web analytics
  

Awal Kopi di Tanah Jawa

Kamis, 23 Januari 2020 13:32 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Awal Kopi di Tanah Jawa, sajen kopi, tulisan atep kurnia, budaya sunda, sejarah sajen kopi, sejarah sajen kopi dari sunda, budaya sunda, sesajen, kopi di jawa

Buku pertama yang membahas perihal upaya pemerkenalan dan penanaman kopi di Tanah Jawa. Sumber: assets.catawiki.nl

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Bagaimana awal mula tanaman kopi tiba di Pulau Jawa, lantas ditanam dan berkembang menjadi komoditas yang paling menguntungkan, khususnya dari Priangan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, banyak publikasi yang menyentilnya. Meski demikian, sepanjang penyelidikan saya, rasa-rasanya belum ada buku khusus yang mendedahkan ihwal tersebut.

Bila saya runutkan, publikasi yang di sana-sini membahas mengenai sejarah awal pengenalan dan penanaman kopi di Pulau Jawa, yang harus dikedepankan adalah buku berbahasa Inggris bertajuk The Modern Part of an Universal History: from the earliest account of time jilid ke-10. Buku yang diterbitkan di London pada 1759 ini saya kira merupakan buku pertama yang membahas perihal upaya pemerkenalan dan penanaman kopi di Tanah Jawa.

It may not be amiss to observe here, that about the year 1719 they began to cultivate coffee in Java, not as a curiosity, but as a commodity; and it is worth our notice, how many years passed before this improvement came to be thought prafticable. A notion a long time prevailed, that the Arabs were jealous and circumspect in regard to this plant as the Indians about their gold-dust; and that, to prevent its being cultivated in other countries, they never suffered so much as a bean to pass out of their hands, till so long dried in the oven as to deprive it of the power of vegetation; but in all probability this was no better than a fable: for, about the year 1690, some coffee shrubs in pots were transported to Batavia, and, being there transplanted, grew very well. In 1697, from the pestilential fumes that succeeded a great earth quake, most of the gardens belonging to that colony suffered severely, and most of their curious plants were killed; a few coffee-shrubs, however, escaped; and, in 1706, they began to plant them again in many places, and particularly in the garden of the governor-general, where in a few years they came to great perfection. At length, therefore, it was resolved to try whether the coffee they produced might not be roasted and drank. Since that time coffee is become a great commodity in Java ...,” demikianlah yang tertulis pada halaman 406.

Ada beberapa fakta yang dapat ditimba dari kutipan di atas. Pertama, disebutkan bahwa kopi sebagai komoditas dari Jawa telah dimulai sejak 1719. Kedua, tumbuhan kopi yang sudah menjadi semak yang ditanam dalam pot dibawa ke Batavia pada 1690 dan ditanam kembali di sana serta tumbuh subur. Ketiga, pada 1697, karena adanya gempa yang dahsyat menyebabkan kebanyakan tanaman kopi di Batavia mati, hanya sebagian kecil saya yang bisa selamat. Keempat, pada 1706 ada upaya untuk menanam kembali kopi di banyak tempat, termasuk di taman atau kebun milik gubernur jenderal VOC, kemudian diuji apakah bisa disangrai dan diminum (might not be roasted and drank).

Foto-02-3

AYO BACA : Pemkot Cimahi Incar Pajak dari Kedai Kopi

Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704-1709) yang mula-mula membagikan bibit kopi kepada bupati-bupati di sekitar Batavia hingga Cirebon pada 1707. Sumber: Wikipedia

Alhasil, buku The Modern Part of an Universal History diterbitkan setelah 20-an tahun upaya perkenalan kopi di Tanah Jawa. Selain buku itu, yang layak dijadikan rujukan banyak sekali. Bila disusun secara kronologis, antara lain, seperti makalah “History of Coffee” karya John Crawfurd, Esq. yang dibacakan di depan The Statistical Society of London, pada 19 Januari 1852; makalah “Invoering van de koffijkultuur op Java, 1700-1750” karya P.A. Leupe dalam majalah BKI (1859); buku Coffee: Its History, Classification and Description (1894) oleh Joseph M. Walsh; Priangan (1911) karya F. De Haan; All About Coffee (1922) oleh William H. Ukers; Modern Coffee Production (1923) karya A.E. Haarer; Het Preangerstelsel (1677-1871) en zijn nawerking (1931) karya J.W. de Klein; A Review of Literature of Coffee Research in Indonesia (1957) karya P.J.S. Cramer; makalah ‘Coffee for cash; the Dutch East India Company and the expansion of coffee cultivation in Java, Ambon and Ceylon, 1700-1730’ karya G.J. Knaap dalam buku Trading companies in Asia 1600-1830 (1985); dan buku Koloniaal Profijt van Onvrije Arbeid: Het Preanger Stelsel van Gedwongen Koffieteelt op Java, 1720-1870 (2010) karya Jan Breman yang diindonesiakan menjadi Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 (2014).

Dari rujukan di atas, saya akan mencupliknya sedikit-sedikit, terutama yang terkait sejarah kopi di Jawa. Pada tulisan Crawfurd (1852), antara lain, disebutkan bahwa sekitar 1690, Gubernur Jenderal Hindia Belanda van Outhoorn meminta biji kopi masak dibawa ke Jawa. Di Batavia, kopi tumbuh dan berbuah. Kemudian, dia mengirimkan satu tanaman kopi kepada Gubernur VOC Nicholas Witsen, yang kemudian ditanam di Kebun Botani Amsterdam. Dari Amsterdam, tanaman kopi dikirim ke Suriname dan terjadi penanaman pada 1718. Dari Suriname, kopi dibawa oleh orang Inggris ke Jamaika dan oleh orang Prancis ke Martinique pada 1728.

Untuk tulisan Leupe (1859), De Haan (1911), De Klein (1931), Knaap (1985), akan dibahas dalam konteks buku karya Breman (2014), karena keempatnya dijadikan rujukan. Selanjutnya, saya akan membahas terlebih dahulu dari buku Coffee: Its History, Classification and Description. Di situ ada fakta-fakta bahwa kopi diperkenalkan dari Arabia ke Jawa pada 1690. Saat itu menurut Boerhave, Wali Kota Amsterdam dan Gubernur VOC Nicholas Wilser, memerintahkan Gubernur Jenderal Batavia Van Horn, untuk menanam tanaman atau biji di daerah koloninya.  Namun, menurut Stavornius, kopi pertama kali dibawa dari Mocha (Yaman) ke Batavia selambat-lambatnya pada 1722 oleh Gubernur Jenderal Zwardekiom. Sebagian berpendapat bahwa Zwardekiom hanya membantu menyebarkan tanaman tersebut ke seantero Jawa. Hal yang sama dibahas dalam buku Modern Coffee Production (1923).

Sementara dalam All About Coffee (1922) bisa dicatat fakta-fakta sebagai berikut. Pada 1696, atas anjuran Wali Kota Amsterdam Nicolaas Witsen, Komandan VOC di Malabar Adrian Van Ommen, mengapalkan tanaman kopi dari Kananur, Malabar, ke Jawa. Yang dibawanya adalah jenis Coffea arabica. Kopi-kopi tersebut ditanam oleh Gubernur Jenderal VOC Willem van Outhoorn di Perkebunan Kedawoeng, di dekat Batavia, tetapi rusak karena gempa bumi. Kemudian pada 1699 Henricus Zwaardecroon mengimpor stek kopi dari Malabar ke Jawa. Kali ini tanaman tersebut berhasil tumbuh, sehingga pada 1706, contoh tanaman kopi Jawa dikirim ke Kebun Botani Amsterdam. Dari sana, bibit kopi disebar lagi ke kebun-kebun botani yang ada di Eropa.

AYO BACA : Ini yang Terjadi Jika Minum Kopi Saat Perut Kosong

Kemudian dalam buku Review of Literature of Coffee Research in Indonesia (1957) didapati kenyataan bahwa “In Java during the decades 1680 to 1700 more advanced study on coffee, and its planting, was being carried on, and by 1711 a first lot of 102 pounds of clean market coffee was sold to the Dutch East India Company in Java” (Di Jawa selama dasawarsa tahun 1680 hingga tahun 1700 lebih banyak kajian mengenai kopi, dan budidayanya terus dilakukan, dan pada 1711, 102 pon kopi bersih dari Jawa mula-mula dijual oleh VOC).

Foto-03-2

Buku Review of Literature of Coffee Research in Indonesia (1957), antara lain, menyatakan bahwa hasil panen pertama kopi dari Pulau Jawa pada 1711 sebanyak 102 pon. Sumber: Google Books

Kini tinggal lima sumber rujukan lagi, yakni Leupe (1859), De Haan (1911), De Klein (1931), Knaap (1985), dan Breman (2014). Dari buku Breman itu,  didapati fakta-fakta yang beririsan dengan berbagai rujukan sebelumnya. Di situ disebutkan pertama bahwa, kopi pertama yang tiba ke Pulau Jawa berasal dari pantai Malabar (India) pada akhir abad ke-17. Kedua, pemerkenalan tanaman tersebut banyak melibatkan campur tangan pribadi dan anggota direksi VOC. Ketiga, setelah menerima kiriman segenggam biji kopi dari Jawa pada 1706, De Heeren Zeventien (Tuan 17) atau Dewan VOC di Belanda menulis surat yang berisi saran agar pembudidayaan kopi menjadi perhatian Gubernur Jenderal J. van Hoorn. Keempat, pada akhir 1707, van Hoorn mengabarkan kepada Dewan VOC bahwa telah membagikan tanaman kopi itu kepada pelbagai kepala pribumi di sepanjang pantai Batavia sampai Cirebon, untuk hobi. Kelima, karena kopi tidak begitu berkembang di Batavia yang berdataran rendah, tanaman tersebut dikembangkan ke Karawang yang daerahnya agak tinggi. Sehingga pada akhirnya bisa tumbuh dengan subur pada dataran tinggi Priangan.

Dengan demikian, dari berbagai referensi di atas, dapat disimpulkan, tanaman kopi mulai diperkenalkan ke Batavia pada akhir abad ke-17, yaitu antara 1690-1699 dari Malabar (India), pada masa Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys (1684-1691) dan Willem van Outhoorn (1691-1704). Namun, upaya penanamannya mengalami kegagalan akibat gempa bumi dahsyat yang melanda Batavia dan sekitarnya. Upaya Outhoorn dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704-1709) yang membagikan bibit kopi kepada para kepala pribumi pada 1707, Abraham van Riebeeck (1709-1713), Christoffel van Swoll (1713-1718), dan penyebaran secara luas lagi ke seluruh Jawa terjadi pada masa Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon (1718-1725), yang mengambil bibitnya dari Mocha (Yaman).

Dan ternyata upaya penyebaran bibit kopi oleh van Hoorn ada yang berhasil menanamnya sekaligus memanennya. Karena sekitar lima tahun setelah pembagian benih kopi, pada April 1711, Bupati Cianjur Kiai Aria Wiratanoe atau R.A. Wira Tanu III alias Dalem Condre (1707-1726) mengirimkan 100 pon atau 102 pon kopi kepada VOC. Waktu itu, harga per pikul kopi (yang sama dengan 125 pon) seharga 50 gulden. Inilah hasil panen pertama kopi yang dapat ditanam di Pulau Jawa serta dapat dipasarkan di Belanda. Hasil panen kedua di Pulau Jawa berasal dari daerah Cirebon pada 1712.

*Atep Kurnia

Peminat literasi budaya

AYO BACA : Sajen Kopi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers