web analytics
  

[Lipkhas] Bandung Rungsit dan Cikal Bakal Kewedanaan Cililin (Bag I)

Kamis, 30 Januari 2020 19:41 WIB Tri Junari

Bangunan bekas Kewedanaan Cililin yang kini menjadi Kantor Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. (Ayobandung.com/Tri Junari) (Tri Junari)

CILILIN, AYOBANDUNG.COM -- Kawedanan ("ke-wedana-an", bentuk bahasa Jawa) adalah wilayah administrasi kepemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan  pada masa Hindia Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia.

Menelusuri tapak sejarah Kewedanaan Cililin yang kini menjadi beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung Barat (KBB), satu tokoh Cililin, Amar Sudarma menilai sejarah kewedanaan terbagi pada beberapa bagian.

Amar yang kini berusia 85 tahun ini telah menjadi saksi sejarah Cililin pada masa peralihan penjajahan kolonial Belanda ke Jepang hingga pasca-Kemerdekaan RI. 

Amar juga berupaya menggali setiap bukti sejarah melalui pengalaman pribadi maupun penelusuran berbagai literatur dan menemui tokoh sentral dalam kewedanaan Cililin.

Semua potongan informasi itu kemudian dituangkannya dalam tulisan sederhana 'Lintasan Sejarah Bandung Rungsit (1630-1643) dan Cikal Bakal Kewedanaan Rongga-Cililin (1705-1962).

Saat ditemui Ayobandung.com di rumahnya Kampung Jati Radio Cililin, Amar tampak bugar meski usianya memasuki senja. Setiap alur cerita sejarah baik nama tempat dan tokoh masih diingatnya dengan baik.

Amar bercerita, Kewedanaan Cililin dimulai tahun 1705. Namun jauh sebelumnya, cikal bakal Kewedanaan Cililin dimulai pada masa Bandung Rungsit tahun 1630-1643. 

"Rungsit berarti atau kacau. Ini berkaitan kegagalan Adipati Ukur bernama asli Wangsa Taruna dalam perang batawi tahun 1628-1629 atas perintah Sultan Agung Mataram. Karena pada masa itu berlaku hukuman tugel jangga atau pancung, Adipati Ukur bersama pasukan sunda enggan kembali ke Mataram," ujar Amar membuka perbincangan. 

Adipati Ukur kemudian bersembunyi di Gunung Lumbung, Batulayang Cililin, sementara Sultan Agung memerintahkan pasukannya memburu Dipati Ukur. Pergolakan itu juga dibarengi dengan sisa pasukan sunda dan Mataram terus bergerilya melawan Belanda.

Ketiadaan Adipati Ukur di Tatar Ukur, Sultan Agung Mataram mengangkat Astamanggala bergelar Tumenggung Wira Angun Angun sebagai kepala pemerintahan Tatar Bandung pada 21 April 1643. 

Ia ditugaskan membereskan Rungsit di Tatar Bandung meliputi Majalaya, Ciparay, Banjaran, Bandung, Kopo, Rongga, Cisondari, Cicalengka, Ujung Berung, Raja Mandala, Cimahi, Rende, Lembang, dan Soreang.

AYO BACA : [Lipkhas] Menyusuri Sejarah 'Kota Kecil' yang Hilang di Gunung Puntang (Bagian I)

Sisa daerah yang sangat kacau ialah wilayah situ bendung daru Sanghyang Tikoro sampai Cilokotot Selatan (Cimahi) dan barat daerah Cijerokaso (Soreang). 

Daerah ini dikacaukan oleh Badog Silalawi dari daerah Karawang bermarkas di Gunung Parang Purwakarta yaitu anak buah Kraeng Glesong yang bergerilya merebut kembali daerah VOC mulai Karawang sampai Situ Bendung.

Namun sebelum itu, menjelang abad ke 17 tepatnya sejak tahun 1600-1645, di bawah Kesultanan Mataram, Tatar Ukur atau Kabupaten kini, di bawah pimpinan Adipati Ukur mempunyai daerah bawahan disebut Umbul. Terdapat 9 Umbul yakni :

1. Umbul Batulayang meliputi Kewedanaan Cililin, Soreang, dan Ciparay. Kepala Umbulnya bernama Singawangsa.

2. Umbul Saung Watang, meliputi Kewedanaan Mangunreja Garut. Kepala Umbulnya benama Demang Saungwatang.

3. Umbul Taraju, meliputi Kewedanaan Taraju, Salagedang, dan Luragung. Kepala Umbulnya bernama Ngabehi Yudakerta.

4. Umbul Kahuripan, meliputi Kota Bandung, Cimahi, Cikalong, Sumedang, dan Purwakarta. Kepala Umbulnya bernama Tumenggung Wirasuta.

5. Umbul Medang Sasingar, meliputi Sumedang Utara, Situ Raja, dan Subang. Kepala Umbulnya bernama Tumenggung Arjasuta.

6. Umbul Malangbong, meliputi Darmaraja sebelah utara, dan Cibuni sebelah selatan. Kepala Umbulnya bernama Tumenggung Balekembang.

7. Umbul Mananggel, meliputi Kewedanaan Leles sampai Galunggung. Kepala Umbulnya bernama Ngabehi Suatabraja.

8. Umbul Sagaraherang, meliputi daerah Pamanukan, Ciasem, dan Karawang. Kepala Umbulnya bernama Singaperbangsa.

AYO BACA : [Lipkhas] Menyusur Sejarah 'Kota Kecil' yang Hilang di Gunung Puntang (Bagian II)

9. Umbul Manabaya, meliputi daerah Cibuni timur sampai Kabupaten Ciamis. Kepala Umbulnya bemama Nagbehi Tanda.

Daerah Tatar Ukur pada tahun 1623 merupakan Kabupaten yang terluas di Tatar Sunda, kepala tanah Tatar Ukur dijuluki lulurah atau kedatuan. Dengan diberi gelar Tumenggung Adipati.

Kembali pada kewedanaan Cililin. Di bawah umbul Batulayang, Kewedanaan Cililin meliputi tiga kecamatan yakni Cililin, Sindangkerta, dan Gununghalu. 

Daerah Kewedanaan Cililin merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tingkat II Bandung bagian selatan tanahnya subur, membentang luas dari arah utara ke selatan dan dari timur ke barat.

Bagaikan permadani yang terhampar hijau diselingi bukit-bukit dan gunung-gunung, disertai oleh aliran sungai-sungai yang kesemuanya sungai tersebut mengalir ke sebelah utara bermuara ke Sungai Citarum. 

Hal ini menurut ahli filsafat bahwa darah Kewedanaan Cililin merupakan tanah 'Bahe Ngaler'. Tanah tersebut amat baik dihuni oleh manusia.

Sungai-sungai yang bermuara ke Sungai Citarum diantaranya Sungai Cidadap, Sungai Cilanang, Sungai Cijambu, dan Sungai Ciminyak. Disertai anak sungainya seperti Sungai Ciawitali, Sungai Cimeta, Sungai Ciwidara, Sungai Cijenuk, Sungai Cijere, Sungai Cisareuni, Sungai Citus, Sungai Cilamaya, Sungai Cibitung. Sungai Cipatik, dan Sungai Cililin.

Dengan demikian hal ini menunjukan bahwa daerah dataran rendah terletak di sebelah utara sedangkan dataran tinggi terletak di sebelah selatan. Adapun batasnya adalah sebelah utara berbatasan dengan bekas Kewedanaan Cimahi, sebelah timur berbatasan dengan Kewedanaan Soreang, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Soreang.

Bentangan daerah Kewedanaan Cililin yang demikian luas itu, maka merupakan daerah terluas diseluruh wilayah Kabupaten Bandung. Luas daerah Kewedanaan Cililin tersebut hampir sama dengan luas Kabupaten Purwakarta, atau Kabupaten Subang.

Sedangkan pembagian wilayah kecamatannya semula hanya terdiri dari tiga kecamatan saja yaitu, Kecamatan Cililin, Kecamatan Sindangkerta, dan Kecamatan Gununghalu. Setelah dimekarkan menjadi empat kecamatan, satu kecamatan pemekaran dari Kecamatan Sindangkerta yaitu Kecamatan Cipongkor.

Menurut peneliti ahli purbakala hampir sepertiga daerah Kewedanaan Cililin termasuk daerah genangan 'Danau Bandung Purba'. Hal itu juga yang menjadikan Kewedanaan Cililin tersebut menjadi daerah yang sangat subur.

Jarak antara Ibu Kota Kabupaten Bandung ke Ibu Kota Kewedanaan Cililin semula berjarak 29 kilometer. Setelah Ibu Kota Kabupaten dipindahkan ke Baleendah jarak antara keduanya menjadi lebih pendek menjadi 22 kilometer.

Bagaimana kemudian langkah strategis Tumenggung Wira Angun Angun untuk mengembalikan ketentraman dan kekuasaan di Tatar Bandung dan siapa Wedana yang dipilih untuk membereskan Bandung Rungkit di Kewedanaan Cililin?

AYO BACA : [Lipkhas] Pasir Junghuhn, Wilayah Kekuasaan Sang Ahli Botani Dunia

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers