web analytics
  

Pendidikan (Inovasi) Bertumpu pada Guru

Minggu, 19 Januari 2020 10:52 WIB
Netizen, Pendidikan (Inovasi) Bertumpu pada Guru, kabar netizen, netizen ayobandung, pendidikan, guru,

ilustrasi KBM. (Ayobandung.com)

AYOBANDUNG.COM -- Dalam beberapa kesempatan publik diperdengarkan statemen Mendikbud Nadiem Makarim terkait inovasi. Walaupun term ini bukan hal baru, setidaknya kini memberikan harapan baru.

Pak Menteri tidak main-main untuk menjadikan guru sebagai pusat inovasi. Yang pertama dikumandangkan adalah mempreteli tugas administratif dari aktivitas rutin guru. Setelah itu, guru diharapkan dapat mengalihkan energinya pada aspek yang lebih produktif.

Untuk menjadi inovator tentu saja diperlukan setidaknya tiga hal, yaitu; pertama, referensi yang cukup. Dengan dikurangi beban administrasi, guru diharapkan dapat memiliki waktu lebih banyak untuk membaca, belajar, dan mengikuti kegiatan positif lainnya. Dari situ guru-guru akan mendapatkan banyak ide untuk melakukan inovasi.

Kedua, komunitas inovasi antar guru. Dengan membentuk komunitas atau dengan sering berinteraksi dengan sesama guru, mereka dapat saling berbagi dan saling mengisi. Kegiatan yang asalnya individualistik demi memenuhi syarat administratif diubah menjadi kegiatan diskusi dan saling membantu untuk menemukan gagasan-gagasan baru.

Ketiga, menciptakan iklim inovasi. Ini terkait dengan pembentukan suasana dan sarana. Hal ini harus melibatkan sekolah secara kelembagaan karena para guru akan semakin enjoy dalam berinovasi jika sekolahnya mendukung kegiatan itu dengan kebijakan yang selaras.

Wawasan guru dari hasil membaca, diskusi dan eksperimen, kemudian ditransfer ke siswa. Kebiasaan yang baik seperti selalu mencari hal baru, menemukan sesuatu, dan membuat hal-hal haru, harus menjadi tradisi belajar masa kini. Belajar tidak hanya hanya menghafal tetapi dituntut untuk menemukan hal-hal baru. Bahkan anak-anak harus dididik untuk selalu mencari solusi atas persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan menemukan masalah sebenarnya tidak sederhana. Diperlukan kemampuan analisis terhadap fenomena sosial untuk terampil merumuskan masalah. Bahwa dengan kemampuan menemukan masalah, diharapkan setiap siswa dirangsang untuk membiasakan diri untuk mencari jawaban.

Karenanya kemampuan siswa selanjutnya adalah bagaimana menjawab persoalan sosial dengan solusi yang dirumuskan oleh siswa. Maka semenjak di sekolah anak-anak sudah dibiasakan untuk berpikir solusi, bagaimana menciptakan rumusan-rumusan pikiran yang berorientasi pada solusi sosial.

Maka inovasi yang dihasilkan sebenarnya bukan pada aspek tekonologi saja, tetapi juga pada seluruh bidangnya. Orang yang konsen di seni maka mereka harus menciptakan inovasi di bidang seni, termasuk di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya.

Namun, sebagai siswa yang sedang belajar, maka para pelajar membutuhkan permodelan. Dan model yang paling dekat adalah gurunya. Kalaupun tidak menjadi model secara nyata, guru-guru setidaknya dapat memberikan motivasi, memberikan guidance, dan arahan agar anak-anak terangsang dan memiliki gambaran dari inovasi yang akan diciptakannya.

Pentingnya posisi guru, maka Mendikbud begitu bersemangat untuk terus menyemangati mereka dari berbagai sisi. Walaupun itu tidak mudah, butuh waktu, tetapi ini harus dimulai. Karena bagaimanapun pendidikan bertumpu pada guru. Dan Mas Menteri tahu betul posisi ini.

Roni Tabroni, Dosen Universitas Muhamadiyah Bandung, UIN Bandung, dan USB Bandung.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers