web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Homo Digitalis

Selasa, 14 Januari 2020 17:06 WIB Netizen Djoko Subinarto

Ilustrasi. (Pixabay/Gerd Altmann)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM – Saat ini Indonesia berada di peringkat keenam sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, setelah Jepang, Brazil, India, Amerika serikat, dan Tiongkok. Jumlah pengguna internet di negeri ini diperkirakan mencapai 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen dari jumlah total penduduk Indonesia.

Jumlah pengguna internet yang cukup tinggi tersebut belum dibarengi dengan perilaku produktif para penggunanya. Pasalnya, sebagian besar pengguna internet kita masih memanfaatkankan internet sebagai alat hiburan semata.

Merujuk kepada survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), beberapa waktu lalu, sebesar 89,35 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan internet hanya untuk mengakses aplikasi percakapan (chatting) dan 87,13 persen untuk mengakses media sosial.

Terkait media sosial, kabar buruknya, yakni meskipun media sosial melahirkan sejumlah manfaat, seperti menyambung tali silaturahim, menambah pertemanan, dan memperluas jejaring sosial serta relasi bisnis, toh keberadaan situs-situs media sosial ini justru lebih sering dimanfaatkan untuk hal-hal yang kurang produktif.

AYO BACA : Merayakan Literasi

Peningkatan aksesbilitas serta mobilitas teknologi digital dengan cepat mengubah cara kita berkomunikasi. Peradaban kita sekarang ini telah berada pada fase yang disebut-sebut oleh sementara kalangan sebagai fase homo digitalis, tatkala eksistensi kita lebih banyak ditentukan oleh aktivitas digital. Sebagian besar kita dewasa ini berkomunikasi secara instan dengan menggabungkan teks, foto, maupun video melalui teknologi telepon pintar atau komputer dan perangkat multimedia lainnya. Pada saat bersamaan, siapa pun kini bisa pula memproduksi informasi--terlepas apakah informasi itu bernilai atau tidak--dan menyebarkannya ke seantero jagat dengan cepat dan seketika. Perubahan-perubahan yang mengiringi kemajuan teknologi ini telah melahirkan lanskap-lanskap tekstual yang baru (Carrington, 2005).

Semakin sulit dipungkiri dunia maya telah menjadi “rumah kedua” kita. Bahkan, boleh jadi bagi sebagian orang saat ini, interaksi sosial justru lebih intens dilakukan di dunia maya ketimbang di dunia nyata.

Jejaring media sosial bukan saja telah mengubah cara kita dalam mendapatkan informasi terkini secara instan, tetapi juga kemungkinan telah mengubah cara kita melihat dan memahami aneka persoalan di sekeliling kita. Bukan hanya itu, media sosial juga telah mengubah cara orang menampilkan diri mereka dan mengelola relasi-relasi sosial mereka.

Pada saat yang sama, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan kita mengalami banjir informasi yang demikian hebat nyaris setiap saat. Berbagai jenis informasi mengepung kita tanpa henti. Maka, kemampuan untuk menyaring, memahami, dan mengelola informasi merupakan sebuah keniscayaan. Karenanya, kemampuan literasi dasar berupa membaca dan menulis saja tampaknya belum cukup menjadi bekal untuk mengarungi era Revolusi Industri 4.0.

AYO BACA : OJK: Inklusi dan Literasi Keuangan di Jabar Terus Meningkat

Selama ini, kebanyakan dari kita masih mendefinisikan literasi cuma sebagai 'kemampuan membaca dan menulis'. Akan tetapi, akibat perubahan-perubahan besar sebagai buntut dari kemajuan di sektor teknologi informasi dan komunikasi, literasi kini tak hanya terkait dengan kemampuan membaca dan menulis, melainkan lebih luas dari itu yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dalam bentuk apa pun.

Dalam konteks tersebut, berkomunikasi secara efektif tidak melulu mengandalkan kemampuan membaca dan menulis, namun juga kemampuan dalam soal menginterpretasi, menganalisis, dan mengevaluasi.

Multiliterasi menjadi hal yang sangat krusial untuk dikuasai oleh anak-anak kita yang lahir dan dibesarkan di era digital dan era media sosial. Sebagian besar dari mereka saat ini tak lagi belajar dengan metode auditori dan berbasis pada teks sebagaimana lazimnya yang berlaku pada sekolah-sekolah tradisional, melainkan telah melibatkan penggunaan perangkat multimedia dan internet.

Generasi digital merupakan generasi yang memiliki limpahan aneka ragam jenis informasi di mana informasi sudah bukan lagi sebatas pesan-pesan berupa teks, melainkan berupa gabungan dari teks, suara, gambar maupun film.

Media dan metode untuk menyebarkan informasi juga sangat beragam dengan aneka platform. Kemampuan literasi pun sekarang ini kerap dikaitkan pula dengan kemahiran dalam soal penggunaan dan pemanfaatan teknologi komunikasi termutakhir. Maka, muncullah istilah literasi web, literasi media sosial, literasi virtual, literasi digital maupun literasi multimedia.

Institusi pendidikan menjadi institusi terdepan dalam membekali anak-anak kita dengan kemampuan multiliterasi yang sangat dibutuhkan untuk mengarungi era digital saat ini dan di masa depan. Dengan bekal kemampuan multiliterasi yang memadai, anak-anak kita, generasi masa depan bangsa ini, diharapkan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dan melimpahnya informasi untuk menggapai kehidupan yang lebih baik, tidak hanya bagi diri mereka tetapi juga bagi orang lain. Bukan malah memanfaat kemajuan teknologi dan melimpahnya informasi itu untuk tujuan-tujuan yang kontraproduktif dan destruktif.***

Djoko Subinarto, Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

AYO BACA : GOR Saparua Direnovasi, Apa Kabar Pojok Literasi?

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers