web analytics
  

Kopi dan Dalem Condre

Kamis, 30 Januari 2020 17:59 WIB Netizen Atep Kurnia*

Lukisan R.A.A. Koesoema Ningrat alias Dalem Pancaniti karya Raden Saleh (1852). Dalem Pancaniti menulis naskah Hikayat Bupati Cianjur (104C KFH 2/5). (Sumber: archive.ivaa-online.org)

AYOBANDUNG.COM -- Saat kompeni, melalui perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn, menyebarkan bibit kopi pertama di Pulau Jawa kepada para bupati di sepanjang Batavia hingga Cirebon pada 1707, yang menjabat bupati Cianjur saat itu adalah Astramanggala alias Kiai Aria Wiratanoe (1707-1726).

Mengenai riwayat hidupnya, antara lain, bisa diikuti dari naskah Hikayat Bupati Cianjur (104C KFH 2/5) karya Dalem Pancaniti yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh C.M.F. Stockhousen (Inlandsche Verhalen van den Regent van Tjiandjoer, in 1857, 1863), Sajarah Bopati-bopati Cianjur (SD 208) dan Sajarah Cikundul (ringkasan kedua naskah ini bisa diikuti dalam buku Naskah Sunda Lama Kelompok Cerita, yang disusun Edi S. Ekadjati, dkk., pada 1983), buku Priangan: De Preangerregenschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811, Vol 1 (1910) karya F. De Haan, dan buku Sajarah Cianjur sareng Raden Aria Wira Tanu Dalem Cikundul Cianjur (1982) karya Bayu Suryaningrat.

Dari pelbagai sumber di atas diketahui bahwa Astramanggala adalah anak pertama Dalem Tarikolot (1691-1707). Nama kecilnya Endang Asep. Saudara-saudaranya adalah Raden Wiradinata atau Ngabehi Wiranata (Cutak Jampang kemudian menjadi Bupati Kampungbaru), Raden Sutadinata, Raden Suramanggala, Gan Purbanagarawati atau Nyi Raden Parbanagara dan Gan Paseliran atau Raden Paseliran.

AYO BACA: Bajigur Kopi

Menurut Sajarah Cikundul, Astramanggala terkenal tampan, tetapi tidak mau cepat beristri. Padahal bupati Tatar Ukur dan Karawang sudah menawarkan anak gadisnya. Namun, setelah mendengar di daerah Batuwangi (Sukapura) ada anak bangsawan sangat cantik bernama Raden Ayu, dia mengutus spion yang berpura-pura menjadi pedagang. Setelah jelas, barulah lamaran menyusul pernikahan antara Astramanggala dengan Raden Ayu dilangsungkan.

Dari pernikahan tersebut, Astramanggala dikaruniai lima orang anak yaitu Aom Sirabudin atau Sabirudin atau Dalem Anom atau Wiramanggala, Tumenggung Natanagara (Bupati Bogor), Raden Kartadirja, Nyi Raden Samiyah, dan Raden Dipanagara. Menurut Dalem Pancaniti (1857, 1863), “Aria Di Tjondre digantikan anak pertamanya, Raden Sabiroedin; dialah yang pertama menggunakan gelar Adipati. Namanya saat menjadi bupati adalah Adipati Wira Tanoe Datar III; ibunya berasal Distrikt Batoewangie, Soeka Poera, yang disebut Njai Raden Ajoe. Usia Njai Raden Ajoe mencapai 120 tahun dan mengalami 5 generasi; bahkan ayah saya, Adipati Prawira Di Redja mengetahuinya.”

Setelah Dalem Tarikolot meninggal pada 28 September 1706, sebagai putra tertua, Astramanggala menghadap ke Batavia, ke markas kompeni pada awal 1707. Dia kemudian diangkat kompeni menjadi Bupati Cianjur pada 12 April 1707.

AYO BACA: Kopi Kekes

Menurut De Haan (1910), Astramanggala dikenal sebagai orang yang kaya karena upaya penanaman kopi. “ … omdat hij zich zeer verdienstelijk maakte voor de uitbreiding der koffiecultuur (Bijl. 27), daarbij groote sommen verdiende, met veel talent zijn regentschap buitengewoon wist uit te breiden (zie de geographica) en een trotsch karakter had” (karena dia membuat kontribusi besar bagi penyebarluasan budidaya kopi (Bijl. 27), sehingga mendapatkan banyak uang, dengan kelihaiannya dapat memperluas wilayah kabupatennya (lihat geographica) dan suka berbangga).

Mulanya, pada 1706 atau 1707, setelah dia menerima contoh bibit kopi, dia mampu menanam bahkan menghasilkan kopi pertama yang ditanam dari Pulau Jawa, bahkan selanjutnya mendapatkan penghasilan berlebih dari tanaman tersebut. Bisa jadi dengan memaksa para penduduk yang tinggal di sekitar wilayah kekuasaannya untuk mengubah tanaman bahkan mata pencaharian mereka.

Karena seperti yang dilaporkan wakil mualim Claes Hendriksz dan Sersan Jan Carstenz pada 1686 (dalam Lampiran Buku Keputusan Pemerintah Agung VOC, 1763 [Mulai Fol. 115]), mata pencaharian orang Priangan, terutama kawasan Gabangh (Gebang), Cawassin (Kawasen), Soukapoera, Bandongh (Bandung), Paskamountsiang (Parakanmuncang), Sammadangh (Sumedang) dan Indramayou, adalah mengusahakan perikanan (nelayan), perkebunan buah-buahan, kemiri dan kapas, gaga (peladang) dan petani sawah, kerbau dan sapi, tikar rotan, lada dan kapulaga, pewarna, bawang, bawang putih, zat pewarna, lilin, sarang burung dan gelagah, hutan jati dan kijang, kuda, pisang sale, tukang loyang/penempa tembaga, dan garam. Oleh karena itu, semula penduduk Cianjur pun tidak akan jauh berbeda mata pencahariannya dengan wilayah Priangan lainnya yang disensus Claes Hendriksz dan Jan Carstenz. Dan, kopi memang tanaman baru yang diperkenalkan ke Priangan.

AYO BACA: Warna Kopi

Barangkali didorong oleh perkembangan perekonomian tersebut, Astramanggala memindahkan ibu kota pemerintahan Cianjur dari Pamoyanan ke Kampung Cianjur, yang menurut Sajarah Bopati-bopati Cianjur, terjadi pada tahun 1020 Hijriah. Namun, ini tidak tepat karena tahun 1020 H sama dengan 16 Maret 1611 hingga 3 Februari 1612 Masehi. Barangkali yang bersesuaian adalah tahun 1120 H yang bertepatan dengan 24 Maret 1708 hingga 11 Februari 1709. Bila demikian, penanaman kopi bisa dikatakan beriringan dengan pemindahan ibu kota pemerintahannya.

Namun, menurut Sajarah Bopati-bopati Cianjur dan Sajarah Cikundul, kepindahan tersebut berawal dari masa kepindahan ibu kota pada masa pemerintahan Dalem Tarikolot. Konon, ada jin berupa seorang kakek-kakek berpakaian putih yang memberitahunya agar pindah dari daerah Cibalagung ke dekat Cianjur, sebuag daerah yang amat baik dan pangguyangan (kubangan) badak putih harus berada di tengah negeri. Yang dipilih oleh Wiratanudatar II adalah daerah Pamoyanan. Oleh Astramanggala ibu kota dipindahkan lagi ke sebelah timurnya, yang dianggap lebih tepat sesuai dengan ramalan jin. Atas pemindahan ibu kota tersebut, De Haan (1910) menganggap Astramanggala justru sebagai pendiri Kabupaten Cianjur (“Volgens de inl. overlevering (Bijdr. p. 313) was hij de stichter van het tegenwoordige Tjiandjoer”).

Namun, yang jelas, setelah sekitar empat atau lima tahun penanaman, Astramanggala bisa menyetorkan 100 pon atau 102 pon kopi kepada kompeni. Waktu itu, harga per pikul kopi (yang sama dengan 125 pon) seharga 50 gulden. Kopi tersebut dikirimkan ke VOC pada bulan April 1711.

AYO BACA: Motif Kopi Batik Priangan

Menurut Bayu Suryaningrat (1982), hal-hal lain yang terjadi selama pemerintahan Astramanggala antara lain pada tahun 1711, VOC menetapkan bahwa wilayah pantai selatan dimasukkan ke wilayah Cianjur. Selanjutnya pada 1715 Jampang pun dimasukkan ke wilayah Cianjur. Rakyat Cianjur membuat gapura yang sangat besar dan menyamai gapura kesultanan untuk menghormat bupatinya. Astramanggala meminta gelar Pangeran Aria Adipati Amangkurat di Datar (Pangerang Aria Depatty Amangcoerat in Dator) dan meminta Citarum menjadi batas Cianjur. Sementara menurut De Haan (1910), pada 29 September 1725, VOC menolak permintaan Astramanggala agar anaknya dapat naik haji ke tanah Arab (“Ook verdient opmerking dat de Regeer, bij R. 29 Sept. 1725 zijn verzoek afwijst om zijn zoon passage naar Arabio te verleenen”).

Dalam kaitannya dengan tanam paksa kopi di masa kompeni itu, Astramanggala memang bertangan besi. Menurut Bayu Suryaningrat (1982), Astramanggala tegas dalam hal menerapkan hukum tanam paksa. Ketegasan ini menguntungkan pihak VOC tapi merugikan rakyat. Karena misalnya kasus bayaran kopi pada VOC yang seharusnya 17,5 gulden hanya dibayar 12,5 gulden, sedangkan yang 5 gulden dipakai oleh Astramanggala sendiri. Tidak aneh bila di masa pemerintahannya, sebagaimana yang dapat dilihat dari Tabel Distributiestaat (in picols) van het koffieproduct, tusschen de Jaren 1721 en 1810 Geleverd door de onder Batavia Ressorteerende Landen en Regentschappen (Kopi yang diserahkan kabupaten-kabupaten di bawah Batavia kepada VOC pada tahun 1721-1800) dalam buku De Haan jilid ketiga (1912), produksi kopi dari Cianjur terus meningkat antara tahun 1721 hingga 1725.

Pada 1721, produksi kopi mencapai 479 pikul. Kemudian pada 1722 meningkat dua kali lipat lebih menjadi 1.005 pikul. Pada 1723, produksinya menjadi berlipat lagi dua kali lebih, yakni 2.560 pikul. Dua tahun selanjutnya, 1724 dan 1725, produksi kopi di Cianjur meunjukkan peningkatan rata-rata dua kali lipat lebih atau kurang, yang berturut-turut sebanyak 7.170 pikul dan 12.202 pikul. Dengan kecenderungan peningkatan tersebut, menyebabkan pada tahun 1726 setengah hingga tiga perempat dari perdagangan kopi dunia berasal dari VOC dan dari jumlah itu setengahnya dihasilkan oleh Priangan bagian barat, yaitu kabupaten Cianjur (G.J. Knaap, ‘Coffee for cash; the Dutch East India Company and the expansion of coffee cultivation in Java, Ambon and Ceylon, 1700-1730’, 1986). Dan keadaan tersebut tentu saja memperkaya Astramanggala.

AYO BACA: Pecandu Kopi

Namun, keadaan ini bertolak belakang dengan nasib yang dialami masyarakat. Karena menurut Jan Breman (Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari tanam paksa kopi di Jawa, 1720-1870, 2014), sejak tahun 1723 ada aturan bahwa penduduk tidak boleh menjual kopi kepada pedagang swasta. Bila terjadi demikian, orang yang menjualnya akan mendapatkan hukuman.

Foto2

Pada buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa (2014) karya Jan Breman ada keterangan mengenai kaitan penurunan harga kopi dengan pembunuhan bupati Cianjur, Astramanggala alias Kiai Aria Wiratanoe. (Sumber: Istimewa)

Selanjutnya, Breman menyatakan bahwa untuk instruksi penyetoran hasil panen kopi kian banyak tawar-menawar dengan para kepala, sehingga penyetoran tidak lagi bersifat sukarela. Bahkan muncul unsur-unsur paksaan. Puncaknya, kompeni melakukan penurunan harga kopi secara drastis pada awal tahun 1726. Penurunan tersebut membuat para pekerja tanam paksa kian tertekan sehingga menimbulkan ketidaksenangan bahkan pemberontakan diam-diam maupun terang-terangan.

AYO BACA: Kopi dalam Rekaman Musik

Hal tersebut berujung pada pembunuhan Astramanggala, dengan menggunakan senjata sejenis golok, yang disebut sebagai condre, pada pertengahan tahun 1726. Paling tidak ada dua versi mengenai pembunuhan tersebut. Versi pertama, yang paling populer, dibunuh oleh pria yang cemburu karena tunangannya direbut Astramanggala. Versi pertama ini dicatat Dalem Pancaniti (1857), Sajarah Bopati-bopati Cianjur, Sajarah Cikundul, De Haan (1910), dan Bayu Suryaningrat (1982).

Menurut Dalem Pancaniti (1857, 1863), suatu hari Astramanggala melihat perempuan cantik di Cikembar, dan berhasrat menjadikannya sebagai selir. Namanya Apun Gencay. Si perempuan diminta itu telah bertunangan dengan pemuda dari Citeureup, daerah Bogor. Si lelaki tunangan inilah yang mengantarkan Apun Gencay ke ibu kota Cianjur. Saat diantarkan itu pada hari Kamis sore, pukul 16.00. Saat itu, Astramanggala sedang berada di paseban yang disebut pamengkang, tanpa ditemani ulubalang atau panakawan, kecuali oleh saudara seayahnya yang bernama Mas Purwa.

Astramanggala duduk menghada ke selatan dan Mas Purwa sebaliknya, duduk di bawah. Lalu muncullah utusan dari Cikembar, bersama dengan Apun Gencay dan tunangannya. Setelah menyebutkan dia telah membawa selir tersebut dan akan kembali ke kampungnya, tanpa memberi tahu bahwa Apun Gencay telah bertunangan. Astramanggala kemudian memanggil Apun Gencay bersama lelaki. Dikira akan menyembah, si lelaki tunangan Apun Gencay kemudian menikamkan condre ke perut Astramanggala dua kali.

AYO BACA: Sajen Kopi

Astramanggala berteriak kepada Mas Purwa bahwa si lelaki menikamnya. Mas Purwa memohon agar si lelaki menghentikan perbuatannya. Alih-alih berhenti, tunangan Apun Gencay menikamkan lagi condrenya untuk ketiga kalinya. Selanjutnya si lelaki kabur, tapi dikejar oleh Mas Purwa. Meskipun luka terkena sabetan condre, akhirnya Mas Purwa bisa merampas senjata tersebut serta langsung menebas kepala si lelaki, sehingga terpisah dari badannya. Badannya digusur ke alun-alun dan dicincang. Sementara Astramanggala yang terluka parah kemudian meninggal dunia pada pukul 19.00. Sementara Apun Gencay, tidak lama setelah kejadian itu, terserang penyakit cacar dan meninggal dunia.

Atas kejadian pembunuhan tersebut, kemudian ada semacam sumpah (pacaduan) bagi kalangan bupati Cianjur untuk tidak menikahi orang Cikembar dan mesti selalu bersenjatakan condre (“Hoort kinderen, kleinkinderen, achter-kleinkinderen en verdere nageslachten! Gij allen moet volstrekt niet nalaten te trouwen met menschen uit Tjikembar, en gij zult allen, van geslacht tot geslacht, steeds gewapend zijn met dat wapen Tjondre”).

Di sisi lain, Raden Karta Winata melalui karyanya Soendasch-Hollandsche Samenspraken (1883) menyebutkan demikian, “Andjeunna njandak istri noe keur panganten; tina panganten lalakina liwat langkoeng napsoena, toeloej ijang ka dajeuh api-api rek manakawan ka Dalem, serta ladjeng dalemna ditewek koe golok tjondre. Ti semet harita eta Dalem katelah Dalem tjondre serta toeroenannana katelah boejoet tjondre” (Dia mengambil perempuan yang sedang menjadi pengantin; karena mempelai lelakinya sangat bernafsu, ia kemudian berangkat ke ibu kota, berpura-pura menjadi panakawan di kabupaten, kemudian sang bupati ditikam menggunakan golok condre. Dari saat itulah bupati tersebut dikenal sebagai Dalem Condre dan keturunannya disebut Buyut Condre).

AYO BACA: Awal Kopi di Tanah Jawa

Foto3

Golok condre, senjata khas dari Cianjur, yang digunakan untuk membunuh Astramanggala. (Sumber: picuki.com)

Versi kedua pembunuhan Astramanggala disampaikan oleh G.J. Knaap (1986). Knaap menyebutkan bahwa Astramanggala diserang oleh bawahannya yang terlilit hutang, bernama Pusparaja. Pusparaja membunuh junjungannya dengan menebaskan klewangnya beberapa kali. Hal ini disebabkan saat menerima uang hasil kiriman kopi, Pusparaja kelimpungan karena besar kemungkinan tidak bisa membayar hutangnya kepada bupati, akibat penurunan harga kopi oleh kompeni pada awal 1726. Penurunan tersebut tentu akan dibagi lagi ke bawahan bupati, termasuk Pusparaja. Oleh karena itu, dia dengan teman-teman berencana mengadakan amuk massa sebagai balas dendam kepada elite Cianjur. Ternyata setelah Astramanggala tewas, Pusparaja pun dibunuh para pengawal Astramanggala. 

Setelah pembunuhan itu, pada 23 Juli 1726, Wiramanggala alias Raden Sabirudin ditetapkan sebagai penerus tampuk Kabupaten Cianjur. Dia adalah anak pertama Astramanggala. Namun, pelantikannya sendiri terus tertunda-tunda. Pelantikannya sebagai bupati Cianjur baru terlaksana setelah dia menghadap ke Batavia pada 28 Januari 1727.

Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers