web analytics
  

Imlek Bukan Perayaan Agama

Kamis, 23 Januari 2020 16:15 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Imlek Bukan Perayaan Agama, Imlek, sejarah imlek, asal usul imlek, Perayaan, Agama, fakta menarik imlek, barongsai,

[Ilustrasi] Perayaan Imlek. (Pixabay)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM – Perayaan Imlek di negeri ini--yang kali ini jatuh pada Sabtu (25/1/2020), berdasarkan kalender Masehi--makin menegaskan bahwa kebinekaan adalah keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Adalah kewajiban semua elemen bangsa ini untuk terus merawat dan menjaganya demi persatuan serta keutuhan bangsa dan negeri yang kita cintai ini.

Di Tiongkok, dan juga Vietnam, Imlek lazim disebut sebagai Tahun Baru Musim Semi (Chun Jie). Musim semi adalah masa awal tanam bagi para petani di sana. Maka, Imlek merupakan masa pesta dan suka cita kaum petani. Dengan demikian, secara tradisi, Imlek bukanlah perayaan agama.

Ada kebiasaan di kalangan keluarga Tionghoa untuk berkumpul dan makan-makan dengan menu khusus dan khas bersama keluarga pada saat Imlek. Mengenakan baju baru, memberi uang dalam amplop merah (hong bao) kepada anak-anak, mengunjungi kerabat dan mendoakan para leluhur termasuk pula tradisi yang biasa dilakukan keluarga Tionghoa pada momen Imlek.

AYO BACA: Selain Enak Dimakan, Kenali Makna Filosofis di Balik Kue-kue Khas Imlek

AYO BACA : Fakta Menarik Imlek, Dilarang Mencuci dan Buang Sampah

Berdasarkan sistem penanggalan Tionghoa, tahun ini merupakan Tahun Tikus Logam. Seperti kita ketahui, sistem penanggalan Tionghoa, yang berpatokan pada sistem peredaran bulan ini, dikaitkan dengan keberadaan zodiak (shio) yang meliputi duabelas jenis hewan dan lima jenis elemen alam raya. Kedua belas hewan itu adalah tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing dan babi. Adapun kelima elemen alam raya adalah air, kayu, api, tanah, dan logam.

Etnis Tionghoa sendiri telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Sejumlah literatur menyebut, bangsa Tionghoa pertama kali datang ke Nusantara melalui ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1405-1433). Bermula dari ekspedisi inilah kemudian secara berangsur warga Tionghoa berdatangan ke Nusantara dan membangun apa yang kemudian dikenal sebagai kawasan pecinan.

Sepanjang masa Orde Baru, Imlek, berikut tradisi seni dan budaya yang menyertainya, sama sekali dilarang untuk dirayakan secara terbuka.

AYO BACA: Ikan Bandeng Khas Imlek Dipercaya Bawa Banyak Rezeki, Ini Resepnya!

AYO BACA : 3 Resep Olahan Kue Keranjang yang Dapat Dicoba di Rumah

Dasar pelarangannya adalah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa. Entah apa yang menjadi dasar pelarangan tersebut. Yang jelas, dalam Inpres Nomor 14 Tahun 1967 itu ditegaskan bahwa etnis Tionghoa agar merayakan pesta agama atau adat istiadat tidak mencolok di depan umum, melainkan hanya dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Barulah tatkala Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, menjadi presiden di awal era reformasi, Inpres Nomor 14 Tahun 1967 itu dicabut.

Sebagai gantinya, Gus Dur menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000. Buah dari pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tersebut, Imlek menjadi perayaan terbuka di Indonesia. Kemudian, pemerintah kita pun menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional.

AYO BACA: Resep Siu Mie atau Mie Panjang Umur Khas Imlek

Alhasil, segala ini kian menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang multikultural. Artinya, meskipun Indonesia merupakan negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, sejatinya Indonesia adalah negara heterogen, yakni keberagaman menjadi identitas utama negeri ini. Dengan demikian, pluralisme menjadi sebuah keniscayaan.

Salah satu tantangan bagi Indonesia hari ini dan di masa depan adalah bagaimana menjaga pluralisme yang dimilikinya sehingga konsep Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan resmi negara kita tetap terjaga.

Djoko Subinarto alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

AYO BACA : 10 Peluang Bisnis Menggiurkan di Tahun Baru Imlek

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers