web analytics

Hati-hati, Diet Tinggi Protein Bisa Picu Risiko Serangan Jantung

clockSenin, 3 Februari 2020 02:43 WIB
Gaya Hidup - Sehat, Hati-hati, Diet Tinggi Protein Bisa Picu Risiko Serangan Jantung, diet karbo, tips diet karbo, diet protein,

ilustrasi. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Banyak orang memilih mengikuti diet tinggi kandungan protein untuk menurunkan berat badan dan membangun massa otot. Namun sebuah studi baru menunjukkan, diet seperti itu dapat membahayakan kesehatan jantung.

“Ada manfaat penurunan berat badan yang jelas untuk diet protein tinggi, yang telah meningkatkan popularitas diet itu dalam beberapa tahun terakhir,” kata seorang profesor kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, MO, dr. Babak Razani dilansir di Medicalnewstoday.com, Jumat (31/1/2020).

Namun, dia melanjutkan, penelitian pada hewan dan beberapa epidemiologis besar pada orang mengaitkan protein tinggi dengan masalah kardiovaskular. Hal itu yang membuat dr. Razani dan rekan-rekannya mencoba mencari tahu ihwal apakah diet protein tinggi, sebenarnya dapat memengaruhi kesehatan jantung secara langsung karena adanya penumpukan plak di dalam arteri?

“Kami memutuskan melihat, apakah benar-benar ada hubungan sebab-akibat antara protein tinggi makanan dan kesehatan jantung yang buruk,” ujar dr. Razani.

Dia dan timnya melakukan penelitian pada model tikus. Mereka mempublikasikan temuan itu dalam jurnal Nature Metabolism. Dalam studi tersebut, para peneliti memberi tikus makanan diet tinggi lemak.

Mereka menjelaskan tikus membutuhkan diet tinggi lemak untuk mengembangkan plak arteri. Beberapa tikus menerima diet tinggi lemak dan protein, sementara tikus lainnya menerima diet tinggi lemak dengan kandungan protein rendah. Kedua kondisi itu memungkinkan para peneliti menunjukkan perbedaan dampak dari asupan.

Beberapa sendok bubuk protein dalam milkshake atau smoothie menambahkan sekitar 40 gram (g) protein, atau hampir setara dengan asupan harian yang direkomendasikan. Untuk melihat apakah protein memiliki efek pada kesehatan jantung, para peneliti melipatgandakan jumlah protein yang diterima tikus dalam makanan tinggi lemak dan tinggi protein. Protein berubah dari 15 persen menjadi 46 persen kalori untuk tikus-tikus itu.

Razani dan tim segera menemukan, tikus yang memakan makanan tinggi lemak dan protein tinggi, tidak hanya mengembangkan aterosklerosis, yakni suatu kondisi yang ditandai penumpukan plak arteri saja. Namun juga, dampaknya secara signifikan lebih buruk daripada tikus yang memiliki makan diet tinggi lemak dan rendah protein.

Sementara tikus dalam kondisi diet tinggi lemak, asupan protein tinggi tidak menambah berat badan meskipun menelan banyak lemak. Protein tinggi mengembangkan sekitar 30 persen lebih banyak plak di arteri dibandingkan dengan tikus dengan diet tinggi lemak, tapi rendah protein.

Razani mengatakan studinya tersebut bukan yang pertama menunjukkan adanya peningkatan plak dengan diet protein tinggi, tetapi menawarkan pemahaman lebih mendalam tentang dampak protein tinggi dengan analisis terperinci. “Dengan kata lain, penelitian kami menunjukkan bagaimana dan mengapa protein makanan mengarah pada pengembangan plak yang tidak stabil,” kata dia.

Tubuh mamalia, sebenarnya memiliki pertahanan lini pertama terhadap plak arteri. Suatu jenis sel darah putih yang disebut makrofag biasanya membersihkan dan menghilangkan keberadaan endapan itu.

Namun, terkadang keberadaan plak itu tidak setara dengan tugas makrofag. Ketika itu terjadi, makrofag mati yang membuat plak arteri terus menumpuk.

"Pada tikus dengan diet protein tinggi, plak mereka adalah kuburan makrofag,” ujar dr. Razani.

Banyaknya sel mati di inti plak membuatnya sangat tidak stabil dan rentan pecah. Ketika darah mengalir melewati plak, alirannya memberi banyak tekanan pada plak. Kondisi itu dapat memicu serangan jantung.

Para peneliti juga melihat mekanisme melalui protein makanan dapat berkontribusi pada penciptaan plak arteri yang tidak stabil. Untuk melakukannya, mereka melihat apa yang terjadi setelah pencernaan protein makanan.

Tim menemukan bahwa kelebihan asam amino yang berasal dari makanan dengan kandungan protein tinggi, sebenarnya mengaktifkan protein lain (disebut mTOR) yang ada di makrofag. Ketika mTOR aktif, dia mengirim sinyal ke makrofag untuk fokus pada pertumbuhan daripada mengidentifikasi dan membersihkan penumpukan plak.

Akhirnya, proses pertumbuhan abnormal menyebabkan kematian makrofag.
Dua asam amino spesifik, yakni leucine dan arginine adalah pemain utama dalam urusan melumpuhkan makrofag. Namun mengetahui hal ini juga dapat membantu kita memahami makanan apa yang harus dihindari orang, misalnya, leucine khususnya mengandung daging merah, dibandingkan dengan ikan atau sumber protein nabati.

Beberapa asam amino yang berasal dari protein makanan mungkin lebih berbahaya daripada yang lain, juga dapat menginformasikan penelitian lebih lanjut tentang diet dan kesehatan jantung.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Dadi Haryadi

terbaru

Waspada, Ini Gejala dan Penyebab Diabetes Tipe 2

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 15:42 WIB

Diabetes tipe 2 merupakan kondisi di mana kadar gula dalam darah melebihi nilai normal. 

Gaya Hidup - Sehat, Waspada, Ini Gejala dan Penyebab Diabetes Tipe 2, Gejala Diabetes,Gejala Diabetes Tipe 2,Faktor Penyebab Diabetes,Penyebab Diabetes Tipe 2

Lindungi Anak Indonesia dari Lonjakan COVID-19, Ini Pesan dr Reisa

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 15:32 WIB

Hingga saat ini, tak sedikit anak yang harus kehilangan orangtuanya akibat pandemi.

Gaya Hidup - Sehat, Lindungi Anak Indonesia dari Lonjakan COVID-19, Ini Pesan dr Reisa, Dokter Reisa Broto Asmoro,dr Reisa,Vaksinasi Covid-19 Anak

Vaksinasi Bisa Kurangi Gejala Berat hingga Kematian Akibat COVID-19

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 15:29 WIB

Vaksinasi terbukti bisa menurunkan risiko munculnya gejala berat atau bahkan kematian ketika seseorang terinfeksi COVID...

Gaya Hidup - Sehat, Vaksinasi Bisa Kurangi Gejala Berat hingga Kematian Akibat COVID-19, Vaksinasi Covid-19,Manfaat Vaksinasi Covid-19,efek samping vaksin Covid-19

Bisakah Corona Menular Lewat Buang Angin?

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 12:54 WIB

Pada dasarnya, virus corona menyebar melalui tetesan cairan pernapasan tubuh, baik ketika batuk atau flu. Tapi, baru-bar...

Gaya Hidup - Sehat, Bisakah Corona Menular Lewat Buang Angin?, Penyebaran Covid-19,penyebaran corona lewat kentut,penyebaran covid-19 dari kentut,corona

4 Bahan Alami Atasi Vagina Gatal

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 12:21 WIB

Gatal dan kering bisa disertai dengan kemerahan dan pembengkakan di dalam dan sekitar vagina. Untuk menghentikan gatal p...

Gaya Hidup - Sehat, 4 Bahan Alami Atasi Vagina Gatal, vagina gatal,penyakit vagina,Kesehatan Vagina,Vagina,bibir vagina bengkak,mengobati vagina gatal

Makanan-makanan yang Harus Dikonsumsi Sebelum Donor Plasma Konvalesen

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 10:34 WIB

Permintaan darah khususnya plasma konvalesen meningkat hingga 300% pada Juli 2021, sejak gelombang kedua Covid-19 terjad...

Gaya Hidup - Sehat, Makanan-makanan yang Harus Dikonsumsi Sebelum Donor Plasma Konvalesen, Plasma Konvalesen,Donor plasma Konvalesen,Syarat dan Cara Donor Plasma Konvalesen,makanan sebelum donor plasma konvalesen

Daftar 21 Gejala Covid-19 yang Wajib Diwaspadai

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 09:32 WIB

Selama ini, banyak orang merasa ragu melakukan tes untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi Covid-19. Keraguan muncul s...

Gaya Hidup - Sehat, Daftar 21 Gejala Covid-19 yang Wajib Diwaspadai, Gejala Covid-19,pasien gejala covid-19,gejala covid terbaru,COVID-19

4 Tips Atasi Jerawat Akibat PCOS

Sehat Minggu, 25 Juli 2021 | 09:26 WIB

Sindrom Ovarium Polikistik atau PCOS merupakan salah satu masalah umum yang mempengaruhi wanita di seluruh dunia. PCOS a...

Gaya Hidup - Sehat, 4 Tips Atasi Jerawat Akibat PCOS, cara mengatasi jerawat,jerawat,make-up menyebabkan jerawat,PCOS,PCOS,Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

artikel terkait

dewanpers
arrow-up