orang yang belajar di jurusan tertentu pasti akan menemukan irisan dengan matakuliah yang ada di jurusan lain. Apalagi bagi bagi jurusan-jurusan yang satu rumpun pasti memiliki banyak irisan matakuliah.

Ke depan, bagi mereka yang haus ilmu, yang serius mendalami sebuah kajian dan keterampilan tertentu, akan mendapatkan angin segar, sebab dapat mengkombinasikannya atau melakukan pendalaman di jurusan yang lain. Masalahnya tinggal keinginan dan keseriusan mahasiswanya. Tentu saja dengan mekanisme tertentu, mahasiswa bisa melakukan hal ini.

Yang perlu dimerdekakan dalam konteks mahasiswa setidaknya dua hal, pertama bagaimana mereka melihat "tubuh" ilmu yang sedang dipelajarinya, kedua bagaimana pola belajar mahasiswanya sendiri.

Mahasiswa harus terbiasa dengan pendalaman ilmu dan harus bisa memetakan bidang ilmu itu agar dirinya dapat menemukan ilmu lain di jurusan lain yang akan diambilnya. Dengan belajar di jurusan lain, mahasiswa akan memiliki pendalaman dan perspektif yang lebih luas. Horison keilmuan mahasiswa akan jauh lebih mendalam.

Sedangkan pada aspek tradisi belajar, mahasiswa akan harus memerdekakan dirinya dari pola belajar kopi paste dan kebiasaan googling. Mahasiswa harus membebaskan diri dari tradisi belajar yang picik dan terlalu asal-asalan.

Merdeka belajar artinya membawa mahasiswa pada sebuah dunia yang terbuka, dengan tradisi belajar baru yang lebih substabsial. Mahasiswa tidak lagi mengungkung diri pada tradisi yang kolot dan lambat, tetapi selalu meningkatkan kualitas diri dengan bacaan yang banyak, membiasakan tradiai diskusi, serta mengembangkan karyanya yang dapat menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan.

Roni Tabroni

Dosen UIN Bandung dan USB Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers