web analytics
  

[Lipkhas] Kisah Radio Malabar, 'Gerbang Rindu' Belanda-Indonesia via Lembah Puntang

Kamis, 9 Januari 2020 17:04 WIB Nur Khansa Ranawati

Gedung Stasiun Radio Malabar di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung pada saat masih beroperasi. (Dok. Tropenmuseum) (Ist)

CIMAUNG, AYOBANDUNG.COM -- Lebih dari seratus tahun lalu, seorang peneliti bidang elektro asal Belanda, Dr. Ir. CJ de Groot menemukan hal istimewa dari daerah pegunungan di selatan Bandung. Kala itu, Gunung Puntang dan Gunung Haruman beserta lembah di antaranya dipandang sebagai lokasi ideal untuk membuka gerbang "penyambung rindu" antara Hindia Belanda dan kampung halamannya.

Hal tersebut tercetus setelah sebelumnya pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan Post, Telegraaf en Telefoon Dienst (PTT) meminta de Groot untuk membangun sambungan komunikasi nirkabel antara Belanda dan negara-negara jajahannya. Pasalnya, sambungan komunikasi via telegraf kabel yang telah lama digunakan dianggap tidak efektif lagi.

Mulai dari bencana alam seperti letusan Anak Krakatau hingga konflik di negara-negara yang dilalui kabel sambungan optik, komunikasi via telegraf kabel bawah laut dinilai rentan terputus. Dana sebanyak 5 juta gulden kemudian digelontorkan pemerintah Hindia Belanda untuk de Groot dan tim-nya pada sekitar tahun 1911. Serangkaian eksperimen pun dilakukan.

AYO BACA[Lipkhas] Bosscha, Juragan Teh Malabar yang Banyak Berjasa 

malabar3

Dr. Ir. C.J. de Groot. (Dok. Kantor Wisata Gunung Puntang)

Membangun Stasiun Uji Coba

Bidang komunikasi nirkabel adalah hal yang familiar di tangan de Groot, mengingat dirinya juga telah melakukan sejumlah penelitian serupa di berbagai daerah di Hindia Belanda seperti Situbondo, Kupang, hingga Ambon. De Groot mengamati cara para kapal laut berkomunikasi dengan daratan.

"Dari sana dia kemudian mengaplikasikan ilmunya untuk menyambungkan Hindia Belanda dengan Belanda. Lembah di Gunung Puntang itu mengarah langsung ke Belanda sehingga dinilai sebagai lokasi yang paling cocok," ungkap pegiat sejarah komunitas Aleut, Hevi Abu Fauzan, pada Ayobandung.com.

AYO BACA : [Lipkhas] Menelusuri Sejarah dan Keasrian Alam Gunung Puntang Bandung

Hevi mengatakan, de Groot kemudian berupaya membangun stasiun-stasiun pemancar dan penerima pesan telegraf via udara alias radiotelegrafi. Stasiun-stasiun ini dibangun di sejumlah daerah di Bandung Raya meliputi Padalarang, Cimindi, Rancaekek, Dayeuhkolot, Cangkring, dan Cililin.

Stasiun-stasiun pengiriman dan penerima pesan tersebut merupakan bagian dari rangkaian uji coba teknologi radiotelegrafi yang dikembangkan de Groot dan rekan-rekannya. Penelitian dan pengetesan berlangsung hingga 1917. Pada tahun tersebut teknologi ini dinilai berhasil diterapkan dengan diterimanya telegraf di stasiun Cangkring.

"Barulah kemudian de Groot membangun stasiun pemancar yang lebih besar, yakni di Gunung Puntang dengan perangkat yang lebih canggih agar bisa mengirim dan menangkap pesan hingga ke Belanda," ungkapnya.

malabar2

Bentangan kabel radio yang dipasang sepanjang 3 kilometer antara Gunung Puntang dan Gunung Malabar. (Dok. Kantor Wisata Gunung Puntang)
Tenaga pun dikerahkan untuk membangun stasiun radio pemancar yang megah di lembah antara Gunung Puntang dan Haruman. Aspal jalan dipasang, gedung-gedung peristirahatan pegawai dibangun di sekitaran stasiun radio yang kemudian dinamai "Stasiun Radio Malabar" tersebut.

Pembangunan Radio Malabar berlangsung sejak 1920 dan diresmikan pada 5 Mei 1923 oleh Gubernur Jenderal de Fock. Kala itu, telah terpasang antena raksasa dengan panjang sekitar 3 meter yang membentang antara Puncak Gunung Puntang dan Haruman. Komunikasi dengan radiotelegrafi pun telah berlangsung.

Menyapa lewat suara

Tak berhenti sampai di sana, selepas sambungan telegraf nirkabel berhasil dieksekusi, teknologi komunikasi tersebut terus dikembangkan. Hingga akhirnya pada 1927, sambungan radio suara perdana berhasil tersambungkan. Percakapan suara dua arah antara Bandung dan Den Haag berhasil ditangkap.

"Hallo Bandoeng! Hier Den Haag!"

AYO BACA : [Lipkhas] Cerita Patung Bugil Citarum, Tanda Terhubungnya Bandung-Den Haag

(Halo Bandung! Ini Den Haag!)

Demikian bunyi percakapan yang banyak dikenang sebagai kalimat pertama yang berhasil ditransmisi antara dua kota ini. Setelah sambungan tersebut, teknologi radio komunikasi suara menjadi hal yang rutin digunakan oleh para warga Belanda kepada keluarganya yang terpisah ribuan kilometer.

"Sejak saat itu banyak lahir kisah-kisah menarik dari orang-orang Belanda di negara jajahannya dengan sanak keluarga di Belanda," tulis Her Suganda dalam bukunya Jendela Bandung, Pengalaman Bersama KOMPAS (2007).

malabar1

Suasana ruang teknis Stasiun Radio Malabar. (Dok. Kantor Wisata Gunung Puntang)

Salah satunya yang terkenal adalah sebagaimana yang termaktub dalam lirik lagu "Hallo Bandoeng" ciptaan musisi Willem Frederik Christiaan Dieben (1886-1944). Lagu yang dirilis pada 1929 ini menceritakan percakapan dengan suasana haru antara seorang ibu di Belanda dan anaknya di negeri jajahan.

Sambungan telepon tersebut kemudian dikomersialkan pada 1929 sebagai saluran telepon oleh Queen-Mother Emma. Orang yang ingin melakukan sambungan telepon dapat berkunjung ke kantor telepon sentral untuk kemudian melangsungkan komunikasi.

Namun, kejayaan Stasiun Radio Malabar tidak berlangsung lama. Belasan tahun kemudian, stasiun radio tersebut dikuasai Jepang yang mulai merangsek masuk membersihkan sisa-sisa kekuasaan kolonial Belanda di Hindia Belanda. Selepas Jepang pergi, bangunan stasiun radio ini dihancurkan bersamaan dengan momen Bandung Lautan Api oleh para warga Indonesia angkatan muda karyawan PTT.

Hingga saat ini, sisa reruntuhan Stasiun Radio Malabar beserta gedung-gedung peristirahatan karyawannya masih dapat dijumpai di komplek wisata Gunung Puntang. Mayoritas berupa susunan pondasi batu yang telah dimakan usia.

"Tetapi teknologinya terus diadaptasi oleh PTT yang sekarang menjadi cikal bakal PT Telkom dan PT Pos Indonesia. Aset-aset bekas Stasiun Radio Malabar dikuasai oleh PT Telkom," ungkap Hevi.

AYO BACA : 6 Wisata Seru di Gunung Puntang, Reruntuhan Bersejarah sampai Kemping Meriah

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers