web analytics

Tercorengnya Pejuang Demokrasi Indonesia

clockMinggu, 12 Januari 2020 11:48 WIB user-groupNetizen Mohamad Ully Purwasatria, M.Pd
Netizen, Tercorengnya Pejuang Demokrasi Indonesia, netizen, demokrasi, pesta demokrasi, korupsi

Ilustrasi (republika)

Tahun 2020 ini diawali oleh catatan hitam bagi Demokrasi Indonesia, yaitu ketika KPK berhasil menggelar operasi tangkap tangan (OTT) kepada salah satu anggota Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) yaitu Wahyu Setiawan (WSE) pada hari Rabu 8 Januari 2020 di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. WH ditangkap oleh KPK atas kasus penerima suap proses Penggantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPR RI periode 2019-2024.

Dalam kasus ini, WH diduga meminta upeti atas proses penetapan PAW ini sebanyak Rp 900 Juta agar memuluskan calon anggota legislatif (caleg) Dewan Pewakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Harun Masiku (HAR). WSE tidak sendirian, mantan anggota Bawaslu RI yaitu Agustina Tio Fridelina, Saeful (swasta), Doni (advokat), Rahmat Tonidaya (asisten Wahyu), Ika Andayani, dan Wahyu Budiyani (kerabat Wahyu), Ilham (sopir Saeful).

Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua KPK Lily Pintauli Siregar dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK. Mengutip dari artikel Pikiran Rakyat edisi hari Jumat 10 Januari 2020, Ia mengatakan kasus ini bermula saat KPK menerima informasi adanya transaksi permintaan uang oleh WSE kepada Agustiani pada Rabu (8/1/2020). Tim pun langsung mengamankan Wahyu dan Rahmat di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 12.55.

Kemudian tim KPK secara paralel mengamankan Agustiani di rumah pribadinya di Depok pada pukul 13.14 dan mengamankan uang senilai Rp. 400 Juta dalam bentuk dolar Singapura (SGD) dan buku rekening yang diduga terkait dengan perkara itu. Tim lain pun mengamankan Saeful, Doni, dan Ilham di sebuah restoran pukul 13.26. Terakhir KPK mengamankan Ika Andayani dan Wahyu Budiyani di kediaman pribadi di Banyumas.

Penangkapan dan penetapan WSE sebagai tersangka kasus suap, menambah catatan kelam pejuang demokrasi yang terkena kasus pidana. Sebelumnya terdapat beberapa Komisioner KPU yang terkena kasus pidana yang dikutip dari Detik News, Suara.com, dan Pikiran Rakyat yaitu:

1. Mulyana Wira Kusumah (Anggota KPU RI Periode 2001-2005) terlibat kasus penyuapan terhadap pemeriksa BPK terkait dengan pengadaan barang dan jasa di KPU pada bulan April 2005. Mulyana divonis 2 tahun 7 bulan penjara oleh Pengadilan Tipikor.

2. Nazarudin Sjamsudin (Ketua KPU RI Periode 2001-2005) terkena kasus korupsi Asuransi Petugas Pemilu tahun 2004 yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp. 20 miliar pada bulan Mei 2005. Nazarudin divonis 4 Tahun Penjara dan denda Rp. 200 Juta subsider 2 bulan kurungan oleh Mahkamah Agung pada Februari 2006.

3. Rusadi Kantaprawira (Angota KPU RI Tahun 2001-2005) terlibat dalam kasus korupsi pengadaan tinta Pemilu 2004 pada bulan Juli 2005. Kerugian negara ditaksir mencapai Rp 4,6 miliar. Kasus ini juga menyeret Komisoner KPU Achmad Rojadi. Rusadi dan Achmad divonis 4 Tahun Penjara..

4. Daan Dimara (Anggota KPU Periode 2001-2005) terlibat kasus pengadaan segel sampul surat suara Pemilu 2004 senilai Rp. 60 miliar. Daan divonis 4 tahun pejada dan denda Rp. 200 Juta subsider 2 bulan kurungan oleh pengadilan Tipikor pada November 2006.

Dengan ditetapkannya WSE sebagai tersangka, akan memberikan dampak buruk terhadap menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada KPU yang seharusnya menjunjung tinggi netralitasnya. Apalagi dalam menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020 ini menjadi sebuah cobaan yang harus segera dibenahi. Dengan tertangkapnya anggota KPU sebagai tersangka menjadi pelajaran bagi penyelenggara pemilu dan pejuang demokrasi agar jangan kembali bermain api dengan memuluskan segala cara untuk mendapatkan keuntungan melalui korupsi.

KPU sebagai lembaga yang independen dan tidak ada intervensi dari kekuasaan apapun. Tentunya dalam tubuh KPU ini perlu adanya pembenahan agar kasus seperti ini tidak terulang kembali. Pembenahan dalam proses rekruitmen yang harus mengesampingkan berbagai kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok, melihat rekam jejak calon anggota KPU secara komprehensif dan perlu diperketat juga dalam proses fit and proper test oleh anggota DPR agar meminimalisir adanya kasus pidana yang dilakukan oleh anggota KPU dikemudian hari.

Semua usaha ini harus dicapai dengan tujuan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga KPU. Jika anggota KPU saja bermain dengan kasus pidana, apakah nanti produk dari demokrasi Indonesia? Bagaimana dengan roda pemerintahan? Dan bagaimana dengan nasib Indonesia?

Maka untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, KPU sebagai penyelenggara pemilu harus menunjukkan integritasnya agar dapat menciptakan iklim demokrasi yang lebih baik kedepannya.

Mohamad Ully Purwasatria, M.Pd
Guru di beberapa SMA Kota Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Rizma Riyandi

terbaru

Selebgram Cilik dan Hak Privasi Anak

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 18:00 WIB

Hak anak atas privasi digital sudah milik mereka sejak lahir.

Netizen, Selebgram Cilik dan Hak Privasi Anak, Selebgram Cilik,Hak Privasi Anak,Selebram,Instagram

Tiga Kata Sederhana Ini Masih Sering Dilupakan dan Diabaikan

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 16:10 WIB

Ada tiga kata ajaib yaitu tolong, maaf,dan terima kasih, yang kini mulai sukar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Netizen, Tiga Kata Sederhana Ini Masih Sering Dilupakan dan Diabaikan, Tiga Kata Sederhana,tiga kata ajaib,tolong,maaf,terima kasih

Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad...

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 13:21 WIB

Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad ke-16 – 17

Netizen, Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad ke-16 – 17 , jalan baduy,Jawa Barat,dipati ukur

Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan

Netizen Kamis, 29 Juli 2021 | 23:30 WIB

Efek samping dari narasi seram itu lebih cepat menjalar dari pada pengaruh berbagai obat dan vitamin yang saya konsumsi.

Netizen, Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan, Pandemi,Narasi,Realitas,Kasus Covid-19,Isolasi Mandiri,obat covid-19,Virus Corona

GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!

Netizen Rabu, 28 Juli 2021 | 20:15 WIB

Indonesia-Amerika Serikat telah membuat sejarah panjang dalam latihan militer bersama atau pertukaran perwira militer.

Netizen, GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!, GARUDA SHIELD,Militer,Indonesia,Amerika Serikat

Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB

Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dari virus flu lainnya.

Netizen, Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?, Seruan Berpartisipasi,Mengatasi Covid-19,COVID-19,Virus Corona

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen, Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI), UNI,sidolig,Persib,sepakbola,bandung,Teddy Kessler,Wim Kuik

Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand

Netizen Senin, 26 Juli 2021 | 23:00 WIB

Alasannya, karena susu Bear Brand diyakini dapat meredakan paparan Covid-19.

Netizen, Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand, Fakta,Susu,Bear Brand,COVID-19,Sehat,Hoaks

artikel terkait

dewanpers
arrow-up