web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Kopi dalam Rekaman Musik

Kamis, 9 Januari 2020 10:28 WIB Netizen Netizen

Piringan hitam yang berisi lagu “Iyskopi”. (Sumber: madrotter-treasure-hunt.blogspot.com)

AYOBANDUNG.COM -- Sejarah rekaman musik dan lagu Sunda tersebar dalam berbagai tulisan dan buku. Bila dikumpulkan, antara lain, dalam dua buku berbahasa Sunda: Padalangan (1942) karya M.A. Salmun dan Daja Swara Soenda (1950) karya Moech. A. Affandie. Bila Padalangan memusatkan perhatiannya pada bahasan mengenai perdalangan di Jawa Barat dan hanya menyentil sedikit ihwal rekaman lagu Sunda, Daja Swara Soenda meski tipis, seluruhnya bertalian dengan musik dan lagu Sunda.

Di luar kedua karya tersebut, sejarah dan perkembangan rekaman musik dan lagu Sunda dapat diikuti dari berbagai hasil penelitian. Antara lain, bisa disebutkan, makalah “The Sundanese Traditional Music in Radio Broadcasting, 1930s-1950s” (2001) oleh Shota Fukuoka; “The Relevance of Snouck Hughronje’s recordings of Sundanese Music (1905-1906)” (2011) dan “Some notes on the pantun storytelling of the Baduy minority group: Its written and audiovisual documentation” (2016) oleh Wim van Zanten; Music and media in the Dutch East Indies: Gramophone records and radio in the late colonial era, 1903-1942 (2013) oleh Philip B. Yampolsky; dan The recording industry and ‘regional’ culture in Indonesia: the case of Minangkabau (2016) oleh Suryadi.

Dari berbagai sumber di atas, saya jadi mengetahui bahwa tembang Sunda merupakan musik pertama di Indonesia yang direkam pada mesin bicara (fonograf). Ini dilakukan G. Tesséro pada 1892. Mengenai hal ini Suryadi (2016) membuktikannya melalui pemberitaan Selompret Melajoe edisi 27 September 1892. Ahli musik Benjamin Ives Gilman merekam pada piringan fonograf musik gamelan dari Parakan Salak yang ditampilkan pada The World’s Columbian Exposition di Chicago (1893). Rekamannya kini ada di Library of Congress, Amerika Serikat.

AYO BACA: Warna Kopi

Kemudian pada 1905, Snouck Hurgronje merekam rajah pantun Sunda dengan menggunakan piringan lilin (wax cylinder). Hasil rekamannya pada Cylinder I-10, yang disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, berjudul “Djampe njawer. Lagoe Galoeh” (Van Zanten, 2016). Dalam Pantjaran Warta edisi 17 Agustus 1911 ada iklan penjualan 36 piringan Odeon 26201-26236, yang berisi musik Islam dan tembang Sunda serta gambang rancag. Pada Juli 1913, perusahaan asal Jerman, Lyrophon, mengiklankan “Repertoir in allen Kultursprachen” yang di antaranya berupa rekaman musik Sunda. Selanjutnya pada 1930-an, ahli musik Jaap Kunst membuat rekaman musik gamelan dan tembang Sunda pada 78 piringan hitam.

Menurut perhitungan Yampolsky (2013), antara 1903-1917, dihasilkan 601 rekaman musik dan teater yang ada di Jawa Barat atau 16,57% dari keseluruhan piringan hitam yang ada di Hindia Belanda. Jumlah tersebut terdiri dari gamelan Sunda, kacapi-suling, wayang golek dan wayang orang, reog dan ogel, serta gamelan Cirebon. Pada fase 1930-1942, rekaman musik Sunda kian meningkat. Jumlahnya mencapai 1620 rekaman atau 16,68% dari total yang terbit di Hindia Belanda. Jenis musiknya adalah gamelan Sunda, kacapi-suling, wayang golek dan wayang orang, reog dan ogel, ketuk tilu, angklung, penca, degung, longser, pantun Sunda, tarawangsa, musik Sunda yang menggunakan pekakas Barat, gamelan Cirebon, dan yang tidak terklasifikasi.

Sejak 1930-an, musik dan teater Sunda dalam bentuk tampilan langsung maupun piringan hitam mulai mengudara dari stasiun radio yang ada di Bandung dan Jakarta. Hal ini seiring dengan didirikannya stasiun radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Matschappij) pada 1934 dan VORL (Vereeniging Oosterse Radio Luisteraars) pada 1935 (Fukuoka, 2001). Tidak heran, bila pesinden dan jurutembang seperti Nji Moersih, Nji Iti Narem, Nji Resna, Nji Mas Djoedjoe, Nji Ito, Nji Anah, Nji Djoelaeha, Nji Mene, Njimas Soehari dan lain-lain sering tampil di corong radio. Demikian pula “bobodoran” atau Ogel Menir Moeda, wayang golek dengan Dalang R.O. Partasoewanda, dan lain-lain.

AYO BACA: Kopi Kekes

Dari sejarah dan perkembangan tersebut, yang membikin lebih tertarik lagi adalah ditemukannya lagu Sunda yang berkaitan dengan kopi pada salah satu piringan hitam. Rekaman tersebut sudah dialih-mediakan menjadi format mp3 dan dimuat dalam situs madrotter-treasure-hunt.blogspot.com. Judul lagunya “Ijskopi” atau “Es Kopi” yang direkam di atas piringan hitam merek “Delima” yang bergambar dua kepala kuda.

Lagu Sunda berdurasi 3 menit 9 detik itu dinyanyikan oleh Njimas Soehari dan diiringi Orkest Sekar Galih. Dari lagu yang liriknya terdiri dari empat bait itu, yang berkaitan dengan kopi ada pada bait pertama dan kedua. Pada bait pertama terdengar, “Ijskopi mah agan dina dasaran, direndengkeun geuning jeung kopi susu/abdi nampi agan sok ka gamparan, ngan bae ulah rek ...” (Es kopi sudah disajikan, berdampingan dengan kopi susu/saya terima tuan, hanya saja jangan ...). Sayang kata setelah “rek” tidak jelas saya dengar, sehingga saya tidak dapat menuliskan katanya.  Sementara pada bait kedua yang terdengar sebagai berikut, “Ijskopi mah aduh dijingjing-jingjing, dijual mah agan ka pasar Bandung/Nyeri asih aduh sok ngajangjawing, gamparan ulah rek pundung” (Es kopi dijinjing-jinjing, dijual ke pasar Bandung/Sakit karena cinta menyebabkan derita, janganlah tuan merajuk).

AYO BACA : Pecandu Kopi

Pada penelusuran selanjutnya, terutama dari fase setelah Indonesia merdeka, saya menemukan beberapa judul lagu Sunda lagi yang berkaitan dengan kopi. Penelusuran tersebut yang saya temukan dalam bentuk ketuk tilu, kliningan, pop Sunda, jaipongan, dan lain-lain. Paling tidak, lagu-lagu yang saya temukan tersebut berjudul “Tjai Kopi”, “Warung Cikopi”, “Tukang Kopi”, “Warung Kopi”, “Kopi Manis”, “Kopi Susu”, “Kembang Kopi”, “Sagelas Cai Kopi”, “Buah Kopi”, dan “Buah Kopi Pileuleuyan”. Semuanya bersumber dari alih media kaset pita yang diunggah dalam situs madrotter-treasure-hunt.blogspot.com.   

Foto-02

Lilis Suryani mulai terkenal dengan menyanyikan “Tjai Kopi” yang diciptakan Muslihat. (Sumber: madrotter-treasure-hunt.blogspot.com)

Lagu “Tjai Kopi” diciptakan oleh Muslihat atau Mus K. Wirya. Lagu ini menurut kabar Selecta (1968) ikut melambungkan nama penyanyi yang pertama kali mendendangkannya, Lilis Suryani, pada 1962. Katanya, “Ketika Lilis menjanjikan lagu ‘TJAI KOPI’, sebuah lagu tjiptaan Muslihat dengan iringan orkes ‘SUITA RAMA’ jang sudah di-ph-kan. Lalu ph ini disiarkan via RRI”. Namun, menurut Remy Sylado, dalam Perempuan Bernama Arjuna 6: Sundanologi dalam Fiksi (2017), lagu tersebut mengalami pelarangan di Bandung, karena berkaitan dengan nuansa keagamaan. Selengkapnya, menurut Remy, “Mula-mula ‘Cai Kopi’ pada 1962, dinyanyikan oleh Lilis Suryani, diikuti pelarangannya di Bandung, karena keberatan orang di Priangan Timur yang menyebutkan bahwa melodi lagu ini diambil dari tradisi baca ayat suci Al-Quran di daerah itu.”

Sementara dari liriknya, yang berkaitan dengan kopi ada pada bait kedua, yang merupakan refrain yang pertama. Bunyinya, “Cai cai kopi kopi, peupeuriheun dileueut moal/Calik calik sareng abdi, peupeuriheun pacaket moal” (air, air, kopi, kopi, meski takkan diminum/duduk, duduk, bersamaku, meski takkan berdekatan). Bila dilihat dari susunannya, bait ini diambil dari sisindiran (pantun). Lagu “Cai Kopi” juga dimuat dalam album Seni Sunda Kumis Baplang oleh Hindun Komalasari.

Foto-03

Kosaman Jaya, pencipta lagu “Warung Cikopi”. (Sumber: Facebook)

Lagu selanjutnya adalah “Warung Cikopi” atau “Tukang Kopi”. Lagu ciptaan Kosaman Jaya ini sering diulang-nyanyikan oleh para penyanyi Sunda, antara lain, oleh Yayah Ratna Sari (Si Bungsu) dalam album Jaipongan Asli Karawang Group dengan tajuk Tukang Kopi-Cium Seribu. Sementara Asep Sunandar Sunarya dan Detty Kurnia berduet menyanyikannya dalam Lagu Humor Band Buta (1988). Sementara lagu “Tukang Kopi” dimuat dalam album Ketuk Tilu Karawang Cikalong Hideung oleh Si Kinyang Aminah.

Memang lagu “Warung Cikopi” berisikan semacam dialog antara seorang lelaki, pembeli kopi dengan seorang perempuan tukang jual kopi, yang tampaknya juga menjadi sepasang kekasih. Mula-mula si laki-laki kopi yang rasa manis dan pahitnya pas (“Neng, kopina hiji, sing karasa amis paitna”), tetapi si penjual tidak mau kalau hanya untuk mengutang lagi (“Ah.. abdi mah embung, lamun dianjukan wae ...”), apalagi kalau mengutangnya rasa cintanya (“Keun dianjuk kopi, asal ulah dianjuk hate”).

Si lelaki kemudian malah menjawabnya bahwa pada bulan Zulhijjah akan langsung dibayar sekalian dengan mas kawin (“Bulan Rayagung, dibayar jeung mas kawinna”). Disusul satu sisindiran yang terdiri dari empat larik sampiran dan empat larik isi, yang mengutarakan kebiasaan menggoda si lelaki bila berdekatan dengan si perempuan. Namun, si perempuan seakan mengancam, bila menggoda tidak akan dilayani (“Mun dengkleung dengdek, buah kopi raranggeuyan, raranggeuyan mah teu dipotongan/Lamun padeukeut osok resep ngaheureuyan. Ey.. mun ngaheureuyan, moal.. rek diladangan”).

Dua bait selanjutnya digambarkan keadaan warung kopi saat tengah malam yang sepi, dibarengi hujan gerimis, sehingga si lelaki enggan pulang karena harus menanjak (“Warung cikopi, tengah peuting ku sararepi, hujan miripis, rek mulang jauh ka tonggoh”). Di sisi lain, bagi si perempuan, meskipun jualannya tidak laku sehingga merugi, tetapi agak mending karena dikawani kekasih (“Dagang Cikopi teu payu taya nu meuli, sanajan rugi dibaturan ku kabogoh”).

Foto-04

Selain dikenal sebagai dalang wayang golek yang kondang, Asep Sunandar Sunarya dikenal pula sebagai penyanyi pop Sunda. Salah satu lagu yang dinyanyikannya adalah “Warung Cikopi”. (Sumber: madrotter-treasure-hunt.blogspot.com)

AYO BACA : Motif Kopi Batik Priangan

Demikian pula dalam lagu “Warung Kopi”, yang bisa disimak dari album Kliningan Kombinasi berjudul Warung Kopi yang dinyanyikan oleh Djudju Djumiati. Demikian pula dalam album Jaipongan 81 Warung Kopi oleh Juju Juleha; Kliningan Dangdut Wandasari oleh R. Euis Gartika; dan 13 Lagu Top Hits Kesenian Sunda oleh Lona Susan.

Dalam lagu dinyanyikan oleh Djudju, liriknya diciptakan BRS. Di sana digambarkan fenomena warung kopi di jalanan kota dan desa (“Ilahar di mana-mana, di kampung sareng di kota/Paragpag di sisi jalan, warung kopi pasti aya”). Warung tersebut diusahakan masyarakat bawah untuk penghidupannya. Yang dijualnya selain kopi, ada wajit dan ranginang dalam toples, serta tandan pisang digantungkan.

Para pembeli biasanya lelaki, yang ngopi sambil mengobrol, dan akan sangat tertarik bila pelayannya perempuan montok. Saat sepi malam, warung kopi menarik minat pembeli dari mana-mana (“Komo mun peuting geus sepi, warung kopi narik resmi/nu ti mana nu ti mendi areureun di warung kopi”). Itu disampaikan oleh penyanyi perempuan, yang kemudian dijawab penyanyi laki-laki yang mewakili pembelinya, dengan isinya menyatakan menikmati kopi kental manis sekaligus menyampaikan rasa ketertarikannya kepada si perempuan penyaji kopi (“Kopi ledok manis, semanis anu dagangna”). 

Hal senada digambarkan dalam lagu “Kopi Manis” yang dinyanyikan Cucun Cunayah dalam album Jaipongan Kombinasi berjudul Kopi Manis. Dalam lagu yang berdurasi 7 menit 3o detik itu ada dialog antara penyanyi perempuan dan laki-laki, yang mewakili pelayan warung kopi dan pembelinya. Pada awal lagu dapat disimak liriknya sebagai berikut, “Mampir heula, linggih heula. Mangga atuh raosan heula kopi manis, enteh tubruk. Kueh apem haneut keneh. Mun tos nyobi, deudeuieun kopi manis sareng susu. Nu dagangna ge pasti kataji, Akang pasti ngalanggan” (Mampir dulu, duduk dulu. Sila cicipi kopi manis atau teh tubruk. Kue apam masih hangat. Bila telah mencoba, tentu ketagihan kopi manis dicampur susu).

Selain album Jaipongan Kombinasi, lagu “Kopi Manis” juga dimuat dalam album Kliningan Jaipong Kacapi Kuring oleh Cucun Cunayah; Tayuban Modern '95 oleh Itih, yang menyertakan keterangan bahwa liriknya ditulis oleh Iip Bakir; dan Kliningan Dangdut Kereta Langsam oleh Pipin Supini.

Duet antara penyanyi perempuan dan lelaki juga digunakan dalam lagu “Kopi Susu”. Lagu yang dimuat dalam album bertajuk Kopi Susu dan diselenggarakan Seni Sunda Gentra Maya ini dinyanyikan Mimi Maryami dan Dadi Rosadi. Yang berkaitan dengan kopi susu terdapat dalam bagian awal yang dinyanyikan Mimi dan Dadi bersamaan dalam bentuk sisindiran. Sisindirannya berbunyi “Buah sawo buah katapang, kopi susu kopinya campur/Cari jodoh tidaklah gampang, harus tahu istri yang jujur”.

Setelah itu, Mimi menyanyikan lirik “Rumasa abdi mah hideung, rek milih nu kulit bodas, sangkan anak kopi susu, bodas henteu hideung henteu” (Saya akui kulit saya hitam, hendak mencari jodoh berkulit putih, agar punya anak berkulit seperti kopi susu, tidak putih tidak pula hitam). Lirik tersebut kemudian ditimpali Dadi, “Rumasa akang mah pendek, rek milari istri nu jangkung, sangkan anak jadi sedeng, jangkung henteu pendek henteu” (Saya akui tinggi badan yang pendek, hendak mencari istri yang jangkung, agar anak tingginya sedang, tidak jangkung tidak pula pendek).

Selain itu, lagu “Kopi Susu” dimuat dalam beberapa album, antara lain, Kisah Saidah oleh Aan Darwati; Jaipongan 82 Meunang Belut oleh Umay Mutiara; Ketuk Tilu Kumis oleh Etty Rochaeti S.; Ketuk Tilu Jaipongan Buah Ketimun oleh Anes Anengsih Tati Sunarya; Tanji Modern Motor Mogok oleh Cucun Cunayah; Klasik Biola Peuting Kamari oleh Emi Nurhayati; album Kagembang oleh Dedeh Winingsih; Tepak Jaipongan 82 Sungkan Paturay oleh Yayah Ratnasari; album Degung Parahyangan secara rampak sekar; Sweet Song Sunda vol 1. Haturkeun Slamet oleh Nanin Sudiar; dan pada album Kliningan Dangdut Pangalaman ti Payun. Dengan banyaknya kaset yang memuat lagu “Kopi Susu”, saya pikir, lagu tersebut sangat digemari baik oleh para penyanyi maupun pendengarnya.

 Ada juga lagu “Kembang Kopi” yang dimuat dalam album Jaipong Anyar berjudul Beureum Jagong. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Dudeh Dewangsih. Isi liriknya mengaitkan fenomena bunga kopi yang kelopak-kelopaknya berguguran, putih seperti kapas dan keharumannya menyebar karena terbawa angin, dengan kekasih hati yang sedang dinanti-nanti (“Kembang kopi sariwangi, panineungan diri abdi, panyileukan siang wengi nu memang dianti-anti, kembang kopi sedeng ligar mayak bodas lir kapas, seungitna angin-anginan lir wangi asih panutan”). Setelah itu, disusul dengan sisindiran, di antaranya “Dengkleung kaliki, kembang kopi sisi lamping/Ingkeun anu abdi, geuningan bet asa pangling” (Dengkleung kaliki, bunga kopi di sisi lereng/Biarkan milikku, ternyata terasa pangling).

Terakhir, saya temukan juga lagu Sunda yang berjudul “Sagelas Cai Kopi” dalam album Pencak Kohkol (cakol) Kolear Kalayang Leupas yang dinyanyikan Cucu Cartika; lagu “Buah Kopi” dalam album Kliningan Sunda Jalan-Jalan oleh Euis Rohaeni; dan lagu “Buah Kopi Pileuleuyan” dalam album Gamelan Seni Sunda Jadi Panganten oleh Tetty Djaswati.

Ternyata setelah tahun 1945 banyak juga lagu-lagu Sunda yang diilhami oleh budidaya dan budaya kopi. Apakah pada fase 1892-1942, yang menghasilkan rekaman musik dan lagu Sunda sebanyak 2000-an lebih rekaman sebagaimana hasil penelitian Yampolsky dan lain-lain, juga banyak lagu yang menggunakan kata kopi? Meski hanya mendapatkan satu judul yaitu “Ijskopi”, barangkali kalau saya dapat mengaksesnya niscya lagu-lagu Sunda yang diilhami kopi akan banyak ditemukan. Mudah-mudahan.

*Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYO BACA : Sisindiran Kopi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers