web analytics
  

Dosen IPB Ajarkan Sertifikasi Halal Ternak Kelinci

Rabu, 1 Januari 2020 07:19 WIB
Umum - Nasional, Dosen IPB Ajarkan Sertifikasi Halal Ternak Kelinci, ipb, dosen ipb, sertfikasi hala, berternak kelinci halal

Kegiatan Dosen Mengabdi IPB Unversity memberikan bimbingan teknis kepada peternak kelinci potong. (Dok. IPB)

BOGOR, AYOBANDUNG.COM--Kegiatan Dosen Mengabdi IPB University kembali hadir menyapa masyarakat. Masyarakat yang disapa kali ini merupakan para peternak dan pecinta kelinci dari berbagai wilayah Bogor dan sekitarnya. 

Acara yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini bertemakan tentang "ASUH Kelinci Kita". Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang berasal dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang sidang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), LPPM IPB University, Kampus Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (14/12).

Kegiatan yang berupa bimbingan teknis (bimtek) ini dihadiri oleh 30 peserta. Mereka  mayoritasnya merupakan para peternak kelinci. Hadir sebagai salah satu narasumber, Dr Ir Henny Nuraini, M.Si membawakan sebanyak dua materi, yaitu tentang  "Sertifikasi Halal pada Industri Peternakan Kelinci" dan "Teknik Pemotongan yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH)".

Dr Henny memaparkan, daging kelinci memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan daging dari jenis ternak lain. Daging kelinci memiliki kadar protein lebih tinggi; memiliki kadar lemak, kolesterol, dan garam lebih rendah; serta mengandung senyawa kitotefin, yang disinyalir merupakan obat dari penyakit asma.

“Sayang sekali masyarakat di Indonesia belum begitu terbiasa dengan jenis daging yang satu ini. Salah satu penyebab kurang akrabnya masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi daging kelinci adalah terkait dengan status kehalalan dagingnya,” kata Henny dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Pada bimtek ini, para peserta diedukasi mengenai standar penentuan kehalalan suatu makanan, khususnya daging. Selain mengedukasi bagaimana teknik pemotongan kelinci yang benar, konsep ASUH ini sendiri merupakan suatu standar kualitas daging kelinci nantinya. 

“Penerapan standar Aman, Sehat, Utuh, dan Halal ini akan semakin membuat masyarakat lebih yakin untuk mengkonsumsi daging kelinci karena kualitasnya akan lebih terjamin,” ujar Henny.

Tidak kalah menarik dengan Dr Henny, hadir Dr Komariah menyampaikan materi terkait "Teknologi Pengawetan dan Penyamakan Kulit". Ia  menuturkan, selama ini para peternak kelinci memang lebih memfokuskan untuk menghasilkan produk berupa daging  beserta olahannya. “Padahal, kulit dari kelinci pun akan memiliki nilai tambah yang menarik jika dikelola secara tepat,” kata Komariah.

Selain dijadikan bahan dasar pada industri pembuatan tas, sepatu, ataupun jaket, kulit kelinci yang sedikit baret tampilannya tetap dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi kerupuk kulit atau krecek untuk dikonsumsi. “Hal ini pun termasuk ke dalam upaya pengurangan limbah hasil produksi,” kata dosen IPB University ini.

Kegiatan ini turut menjadi wadah penyampaian aspirasi para penggiat usaha kelinci terhadap pemerintah. Turut hadir sebagai salah satu partisipan, drh Patriantariksina Randusari, MSi yang berasal dari Dinas Pertanian Kota Bogor. 

Ia sangat antusias dalam mendengarkan dan merespons aspirasi dari para peternak kelinci tersebut. "Saya harap kegiatan seperti ini dapat dijadikan agenda rutin. Dengan adanya kegiatan seperti ini, industri kelinci akan semakin dikenal di kalangan masyarakat luas dan pemerintah,” kata Patriantariksina.

Peserta menghimbau agar wacana-wacana bagus yang hadir di acar bimtek itu  dapat ditindaklanjuti, khususnya untuk rumah potong kelinci. “Tanpa adanya dukungan dari pemerintah, peternak seperti kami ini akan sulit sekali maju,” ujar Ahmad Syahril, salah satu peserta yang berasal dari komunitas Bogor Rabbit Center.

Henny berharap, semoga peternakan kelinci di Indonesia akan terus berkembang dan maju menjadi sebuah industri yang besar, layaknya industri dari berbagai ternak seperti ayam dan sapi. “Dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak agar usaha peternakan kelinci dapat menjadi industri besar,” kata Henny. 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers