web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Pahlawanku, Ibu!

Minggu, 22 Desember 2019 11:37 WIB Netizen Netizen

Ilustrasi. (Google)

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki

Penuh darah penuh nanah

 

Seperti udara

Kasih yang engkau berikan

Tak mampu 'ku membalas

Ibu

Ibu

 

Potongan lagu berjudul Ibu karya musisi legendaris Iwan Fals itu seakan mengiris hati saat tumbuh rasa rindu kepada ibu. Terlebih kepada kami, mahasiswa yang harus merantau untuk mengejar mimpi. Lagu yang sudah diperdengarkan di Youtube lebih dari 18 juta kali ini mengangkat kisah perjuangan seorang ibu yang rela berkorban untuk sang anak. 

Anak adalah anugrah bagi seorang ibu, begitupun ibu bagi anak. Tiada kasih yang setara ibu untuk anaknya. Namun belakangan ini banyak berita anak aniaya ibunya sendiri. Beberapa diantaranya, Terlibat Cekcok, Heri Aniaya Ibu Kandung Hingga Kritis, Seorang Anak Aniaya Ibu karena Tak diberi Uang, Anak Kandung Tega Aniaya Ibunya yang Baru Pulang Sawah, dan lain sebagainya. Miris hati saya saat membaca berita-berita tersebut. Tidak percaya dengan rasa miris yang saya rasakan? Coba saja ketik di google “berita anak aniaya ibu” dan baca berita-berita tersebut. Jika kamu sedang berada jauh dengan ibu, saya pastikan kamu langsung ingin menghubungi ibumu.

Dari semua berita, ada satu berita yang mencampuradukan perasaan saya. Yaitu berita anak aniaya ibu yang ada di Surabaya bulan agustus lalu. Aksi anak tersebut direkam oleh kakaknya yang geram terhadap sikap adiknya yang kasar. Pemicunya sepele, pelaku marah karena tidak diberi uang. Video tersebut sempat viral di media sosial. 

Lantas apakah anak tersebut diberikan sanksi tegas? Ya, pelaku dilaporkan oleh kakak-kakak nya ke pihak yang berwajib. Namun, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, tiada kasih yang setara dengan ibu, ibu meminta pelaku tidak ditahan. (INews Siang 22/8)

Kesal, marah, sedih saat mengetahui ada seorang anak yang seakan tak punya hati hingga berani menganiaya ibu kandungnya sendiri. Sedih, takjub, dan bangga terhadap ibunya yang masih mau menerima dan memaafkan anaknya hingga tak harus ditahan. Bisa dilihat bagaimana kasih seorang ibu memang tak tertandingi. 

Hari Ibu Nasional

22 Desember adalah hari dimana rakyat Indonesia merayakan hari Ibu Nasional. Besarnya jiwa seorang wanita terutama ibu membuat Indonesia menetapkan hari untuk merayakan seraya mengingat bagaimana mulianya sosok ibu bagi semua orang. Hari ini menjadi ajang mengungkapkan cinta kasih kepada sosok ibu. Walau tentu saja seharusnnya mengungkapakan rasa cinta dan kasih kepada ibu dilakukan setiap hari. Lantas bagaimana sejarahnya?

Dilansir dari fimela.com, pada awalnya hari perempuan akan ditetapkan pada tanggal 21 April yang sekarang menjadi Hari Kartini karena Kartini menjunjung emansipasi perempuan nasional. Namun banyak yang tidak setuju dan beranggapakan bahwa Kartini hanya berjuang di Jepara dan lebih pro-Belanda. Oleh karena itu, Soekarno memutuskan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional sebagai hari mengenang pahlawan perempuan alias pahlawan kaum ibu-ibu. Pada akhirnya, semua orang menyetujuinya.

Dibalik itu, dilansir dari tirto.id, Penetapan 22 Desember sebagai peringatan Hari Ibu mengacu pada pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I yang dihelat tanggal 22-25 Desember 1928, atau hanya beberapa pekan setelah Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Tanggal hari pertama Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 inilah yang kemudian menjadi acuan bagi pemerintah RI untuk menetapkan peringatan Hari Ibu, yang diresmikan oleh Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1959.

Slamet Muljana dalam buku Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), memaparkan dua tahun setelah kongres pertama itu, kaum perempuan di Indonesia itu menyatakan bahwa gerakan wanita adalah bagian dari pergerakan nasional. Dengan kata lain, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan martabat nusa dan bangsa.

Dapat disimpulkan bahwa pada awal tanggal ini dipilih, tujuannya untuk merayakan semangat perempuan Indonesia serta meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Namun seiring berjalannya waktu, Hari Ibu menjadi peringatan masyarakat dalam menyatakan rasa cinta terhadap ibu.

Walau Hari Ibu menjadi ajang mengungkapkan cinta dan kasih kepada ibu, makna dari Hari Ibu yang ada dalam sejarah juga tidak lepas hingga sekarang. Para ibu tak lepas dari definisi pahlawan, bagaimana ibu mengerjakan pekerjaannya, mencari uang sekaligus menjaga anaknya, mengerjakan pekerjaan rumah tanpa kenal lelah, bahkan tak sedikit adanya seorang ibu yang berjuang sendirian untuk membesarkan anaknya.

Setiap ibu di dunia adalah pahlawan untuk setiap keluarga, terutama di hati anak-anaknya. Maka jika ada seseorang yang berani menyakiti ibunya sendiri hingga bermaiin fisik seperti memukul, menendang, dan lain-lain, sungguh keji dan durhaka kamu kepada ibumu. Saat kita mengatakan “ah” dan keluh kesah lainnya saja, kita sudah menyakiti hati ibu. Bagaimana jika sampai memukul?

Tak hanya untuk anak kepada ibunya, laki-laki kepada semua perempuanpun sama. Perempuan adalah sosok yang harus dimuliakan. Tidak untuk disakiti apalagi dilecehkan. Namun bukan berarti anggap perempuan lemah. Saling menghargai satu sama lain apakah sulit? Tidak bukan? Tidak ada salahnya menghargai sesama umat manusia.

Untuk pada laki-laki diluar sana, jika kamu menyakiti hati perempuan, maka tak berbeda dengan kamu menyakiti ibumu. Begitupun dengan perempuan, bukan berarti kamu bebas menyakiti laku-laki, jika kamu menyakiti laki-laki, pun kamu seperti menyakiti ayahmu. Maka, hargailah satu sama lain, tebarkan cinta bukan benci.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel lainnya

dewanpers