web analytics
  

Opiniku Kini Opinimu

Senin, 13 Januari 2020 14:51 WIB Netizen Adinda Shafira
Netizen, Opiniku Kini Opinimu, cara. menulis, opini, media massa,

[Ilustrasi] Menulis opini. (Unsplash)

AYOBANDUNG.COM -- Menulislah, maka kamu akan hidup. Kata-kata tersebut sering dilontarkan oleh penulis-penulis ternama yang tentu selalu mengingatkan kita betapa pentingnya menulis. Perkembangan zaman telah mengantarkan kita ke suatu proses yang lebih mudah dan berbelit dalam satu waktu. Segala sesuatu dapat mudah kita akses dalam dunia maya, media sosial, dan tulisan terkait isu yang sedang terjadi. Dengan hadirnya teknologi, seakan-akan kini manusia disuguhkan dengan berbagai informasi acak, suka atau tidak suka.  

Kini, menulis dapat menjadi pekerjaan atau hobi semua orang. Kita tidak perlu menggunakan mesin tik untuk membuat suatu tulisan, sama halnya ketika mencari informasi kita tidak perlu pergi meliput layaknya jurnalis, semua informasi telah terpapar dalam berbagai media cetak dan daring. Namun, hal ini mendatangkan jebakan kemalasan dalam diri kita. Era digital lambat laun mematikan rasa penasaran, rasa ingin tahu akan sesuatu, dan rasa peduli akan berbagai hal.

Media sosial saat ini memiliki kekuatannya sendiri, masyarakat menanggapi isu dan fenomena secara cepat dan gamblang. Orang-orang menuliskan pendapatnya di berbagai media sosial dan menunggu hingga pendapatnya viral. Padahal, dalam dunia tulis-menulis, mengemukakan pendapat melalui artikel opini akan terasa lebih menyeluruh dan detail. Artikel opini dapat menjadi pilihan yang cocok daripada sekadar mengungkapkan pendapat di media sosial yang memiliki batas karakter yang cenderung sedikit.

Tentu, dalam menulis harus diimbangi dengan pengetahuan yang luas dan meningkatkan literasi terhadap sesuatu yang ingin kita tulis. Melatih diri untuk peka terhadap isu dan fenomena sekitar juga membantu kita menemukan ide tentang apa yang harus kita tulis. Memang, dalam proses menulis artikel opini tidak semudah itu, Saya pun merasakannya. Apalagi, ketika menyesuaikan gaya bahasa dan tema tulisan pada media yang kita tuju, hal tersebut tidaklah mudah.

Awalnya, saya merasa asing dengan ketika ingin menulis artikel opini. Pasalnya, menulis artikel opini berbeda dengan menulis karya jurnalistik lainnya. Apa yang kita tulis dalam artikel opini merupakan suatu hal yang benar-benar kita pahami dan sesuai dengan bidang keilmuan kita. Maka, dalam menulis diperlukan kepekaan indrawi sebagai konstruksi atas pengamatan yang berasal dari akal. Melalui kesan indrawi yang kita miliki, akan menghasilkan konstruksi fakta faktual yang dapat melahirkan pengetahuan atau pengenalan.

Daya pikir yang kritis dan kepekaan terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita juga turut berperan dalam kehadiran ide menulis artikel opini. Dengan begitu, aktualitas mengenai hal yang kita tulis akan menjadi lebih tinggi dan memiliki perhatian di masyarakat. Tidak ada aturan khusus dalam menulis artikel opini, namun gaya bahasa yang kita gunakan haruslah menjangkau semua lapisan masyarakat.

Ketika menulis artikel opini, komunikasi yang dibangun dalam tulisan akan lebih mudah dipahami ketika kita menggunakan komunikasi emansipatoris, yakni komunikasi yang setara, bukan yang menyulitkan pembaca. Dalam menentukan hal apa yang kita suka untuk ditulis, maka membaca itu sangat perlu. Memperluas sudut pandang dan pemahaman kita dalam berbagai hal. Ide tulisan bisa datang dari mana saja, mulai dari politik, sosial, ekonomi budaya, teknologi, olahraga, dll.

Menentukan hal yang disukai untuk mengembangkan pemikiran kita dalam artikel opini bukan hal yang mudah menurut saya. Namun, dengan rutin membaca berbagai tulisan milik orang lain yang lebih andal akan membantu kita dalam menentukannya. Hal ini akan terjadi seiring perkembangan kita dalam menulis. Tak hanya itu, kita harus sadar siapa khalayak yang akan kita tuju. Gaya bahasa dan gaya tulisan di media mana tulisan kita akan dimuat juga penting. Entah itu media daring, surat kabar, majalah, buletin, atau sebagainya memiliki ciri khas tulisan yang berbeda.

Tentunya, dalam menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur pembaca kita perlu memperkaya wawasan. Meskipun bentuknya pendapat, tulisan kita tidak boleh kosong, referensi dan sudut pandang baru menjadi hal yang unik dan segar yang dapat dikonsumsi pembaca dari artikel opini yang kita tulis. Artikel opini juga berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisnya tentang suatu masalah atau peristiwa, maka ketika Saya mengetahui konsentrasi topik dan isu yang Saya minati, untuk mencapai hal-hal tersebut akan terasa lebih mudah.  

Proses mengumpulkan ide dan menyusun pikiran agar kritis terkait isu atau fenomena yang segar di sekitar kita memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam melihat sudut pandang dan pemikiran yang tidak umum untuk menyuguhkan kepada pembaca juga bukan hal yang mudah. Pemaparan fakta sebagai data yang dapat memunculkan pendapat, pandangan, gagasan atau bahkan interpretasi dari fakta yang ada pada data tersebut juga penting. Saya pun menyadari, setelah merasa paham dan adanya ketertarikan dari suatu hal yang saya minati, fakta, interpretasi, dan opini penting untuk dikembangkan. Isi artikel opini yang kita tulis tak hanya berisi komentar suatu masalah, tetapi bagaimana kita mengajukan pandangan, pendapat atau pemikiran lain, baik yang sudah banyak diketahui masyarakat maupun yang belum diketahui.

Isi tulisan yang menarik juga perlu diimbangi dengan judul artikel yang menggugah pembaca. Dalam menentukan judul, saya biasanya memikirkan hal yang paling penting yang merupakan buah pikiran saya atau ide utama dan tujuan saya dalam menulis artikel opini. Melalui judul, pembaca dapat memutuskan tulisan mana yang layak untuk dibaca dan mana yang tidak. Maka, dalam membuat judul, kita memerlukan pemikiran, pertimbangan, dan penyesuaian secara khusus. Kriteria judul artikel opini, tentunya harus atraktif dan baru yang menarik dan mengundang rasa ingin tahu pembaca dan redaktur media massa.

Judul yang singkat padat, namun dapat mewakili seluruh isi tulisan merupakan judul yang menarik. Dengan begitu, memperhatikan pemilihan diksi dan menerapkan ekonomi kata menjadi suatu hal yang penting dalam menulis. Ketika menulis, pembaca pun akan menentukan relevansi antara judul dan isi artikel, apakah mencerminkan gagasan sentral tulisan yang dibuat. Berkaitan dengan hal ini, saya perlu menekankan betapa pentingnya ekonomi kata dan efektivitas kalimat dalam menulis. Agar lebih mudah, menerapkan bahasa jurnalistik memudahkan kita dalam menyampaikan gagasan lewat tulisan.

Menurut saya, memperkaya kosakata dan berbagai ungkapan diperlukan dalam berkomunikasi lewat tulisan. Begitu juga menurut Ernest Hemingway, dalam menulis, menggunakan kalimat-kalimat pendek, bahasa biasa yang mudah dipahami orang, bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya, bahasa tanpa kalimat majemuk, bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif, bahasa padat dan kuat, dan tentunya harus bahasa positif, bukan bahasa negatif. Namun, menerapkan ekonomi kata dan bahasa jurnalistik bukan berarti memotong kata dan menghilangkan maknanya.

Ketika menulis artikel opini, ekonomi kata perlu digunakan karena tulisan yang hendak kita publikasikan akan dibaca oleh khalayak dengan usia, latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda. Lalu, dalam menghilangkan kata mubazir, tidak boleh menghilangkan subjek yang dibicarakan. Penulis yang cerdas dapat memahami teknis detil dalam membuat tulisan yang menarik. Maka, gaya penulisan harus lugas dan mudah dimengerti, termasuk juga melihat ciri khas tulisan media yang ingin kita tuju, dengan begitu penggunaan bahasa dan konten tulisan juga harus disesuaikan.

Menulis artikel opini bukan sekadar mengeluarkan pendapat agar dibaca banyak orang, lebih dalam lagi menurut saya, yakni menghargai perbedaan pendapat masyarakat, aspirasi, dan persoalan masyarakat diberi saluran untuk didiskusikan dan dikaji. Ketika kita turut mengemukakan pendapat lewat artikel opini, kita pun secara tidak langsung turut mengajak khalayak untuk menghargai perbedaan dan mengembangkan perbedaan sebagai sumber konstruktif untuk memajukan kesejahteraan rakyat.

Lewat menulis artikel opini, saya dapat turut memberikan ide dan masukan terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar saya, bukan hanya mengeluh. Artikel opini menjadi wadah saya dalam menuangkan pikiran, sembari memperkaya wawasan saya dan meningkatkan literasi membaca dalam diri saya. Dalam dunia tulis-menulis, maka menulis bukan hanya dapat menguntungkan pembacanya, namun penulis juga dapat membantu meningkatkan daya intelektual dan saling mendukung dalam dunia literasi di Indonesia.

Adinda Shafira, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers